administrasi pendidikan dan supervisi pendidikan

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami panjatkan hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini yang berjudul ADMINISTRASI PENDIDIKAN DALAM PROFESI KEGURUAN dan SUPERVISI PENDIDIKAN.
Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini.Pertama, kepada Drs. Aris Djinal selaku dosen pembimbing mata kuliah Profesi Kependidikan, kedua kepada pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan kekhilafan, karena itu, demi perbaikan makalah ini segala kritik, saran, tegur dan masukan yang membangun akan senantiasa kami terima dengan lapang hati. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi para mahasiswa.

Banjarmasin, 21 Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR 1
DAFTAR ISI 2
BAB I PENDAHULUAN 3
BAB II Administrasi Pendidikan dalam Profesi Keguruan
A. Pengertian dan Konsep Administrasi Pendidikan 4
B. Fungsi Administrasi Pendidikan 7
C. Lingkup Bidang Garapan Administrasi
Pendidikan Menengah 12
D. Peranan Guru dalam Administrasi Pendidikan 14
BAB III Supervisi Pendidikan
A. Pengertian, Fungsi, dan Peran 15
B. Pelaksanaan Supervisi 18
C. Teknik Supervisi 20
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 26
B. Saran-saran 26
DAFTAR PUSTAKA 28

BAB I
PENDAHULUAN
Pengembangan diri merupakan kegiatan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang administrasi. Ilmu pengetahuan dan ketrampilan yang dilaksanakan bertujuan jangka panjang yaitu agar tenaga administrasi maupun mengembangkan ilmu yang telah dipelajari dan dipraktekkan di sekolah. Administrasi sangat diperlukan bagi kelangsungan proses belajar mengajar dalam dunia pendidikan. Semua itu tidak lepas dari keaktifan orang-orang yang menguasai administrasi dalam sekolah. Orang sering menganggap enteng administrasi tersebut, padahal kalau administrasi dipegang sama orang-orang yang kurang terampil maka administrasi tersebut akan berantakan. Orang yang memegang administraasi adalah orang yang sudah terlatih dalam bidangnya (orang yang sudah mendapat ilmu/ pelatihan). Administrasi tidak hanya dalam hal keuangan saja tetapi juga dalam kerapian/ keteraturan kita dalam pembukuan. Administrasi tidak hanya dilakukan dalam waktu tertentu saja tetapi setiap hari secara kontinyu. Administrasi adalah upaya menjadikan kegiatan kerja sama antara guru dan karyawan agar proses belajar mengajar lebih efektif.
Supervisi sebagai pengawasan profesional membina Guru mempertinggi kinerjanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa para kepala sekolah selaku pengawas pembelajaran sangat memahami perbedaan konsep supervisi dan pengawasan umum, wawancara dengan kepala sekolah mengungkap pernyataan yang mengemukakan bahwa “syarat awal membina guru agar efektif dimulai dengan hubungan kolegial yang akrab dan bersahabat, bebaskan guru dari sekat atasanbawahan yang membedakannya, dari situ diketahui siapa guru yang perlu mendapat supervisi”. Pernyataan dalam ungkapan itu menunjukkan bahwa kepala sekolah berusaha memperkecil jarak birokrasi antara ia sebagai pemimpin pembelajaran dengan guru yang dipimpinnya. Untuk melaksanakan pengawasan ia perlu memulainya dengan hubungan akrab yang bersahabat. Kepala sekolah memahami bahwa pengawsan profesional merupakan sebuah jasa layanan dalam bentuk bantun yang profesional pula, yang harus diberikan kepada guru yang memerlukannya, untuk itu sekat hubungan harus direduksi sekecil mungkin.

BAB II
ADMINISTRASI PENDIDIKAN DALAM PROFESI KEGURUAN

A. Pengertian dan Konsep Administrasi Pendidikan
1. Pengertian Administrasi Pendidikan
Administrasi Pendidikan Dalam Profesi Keguruan merupakan kegiatan pendidikan untuk mengembangkan kemampuan dalam bidang administrasi. Ilmu pengetahuan, teori belajar dan ketrampilan yang dilaksanakan bertujuan jangka panