BIMBINGAN DAN KONSELING

Mei 29, 2013 nuzulianiqarlina

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan segala puji syukur kepada atas Khadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memmberikan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini yang membahas tentang BIMBINGAN DAN KONSELING dan PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH DAN PERANAN GURU DALAM PELAKSANAANYA.
Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini.Pertama, kepada Drs. Aris Djinal selaku dosen pembimbing mata kuliah Profesi Kependidikan, kedua kepada pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan tidak kesempurnaan , karena itu, demi perbaikan makalah ini segala kritik, saran, tegur dan masukan yang membangun akan senantiasa kami terima dengan lapang hati. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi para mahasiswa.

Banjarmasin, 28 April 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Manfaat dan Tujuuan 3
BAB II BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling 4
B. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam
Pendidikan di Sekolah 11
C. Tujuan Bimbingan di Sekolah 12
D. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam
Pembelajaran Siswa 15
E. Landasan Bimbingan dan Konseling 17
F. Prinsip-Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling
di Sekolah 17
G. Asas-asas Bimbingan dan Konseling 20
H. Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling 20
I. Kode Etik Bimbingan dan Konseling 21
BAB III PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH DAN PERANAN
GURU DALAM PELAKSANAANNYA
A. Pengertian Program Bimbingan di Sekolah 24
B. Peranan Guru dalam Pelaksanaan 30
C. Kerja Sama Guru dengan Konselor
dalam Layanan Bimbingan 34
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 35
B. Saran-saran 36
DAFTAR PUSTAKA 37

BAB I
PEDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bimbingan Konseling merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah. Menurut Sertzer dan Stone, bimbingan merupakan proses membantu orang perorangan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya. Sedangkan konseling sendiri berasal dari kata latin “Consilum” yang berarti “dengan” atau “bersama” dan “mengambil atau “memegang”. Maka dapat dirumuskan sebagai memegang atau mengambil bersama.’
Pada bimbingan dan konseling di Indonesia, pelayanan konseling dalam sistem pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962. Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum 1975. Kemudian disempurnakan ke dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir didalamnya. Perkembangan BK semakin mantap pada tahun 2001 dan sampai saat ini terus berkembang
Pada bimbingan dan konseling di Dunia Internasional Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru. Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri. Tahun 1898 Jesse B. Davis, seorang konselor di Detroit mulai memberikan layanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907 dia memasukkan program bimbingan di sekolah tersebut. Pada waktu yang sama para ahli yang juga mengembangkan program bimbingan ini diantaranya; Eli Weaper, Frank Parson, E.G Will Amson, Carlr. Rogers.

Terlepas dari predikat guru bimbingan dan konseling, pada dasarnya guru adalah jabatan profesional yang harus dipertanggungjawabkan secara profesional pula. Guru adalah jabatan yang memerlukan keahlian khusus. Sikap, perilaku dan pemikiran seorang guru harus tercermin dalam idealismenya. Oleh karena itu, pemahaman atas jabatan guru penting artinya dalam rangka mengabdikan dirinya terhadap nusa, bangsa dan negara. Jenis pekerjaan ini seharusnya tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar lingkup pendidikan. Demikian pula halnya dengan jabatan fungsional guru bimbingan dan konseling yang sesungguhnya hanya dapat dilaksanakan secara optimal oleh mereka yang memang memiliki latar belakang kependidikan seperti itu. Jika suatu jabatan fungsional dilakukan oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan dan keprofesian yang benar, maka sangat besar kemungkinannya terjadi penyimpangan peri-laku, penyimpangan kegiatan, dan penyimpangan penafsiran di luar batas kewajaran yang seharusnya. Itulah yang terjadi dalam ruang lingkup bimbingan dan konseling di tingkat sekolah dasar pada dewasa ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka permasalahan yang hendak dikaji adalah:
1. Apa pengertian Bimbingan dan Konseling?
2. Bagaimana peranan guru dalam Bimbingan Konseling?
3. Apa tujuan Bimbingan Konseling di Sekolah?
4. Apa Fungsi dan Bimbingan Konseling?
5. Apa saja Langkah –langkah penyusunan program bimbingan
C. Manfaat dan Tujuan
1. Tujuan penyusunan makalah
a. Menjelaskan pengertian Bimbingan dan Konseling .
b. Menjelaskan bagaimana peranan guru dalam bimbingan konseling di sekolah
2. Manfaat penyusunan makalah
a. Untuk mengetahui pengertian bimbingan dan konseling.
b. Untuk mengetahui bagaimana peranan guru dalam bimbingan konseling di sekolah.

BAB II
BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan dua istilah yang sering dirangkaikan bagaikan kata majemuk. Hal ini mengisyaratkan bahwa kegiatan bimbingan kadang-kadang dilanjutkan dengan kegiatan konseling. Beberapa ahli mennyatakan bahwa konseling merupakan inti atau jantung hati dari kegiatan bimbingan. Ada pula yang menyatakan bahwa konseling merupakan salah satu jenis layanan bimbingan. Dengan demikian dalam sitilah bimbingan sudah termasuk di dalamnya kegiatan konseling. Kelompok yang sesuai dengan pandangan di atas menyatakan bahwa terminologi layanan bimbingan dan konseling dapat diganti dengan layanan bimbingan saja.
Untuk memperjelas pengertian kedua istilah tersebut, berikut ini dikemukakan pengertian bimbingan dan pengertian konseling.
1. Pengertian Bimbingan
Menurut Jones (1963), Guidance is the help given by one person to another in making choice and adjustments and in solving problems. Dalam pengertian tersebut terkandung maksud bahwa tugas pembimbing hanyalah membantu agar individu yang dibimbingmampu membantu dirinya sendiri , sedangkan keputusan terakhir tergantung kepada individu yang dibimbing (klien) (Jones 1963).
Ini senada dengan pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Rochman Natawidjaja (1978):

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Definisi bimbingan dikemukakan dalam Year’s Book of Education, 1955, Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Menurut Frank Miller (1961), Bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai pemahaman diri dan arah diri terutama untuk membuat penyesuaian terhadap sekolah, keluarga dan masyarakat umum.
Crow and Crow (1960) merumuskan bahwa, Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki pribadi terpercaya dan pendidikan yang memadai, baik ia pria atau wanita kepada seseorang individu berbagai tingkat usia agar mereka dapat mengendalikan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah titik pandangnya sendiri, membuat keputusan sendirindan memikul bebannya sendiri.
Sedangkan Rachman Natawijaya (1972) berpendapat bahwa, Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat.
Stoops dan Walquist mendefinisikan bimbingan adalah proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat. (Depdikbud, 1981).
Menurut Andi Mapiare (1984), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan secara metodis dan demokratis dari seseorang yang memiliki kompetensi memadai dalam menerapkan pendekatan, metode dan teknik layanan kepada individu (murid) agar si terbantu ini lebih memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri dan memiliki kemampuan nyata dalam mencapai penyesuaian, membuat pilihan dan memecahkan persoalan-persoalan secara lebih memedai sesuai dengan tingkat perkembangan yang dicapainya. Kesemuanya itu ditujukan untuk mencapai kesejahteraan mental dan kebahagiaan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.
Depdikbud dalam Kurikulum SMU 1994, Bimbingan merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
Pangaribuan (2005) mengintroduksi pendapat beberapa ahli yang menyatakan bahwa bimbingan ialah pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat pilihan, mengadakan penyesuaian, dan dalam memecahkan masalah. Bimbingan biasanya dipakai dalam dunia pendidikan untuk pertolongan yang diberikan kepada pelajar dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berada di luar situasi mengajar di kelas.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu itu dapat memahami diri, mengarahkan diri, membuat keputusan sendiri, memikul tanggung jawab sendiri dan bertindak wajar

Selanjutnya Bimo Walgito (1982: 11) menyarikan beberapa rumusan bimbingan yang dikemukakan para ahli, sehingga mendapatkan rumusan sebagai berikut:
Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada idividu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya, agar individu ata sekumpulan individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.

Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh banyak ahli itu, dapat dikemukakan bahwa bimbingan merupakan: (a) suatu proses yang berkesinambungan,(b) suatu proses membantu individu, (c) bantuan yang diberikan itu dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat mengarhkan dan mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan kemampuan/potensinya, dan (d) kegiatan yang bertujuan utama memberikan bantuan agar individu dapat memahami keadaan dirinya dan mampu menyesuaikan dengan lingkungannya.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

2. Pengertian Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara etimologis berarti “to give advice” (Homby: 1958:246) atau memberi saran dan nasihat.
Istilah konseling (counseling) diartikan sebagai penyuluhan. Pelayanan konseling menuntut keahlian khusus, sehingga tidak semua orang yang dapat memberikan bimbingan mampu memberikan jenis layanan konseling ini (Winkel, 1978)
Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru/konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahakn dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

Banyak ahli yang memberikan makna tentang konseling. Menurut James P. Adam yang dikutip oleh Depdikbud (1976: 19a):
Konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu di mana yang seorang (konselor) supaya dia dapat lebih baik memahami dirinya dalam hubungannya dengan masalah hidup yang dihadapinya oada waktu itu dan pada waktu yang akan datang.

Bimo Walgito (1982:11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara, dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya (Bimo Walgito 1982:11).
Mc. Daniel,1956 menjelaskan bahwa Konseling adalah suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinyasendiri dan lingkungan.
Smith,dalam Shertzer & Stone,1974 menjabarkan bahwa Konseling merupakan suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
Konseling, menurut Division of Conseling Psychologi merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu.
Berdnard & Fullmer ,1969 menjelaskan Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dariindividu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut.
Jones ,1951, mengartikan konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia dapat bantuan pribadi da langsung dalam pemecahan masalah itu.
Winkell (2005 : 34), mengemukakan bahwa Konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli / klien secara tatap muka langsung dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap bebagai persoalan atau masalah khusus maka masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi semuanya.
Hal senada juga dikemukakan oleh Blocher dalam Shertzer & Stone (1969), Konseling adalah membantu individu agar dapat menyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengrauh lingkungan yang diterimanya, selanjutnya, membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku dimasa yang akan datang.
Talbert (1959) mengungkapkan Pengertian Konselingsebagai hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
Prayitno dan Erman Amti (2004:105) menjelaskan Definisi Konseling sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa kegiatan konseling itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Pada umumnya dilaksanakan secara individual.
b) Pada umumnya dilakukan dalam suatu perjumpaan tatap muka.
c) Untuk pelaksaan konseling dibutuhkan orang yang ahl.
d) Tujuan pembicaraan dalam proses konseling ini diarahakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien.
e) Individu yang menerima layanan (klien) akhirnya mampu memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri.

B. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan di Sekolah
Kehadiran konselor di sekolah dapat meringankan tugas guru (Lundquist dan Chamely yang dikutip oleh Belkin, 1981). Mereka menyatakan bahwa konselor ternyata sangat membantu guru, dalam hal:
1. Mengembangkan dan memperluas pandangan guru tentang masalah afektif yang mempunyai kaitan erat dengan profesinya sebagai guru.
2. Mengembangakan wawasan guru bahwa keadaan emosionalnya akan mempengaruhi proses belajar-mengajar.
3. Mengembangkan sikap yang lebih positif agar proses belajar siswa lebih afektif,
4. Mengatasi masalah-masalah yang ditemui guru dalam melaksanakan tugasnya.

C. Tujuan Bimbingan di Sekolah
Dalam kurikulum SMA tahun 1975 Buku III C dinyatakan bahwa tujuan bimbingan di sekolah adalah membantu siswa:
1) Mengatasi kesulitan dalam belajranya, sehingga memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
2) Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar-mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
3) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
4) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan study.

5) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka tamat.
6) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial-emosional di sekolah yang bersumber dari sikapa murid yang bersangkutan terhadap dirnya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, keluarga, an lingkungan yang lebih luas.
Downing (1968) juga mengemukakan bahwa tujuan layanan bimbingan di sekolah sebenarnya sama dengan pendididkan terhadap diri sendiri, yaitu membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutukan sosial psikologis mereka, merealisasikan keinginannya, serta mengembangkan kemampuan atau potensinya.

• Tujuan Program Bimbingan dan Konseling
Menurut Dewa Ketut Sukardi Dan Desak Made Sumiati (2005:3) tujuan program bimbingan dan konseling disekolah terdiri dari : (1) Tujuan umum, dan (2) Tujuan Khusus. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Tujuan Umum Program Bimbingan
1) agar siswa dapar memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam kemajuannya disekolah
2) agar siswa dapat memperkembangkan pengatahuan tetang dunia kerja, kesempatan kerja serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu.
3) agar siswa dapat memperkembangkan kemampuan untuk memilih dan mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang secara tepat dan bertanggung jawab.
4) agar siswa dapat mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri orang lain.

b. Tujuan Khusus Program Bimbingan
1) agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri.
2) agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulotan dalam memahami lingkungannya.
3) agar siswa memiliki kemampuan dalam mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
4) agar para siswa memiliki kemampuan untuk mengastasi dan menyalurkan potensi-potensi yang dimilikinya dalam pendidikan dan lapangan kerja secara tepat.

• Fungsi Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling yang akan diberikan kepada peserta didik berdasarkan fungsinya masing-masing. Sejalan dengan itu, Uman Suherman (dalam Achmad Juntika Nurihsan 2008) menyatakan bahwa secara umum, fungsi bimbingan dan konseling dapat diu raikan sebagai berikut :
a. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli (klien) agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya ( pendidikan, pekerjaan, dan norma-norma).
b. Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya agar tidak dialami oleh konseli (klien)
c. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang lebih proaktif dari pada fungsi-fungsi lainnya.
d. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya kuratif, membantu konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar dan karir.
e. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atyau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan cirri kepribadiaan lainnya.
f. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah, staf, konselor, dan menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan dan kebutuhan konseli.
g. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam lingkungannya yang dinamis dan konstruktif.

h. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan dan bertindak(berkehendak).
i. Fungsi fasilatasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang dalam seluruh aspek dalam diri konseli.
j. Fungsi pemiliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.

Fungsi-fungsi diatas diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan kegiatan untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung didalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan harus secara lansung kepada satu atau lebih tugas-tugas tesebut agar hasil-hasil yang hendak dicapainya secara jelas dapat diidentifikasi.

D. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pembelajaran Siswa
Bimbingan dan Konseling dapat memberikan layanan dalam: (1) bimbingan belajar,(2) bimbingan sosial, dan (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.
1. Bimbingan Belajar
Bimbingan ini antara lain:
a) Cara belajar, baik belajar secara kelompok ataupun individual.
b) Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar.
c) Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran.
d) Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu.
e) Cara, proses, dan prosedur tentang mengikuti pelajaran.

Di samping itu, Winkel (1978) mengatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting untuk membantu siswa, antara lain dalam hal:
a) Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, baik sekarang maupun yang akan datang.
b) Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajarnya.

2. Bimbingan sosial
Menurut Abu Ahmadi (1977) bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk:
a) Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai.
b) Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai.
c) Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tersebut.

Di samping itu, bimbingan sosial juga dimaksudkan agar siswa dapat melakukan penyesuaian diri terhadap teman sebayanya baik di sekolah maupun di luar sekolah (Downing, 1978).

3. Bimbingan dalam Mengatasi Masalah-Masalah Pribadi
Masalah-masalah pribadi ini juga sering ditimbulkan oleh hubungan muda-mudi. Selanjutnya juga dikemukakan oleh Downing (1986) bahwa layanan bimbingan di sekolah sangat bermanfaat, terutama dalam membantu:
a) Menciptakan suasana hubungan sosial yang menyenangkan.
b) Menstimulasi siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan belajar-mengajar.
c) Menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
d) Meningkatkan motivasi belajar siswa.
e) Menciptakan dan menstimulasi tumbuhnya minat belajar.
E. Landasan Bimbingan dan Konseling
Menurut Winkel (1991) landasan-landasan itu adalah sebagai berikut:
1) Bimbingan selalu memperhatikan perkembangan siswa sebagai individu yang mandiri dan mempunyai potensi untuk berkembang.
2) Bimbingan berkisar pada dunia subjektif masing-masing individu.
3) Kegiatan dilaksanakan atas dasar kesepakatan antara pembimbing dengan yang dibimbing.
4) Bimbingan berlandaskan pengakuan akan martabat dan keluhuran individu yang dibimbing sebagai manusia yang mempunyai hak-hak asasi (human rights).
5) Bimbingan adalah suatu kegiatan yang bersifat ilmiah yang mengintergrasikan bidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan pemberian bantuan psikologis.
6) Pelayanan ditujukan kepada semua siswa, tidak hanya untuk individu yang bermasalah saja.
7) Bimbingan merupakan suatu proses, yaitu berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan, berurutan, dan mengikuti tahap-tahap perkembangan anak.
F. Prinsip-Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1. Prinsip-Prinsip Umum
Prinsip-prinsip umum ini antara lain:
a) Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikapa dan tingkah laku individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh pengalam-pengalamannya. Oleh karena itu, dalam pemberian layanan perlu dikaji kehidupan masa lalu klien, yang diperkirakan mempengaruhi timbulnya masalah tersebut.

b) Perlu dikenal dan dipahami karakteristik individual dari individu yang dibimbing.
c) Bimbingan diarahkan kepada bantuan yang diberikan supaya individu yang bersangkutan mampu membantu atau menolong dirinya sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya.
d) Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
e) Pelaksaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerja sama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber-sumber yang berguna di luar sekolah.
f) Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian secara teratur untuk mengetahui sampai di mana hasil dan manfaat yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksaan dan rencana yang dirumuskan terdahulu.
2. Prinsip-Prinsip yang Berhubungan dengan Individu yang Dibimbing
a) Layanan bimbingan harus diberikan kepada semua siswa.
b) Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas layanan kepada siswa tertentu.
c) Program bimbingan harus berpusat pada siswa.
d) Layanan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang yang bersangkutan secara serba ragam dan serba luas.
e) Keputusan terakhir dalam proses bimbingan ditentukan oleh individu yang dibimbing,
f) Individu yang mendapat bimbingan harus berangsur-angsur dapat membimbing dirinya sendiri.

3. Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Individu yang Memberikan Bimbingan
a) Konselor di sekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuannya.
b) Konselor harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya serta keahliannya melalui berbagai latihan penataran.
c) Konselor hendaknua selalu mempergunakan informasi yang tersedia mengenai individu yang dibimbing beserta lingkungannya, sebagai bahan untuk membantu individu yang bersangkutan ke arah penyesuaian diri yang lebih baik.
d) Koselor harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu yang dibimbinganya.
e) Konselor hendaknya mempergunakan berbagai jeis metode dan teknik yang tepat dalam melakukan tugasnya.
f) Konselor hendaknya memperhatikan dan mempergunakan hasil penelitian dalam bidang: minat, kemampuan, dan hasil belajar individu untuk kepentingan perkembangan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
4. Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi Bimbingan
a) Bimbingan harus dilaksanakan secara berkesinambungan.
b) Dalam pelaksaannya bimbingan harus tersedia kartu pribadi (cumulative record) bagi setiap individu (siswa)
c) Program bimbingan harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan.
d) Pembagian waktu harus diatur untuk setiap petugas secara baik.
e) Bimbingan harus dilaksanakan dalam situasi individual dan dalam situasi, kelompok sesuai dengan masalah dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah itu.
f) Sekolah harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga di luar sekolah yang menyelenggarakan layanan yang berhubungan dengan bimbingan dan penyuluhan pada umumnya.
g) Kepala sekolah memegang tanggung jawab tertinggi dalam pelaksaan bimbingan.
G. Asas-asas Bimbingan dan Konseling
Dalam kegiatan/layanan bimbingan dan konseling menurut Prayitno (1982) ada beberapa asas yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Asas Kerahasiaan
2. Asas Keterbukaan
3. Asas Kesukarelaan
4. Asas Kekinian
5. Asas Kegiatan
6. Asas Kedinamisan
7. Asas Keterpaduan
8. Asas Kenormatifan
9. Asas Keahlian
10. Asas Alih Tangan
11. Asas Tut Wuri Handayani
H. Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada:
1. Orientasi Individual
2. Orientasi Perkembangan
3. Orientasi Masalah

I. Kode Etik Bimbingan dan Konseling
Sehubungan dengan itu, Bimo Walgito (1980) mengemukakan beberapa butir rumusan kode etik bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1. Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang pembimbing dan penyuluhan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannyaatau wewenangnya.
3. Oleh karena pekerjaan pembimbing langsung berkaitan dengan kehidupan pribadi orang seperti telah dikemukakan maka seorang pembimbing harus:
a) Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.
b) Menunjukkan sikap hormat kepada klien.
c) Menunjukkan penghargaan yang sama kepada bermacam-macam klien.
d) Pembimbing tidak diperkenankan:
(1) Menggunakan tenaga-tenaga pembantu yang tidak ahli atau tidak terlatih.
(2) Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan.
(3) Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien.
(4) Mengalihkan klien kepada konselor lain tanpa persetujuan klien tersebut.
e) Meminta bantuan ahli dalam bidang lain di luar kemampuan atau di luar keahliannya ataupun di luar keahlian stafnya yang diperlukan dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.

f) Pembimbing harus selalu menyadari akan tanggung jawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian penuh.
Di samping rumusan tersebut, pada kesempatan ini dikemukakan rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dirumuskan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia, yang dikutip oleh Syahril dan Riska Ahmad (1986), yaitu:
a) Pembimbing/konselor menghormati harkat pribadi, integritas, dan keyakinan klien.
b) Pembimbing/konselor menempatkan kepentingan klien di atas kepentingan pribadi pembimbing/konselor sendiri.
c) Pembimbing/konselor tidak membedakan klien atas dasar suku bangsa, warna kulit, kepercayaan atau status sosial ekonominya.
d) Pembimbing/konselor dapat menguasai dirinya dalam arti kata berusaha untuk mengerti kekurangan-kekurangannya dan prasangka-prasangka yang ada pada dirinya yang dapat mengakibatkan rendahnya mutu layanan yang akan diberikan serta merugikan klien.
e) Pembimbing/konselor mempunyai serta memperlihatkansifat-sifat rendah hati, sederhana, sabar,tertib, dan percaya pada paham hidup sehat.
f) Pembimbing/konselor terbuka terhadap saran atau pandangan yang diberikan padanya, dalam hubungannya dengan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana dikemukakan dalam kode etik bimbingan dan konseling.
g) Pembibingan/konselor memiliki sifat tanggung jawab, baik terhadap lembaga dan orang-orang yang dilayani maupun terhadap profesinya.
h) Pembimbing/konselor mengusahakan mutu kerjanya setinggi mungkin.
i) Pembimbing/konselor menguasai pengetahuan dasar yang memadai tentang hakikat dantingkah laku orang, serta tentang teknik dan prosedur layanan bimbingan guna memberikan layanan dengan sebaik-baiknya.
j) Seluruh catatan tentang diri klien merupakan informasi yang bersifat rahasia, dan pembimbing menjaga kerahasiaan ini.
k) Sesuatu tes hanya boleh diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya.
l) Testing psikologi baru diberikan dalam penanganan kasus dan keperluan lain yang membutuhkan data tentang sifat atau diri kepribadian seperti taraf inteligensi, minat, bakat, dan kecenderungan-kecenderungan dalam diri pribadi seseorang.
m) Data hasil tes psikologis harus diintegrasikan dengan informasi lainnya yang diperoleh dari sumber lain, serta harus diperlakukan setaraf dengan informasi lainnya itu.
n) Konselor memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan digunakannya tes psikologi dan hubungannya dengan masalah yang dihadapi klien.
o) Hasil tes psikologi harus di beritahukan kepada klien dengan disertai dengan alasan-alasan tentang kegiatannya dan hasil tersebut dapat diberitahukan pada pihak lain, sejauh pihak yang diberitahu itu ada hubungannya dengan usaha bantuan pada klien dan tidak merugikan klien sendiri.

BAB III
PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH
DAN PERANAN GURU DALAM PELAKSANAANNYA
A. Program Bimbingan di Sekolah
Winkel(1991) menjelaskan bahwa program bimbingan merupakan suatu rangkai kegiatan terencana, terorganisasi, dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu.

1. Pengertian Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell(1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaskudkan untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan itu menyangkut dua faktor, yaitu : (1) faktor pelaksanaan atau orang yang akan memberikan bimbingan dan (2) faktor-faktor yang berkaitan dengan perlengkapan,metode, bentuk layanan siswa-siswi,dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi,1977).
Pelayanan bimbingan di Sekolah/Madrasah merupakan usaha mambantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencaaan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual atau kelompok, sesuai kebutuhan potensi, bakat, minat, serta perkembangan peluang-peluang yang dimiliki.

Pelayanan ini juga mambantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik. Tohorin (2007:259) mengemukakan bahwa “Program bimbingan dan konseling merupakan suatu rancangan atau rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.” Rancangan atau terancang kegiatan tersebut disusun secara sistematis, terorganisasi, dan terkoordinasi dalam jangka waktu tertentu.
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak akan berjalan efisien sesuai kebutuhan keadaan siswa jika dalam pelaksanaannya tanpa suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, artinya dilakukan secara sistematis jelas dan terarah.
Penyusunan program bimbingan dan konseling sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan pelaksanaan layanan bimbingan di sekolah. Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati (1995:2) mengemukakan bahwa: “Penyusunan program bimbingan dan konseling disekolah hendaknya berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa serta kebutuhan-kebutuhan siswa dalam mereka mencapai tujuan pendidikan yaitu kedewasaan siswa itu sendiri.”
Berdasarkan hal tesebut di atas, maka perlulah disusun program bimbingan di sekolah agar usaha layanan bimbingan di sekolah betul berdaya guna dan berhasil guna serta tepat sasaran.

Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan, seperti diantaranya : memungkinkan para petugas menghemat waktu, usaha,biaya dengan menghindari kesalahan-kesalahan,dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan.

2. Langkah –langkah penyusunan program bimbingan
Ada beberapa langkah-langkah yang dikemukan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) :
a. Tahap persiapan
b. Pertemuan-pertemuan permulaan dengan para konselor
c. Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan.
d. Pembentukan panitia penyelenggara program.

3. Variasi Program Bimbingan menurut Jenjang Pendidikan
Winkel (1991) memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingkat pendidikan tertentu, yaitu diantaranya:
a. menyusun tujuan jenjang pendidikan tertentu.
b. menyusun tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik.
c. Menyusun pola dasar

a. Pendidikan Taman Kanak-kanak
Layanan bimbingan dan konseling di taman kanak-kanak hendaknya ditekankan pada :
a) Bimbingan yang berkaitan dengan kemandirian dan keharmonisan
b) Bimbingan pribadi

b. Program Bimbingan di Sekolah Dasar
Berkenaan dengan penyusunan program bimbingan di sekolah dasa, Gibson dan Mitchell(1981) mengemukakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, seperti :
a) Kegiatan bimningan di SD
b) Adanya kecenderungan seorang anak bergantung kepada teman sebayanya
c) Minat orang tua yang dominan

c. Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Dalam hal ini, Winkel(1991) mengemukakan tugas-tugas perkembangan untuk siswa/anak pada tingakat SLTP antara lain; menerima peranannya sebagai pria atau wanita,memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari orang tua serta orang dewasa.
Orientasi pada tingkat SLTP diantaranya; Bimbingan belajar, bimbingan tentang hubungan muda-mudi, bimbingan karier baru.

d. Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Cole (1959) mengemukakan beberapa tugas-tugas perkembangan pada usia remaj(siswa SLTA),yaitu bertujuan untuk mencapai(1) kematangan emosional, (2) kemantapan minat terhadap lawan jenis,(3) kematangan sosial.
Pada tingkat SLTA hendaknya berorientasi sebagai berikut; hubungan muda-mudi/hubungan sosial, pemberian informasi pendidikan dan jabatan.
e. Program Bimbingan di Perguruan Tinggi
Tugas-tugas perkembangan pada usia dewasa menuntut seseorang untuk lebih mandiri, dan bersikap disiplin. Mereka dituntut untuk mampu mengembangkan sikap membina ilmu demi kemajuan bangsanya(Winkel, 1991).
Oleh karena itu, pada tingkat ini hendaknya berorientasi kepada , bimbingan belajar yang bersikap akademik, dan hubungan sosial.
• Pengembangan Program Bimbingan di Sekolah
1. Komponen program bimbingan di sekolah
Dengan mengacu kepada tugas-tugas dan masalah perkembangan siswa di sekolah dapat di golongka didalam :
a. Masalah perkembangan umum yang menjadi kebutuhan semua siswa.
b. Masalah yang muncul saat ini dan perlu segera dipecahkan.
c. Masalah perkembangan yang bersifat perorangan atau individual.
Atas dasar itu komponen program bimbingan di sekolah terdiri atas empat komponen (Muno dan Kottman,1955),yaitu:
1. Layanan Dasar Bimbingan
2. Layanan Responsif
3. Layanan Perencanaan Individual
4. Pendukung Sistem
2. Pengembangan Program Pendidikan
Tugas pokok guru BK dalam melaksanakan bimbingan adalah menyusun program bimbingan analisi hasil melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksnaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tidak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik (Keputusan Menpan No.1995)
4. Tenaga Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya
Layanan bimbingan konseling merupakan bagian yang integral dari proses pendidikan, oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab personel sekolah(Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya, 1985). Pekerjaan konselor merupakan salah satu dari pekerjaan profesional di sekolah(Gibson dan Mitchell,1981).

Koestoer, P.(1982) mengemukakan sejumlah personalia/konselor di sekolah terdiri dari :
a) Konselor sekolah ,
b) guru konselor/guru pembimbing
c) tenaga khusus/psikolog sekolah.

Dalam kurikulum SMA 1975 Buku III C tentang pedoman Bimbingan dan Penyuluhan dikemukakan bahwa konselor di sekolah terdiri dari: (a) kepala sekolah; membuat renaca/program sekolah,mendelegasikan tanggung jawab, dll. (b) Penyuluhan Pendidikan(konselor Sekolah); menyusun program bimbingan dan konseling di sekolah, menberikan garis-garis kebijaksanaan umum, dan sebagainya. (c) guru Pembimbing/wali kelas ; mengumpulkan data siswa, menyelenggarakan bimbingan kelompok. (d) guru/pengajar; turut aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program bimbingan tersebut. (e) petugas administrasi; mengisi kartu pribadi siswa, menyimpan catatan-catatan.

5. Struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C dinyatakan bahwa kepala sekolah berperan langsung dalam koordinator bimbingan dan berwenang untuk menentukan garis kebijaksanaan, konselor merupakan membantu kepala sekolah yang bertanggung jawab kepada kepala sekolah.

6. Mekanisme Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
a. Komponen Pemprosesan Data
b. Komponen Kegiatan Pemberian Informasi
c. Komponen Kegiatan Konseling
d. Komponen pelaksana
e. Komponen Metode/ Alat
f. Komponen Waktu Kegiatan
g. Koomponen Sumber Data

B. Peranan Guru dalam Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah
1. Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di Kelas
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa fungsi bimbingan dalam proses belajar-mengajar itu merupakan salah satu kompetensi guru yang terpadu dalam keseluruhan pribadinya. Dan ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses belajar-mengajar sesuai dengan fungsinya sebagai guru dan pembimbing, yaitu ; a. Perlakuan terhadap siswa didasarkan keyakinan, b. Sikap yang positif, c. Perlakuan siswa secara empatik.
Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran guru sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai berikut; a. Menyediaka kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap siswa merasa aman, b. Mengusahakan agar siswa –siswa dapat memahami dirinya, dll.
Guru juga dapat melakukan tugas-tugas bimbingan dalam proses pembelajaran nseperti berikut; a. Melaksanakan kegiatab diagnostik kesulitan belajar, b. Guru dapat memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya kepada murid.
2. Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar Kelas
Tugas-tugas bimbingan tersebut diantaranya ; memberikan pengajaran perbaikan(remedial Teaching), menberikan pengayaan dan pengembangan bakat. Menyelanggarakan kelompok belajar.

• Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam belajar di sekolah
Layanan bimbingan menjadi tugas dari Bimbingan Konseling (BK). Pelaksanaan bimbingan di sekolah tetap menghendaki dukungan manajerial yang memadai. Maka dalam upaya penyelenggaraan pelayanan bimbingan di sekolah perlu dipertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut:
a. Aspek Program
b. Aspek Ketenagaan
c. Aspek Prosedur/ Teknik
d. Daya Dukung Lingkungan
• Organisasi dan administrasi bimbingan di sekolah
a. Organisasi
Pelaksanaan bimbingan di sekolah saat ini dilaksanakan oleh guru guru BK. Pemerintah telah memiliki rencana untuk mengangkat guru pembimbing sesuai dengan PP 38 tentang Tenaga Kependidikan, paling tidak untuk satu kecamatan seorang guru pembimbing. Mekanisme organisasi dan administrasi bimbingan di SD telah digariskan dalam Buku Petunjuk Bimbingan dan Konseling di sekolah (Depdikbud,1994).
b. Uraian Tugas Personil
Tugas dan tanggung jawab setiap personel dalam kegiatan layanan bimbingan sehingga dapat memahami tugas-tugasnya dan melaksanakan tugasnya masing-masing.
c. Pengawasan
Untuk menjamin layanan bimbingan secra tepat diperlukan kegiatan pengawasan bimbingan baik secara teknis maupun administratif. Fungsi pengawasan layanan bimbingan adalah memantau, menilai, memperbaiki, meningkatkan dan mengembangkan kegiatan layanan bimbingan di sekolah.

d. Sarana dan prasarana
Sarana untuk menunjang layanan bimbingan adalah:
1. Alat pengumpul data
2. Alat penyimpan data
3. Perlengkapan teknis
4. Perlengkapan administratif
Prasarana penunjang layanan bimbingan antara lain:
1. Ruang bimbingan
2. Guru pembimbingan konseling
e. Anggaran biaya
Anggota biaya diperlukan untuk menunjang layanan bimbingan seperti biaya surat menyurat, transportasi, penataran, pembelian alat dan sebagainya.
f. Kerjasama
1. Kerjasama dengan pihak didalam sekolah
2. Kerjasama dengan baik diluar sekolah

• Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di Sekolah
Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:
a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.

b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.
g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya.
h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.
i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyai kesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.

j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

C. Kerja Sama Guru dengan Konselor dalam Layanan Bimbingan
Dalam hal ini, Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengutip pendapat Miller yang menyatakan bahwa:
a. Proses belajar menjadi sangat efektif.
b. Guru yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya.
c. Guru dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih nyata.
Di lain pihak guru mempunyai keterbatasan, menurut Koestoer Partowisastro(1982) yaitu; a. Guru tidak mungkin lagi menangani masalah-masalah siswa bermacam-macam, b. Guru sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak mungkin memecahkan masalah yang banyak.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah kami adalah, bahwa Program Bimbingan Konseling di Sekolah merupakan suatu program yang sangat penting dan dibutuhka untuk memajukan sekolah. Dengan adanya Program Bimbingan Konseling Di sekolah dapat membantu sekolah dalam menangani masalah-masalah yang dialami oleh siswa. Program Bimbingan Konseling di sekolah sangat membantu pengembangan potensi siswa siswa, jika siswa dapat mengetahui potensi nya maka siswa dapat lebih mengasah dan mengembangkan potensinya tersebut.
Menjadi seorang konselor merupakan suatu hal yang berat, dikarenakan seorang konselor harus mempunyai program-program dan tanggung jawab yang sangat besar. Maka seorang konselor harus mempunyai kemauan yang keras untuk memajukan sekolah dan memajukan pendidikan. Dengan adanya Program Bimbingan Konseling di Sekolah dapat membantu pihak sekolah menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik.
Program bimbingan menyangkut dua faktor, yaitu: (1) faktor pelaksanaan atau orang yang akan memberikan bimbingan dan (2) faktor yang berkaitan dengan perlengkapan, metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan.
Peranan guru dalam pelaksanaan bimbingan di sekolah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) tugas dalam layanan bimbingan dalam kelas dan (2) di luar kelas. Begitu penting peran seorang guru tersebut.

B. SARAN
Saran kami adalah perlunya peningkatan kualitas seorang konselor, dengan adanya peningkatan kualitas konselor maka akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan dunia pendidikan.
Dan juga perlunya peningkatan jumlah konselor, seorang konselor menghadai 125 siswa asuh. Maka dalam satu sekolah tidak cukup hanya mengandalkan satu orang konselor saja.
Untuk program bimbingan di sekolah peranan guru sangat diutamakan, karena guru adalah seorang pendidik, pengajar dan membimbing siswa,untuk menjadi orang yang berilmu dan orang yang memiliki tingkah yang baik,guru juga menjadi panutan para siswa untuk mendapatkan ilmu di sekolah. Guru harus memberikan ilmu dan mengajar dengan sabar, ikhlas dan mengutamakan kepentingan para siswa di atas kepentingan pribadinya.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Semarang: Toha Putra.
Belkin, S. Gary. 1981. Practical Counseling in The Schools. Dubuque: Wm. C. Browm Company Publishers.
Cole, Luella. 1959. Psychology of Adolescence. New York: Rinehart & Company, Inc.
Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Menengah Atas 1975, Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Balai Pustaka.
Downing, Lester N. 1986. Guidance and Counseling Services An Introduction. New York: Mc Graw – Hill Book Company.
Humphreys, J.A. and Traxler, A.E.. 1954. Guidance Services. Chicago: Science Research Associates, Inc.
Hurlock, E.B.. 1980 Developmental Psychology: .A Life-Span Approach. New York: McGrew – Hill Book Company.
Koestoer,partowisastro. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-Sekolah. Jakarta: Erlangga.
Mortensen, D.G. & Schmuller, A.M.. 1969. Guidance in today’s School. New York: John Willy & Son.
Pane, Ratna Asmara. 1988. Masa Remaja (Suatu Periode Transisi). Padang: Diperbanyan oleh FIP IKIP Padang.
Prayitno. 1987. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Jakarta: P2LPTK.
Syahril dan Ahmad, riska. 1986. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Padang: Angkasa Raya,
Tylor, Leonar. 1956. Individual Differences. New York: McGraw Hill BOOK, Company.
Depdikbud. :Undang-Undang Nomor 2/1989 Tentang Sistem pendidikan Nasional.” Jakarta: Depdikbud.
Walgito, Bimo. 1980. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
Willerman, Lee. 1970. Group and Individual Differences. New York: McGraw – Hill Company.
Winkel, W.S.. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Winkel, W.S.. 1978. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.
Ahmadi,Abu. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Semarang: Toha Putra.
Blocher, Donald H.. 1974. Development Counseling. New York: John Wiley & Sons.
Burck, Harman D; Cattinghom, Harold F; Reardon, Robert C.1973. Counseling and Accountability: method and Critique. New York: Pargamon Press Inc.
Cole, Leulla. 1959. Psychology pf Adolescence. New York: Rinerhart & Company, Inc.
Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Menengah Atas 1975, Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Balai Pustaka.
Gibson, Robert L. And Mitchell, Marianne H.. 1981. Introduction to Guidance. New York: Macmillan Publishing C., Inc.
Koestoer, Partowisastro. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-sekolah. Jakarta : Erlangga.
Miller, Frank W; Fruchling, Jones A.; Lewis, Gloria J.. 1978. Guidance Principles and Service. Third Edition. London sydney: Charles E. Merrill Publishing Company.
Natawidjaja, Rochman. 1989. Peranan Guru dalam Bimbingan. Bandung : Arbadin.
Nelson, Richard C.. 1972 Guidance and Counseling in the Elementary School. New York: Halt Rinehart and Wiston. Inc
Peters, Herman J.. 1958. Guidance: A Developmental Approach. Chicago: Rand McNally & Company.
Peters, Herman J. And Farwell, Gail F. 1958. Guidance: A Developmental Approach. Chicago: Rand McNally & company.
Soeitoe, S. 1972. Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : Gajah Tunggal.
Surya, Moh,. Dan Natawidjaja, Rochman. 1985. Materi Pokok Bimbingan dan Penyuluhan. Modul 1-3. Jakarta . Depdikbud . UT.
Usman, Moh. Uzer . 1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Walgito, Bimo. 1980. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogjakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikilogi UGM.
Winkel, W.S.. 1991 Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Ahman (1998). Bimbingan Perkembangan : Model dan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar, Bandung: Disertasi PPsS IKIP Bandung
Bush, Wilman Jo& Waugh, Kenneth W (1976). Diagnoding Learning Disability, Ohio: Charles E.merril Pub. Co.
Cartwright, Philip G. Et.all (1984). Educating Special Learnes Wadsworth, California Inc. Belmont.
Chapman, Sara et. Al (1993). Elementary Guidance and Conseling. Alief Independent School District.
Departmen pendidikan Dan Kebudayaan (1994/1995). Petunjuk Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah dasar, Jakarta: Diirjen Dikdasmen
Muro, J. James N. Kottmen, Terry (1995). Guidance and Conseling in Elementary school and Middle School. Iowa: Brown N. Benchmar publisher.
Rosner, Jerome, (1993). Helping Children Overcome Learning Difficulties, New York: Worker and Company.
Sunaryo Kartadinata, (1990). Kebutuhan Akan Layanan Bimbingan di Sekolah Dasar, Hasil Penelitian IKIP Bandung.
Sunaryo Kartadinata (1996). Landasan-landasan pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikti.
Laksmiwati, Hermin, dkk. 2002. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Surabaya : Unesa University Press.

Ma’mur A., Jamal. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jogjakarta : Diva Press
http://rengenanda.blogspot.com
http://datafilecom.blogspot.com/2011/09/tujuan-bimbingan-di-sekolah.html
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2011/12/pengertian-konseling.html
http://catatanbk.blogspot.com/2012/04/pengertian-bimbingan-menurut-ahli.html
http://baehaqi.blogspot.com/2010/12/bimbingan-konseling-dan-peran-guru.html

Entry Filed under: makalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Mei 2013
S S R K J S M
« Feb    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: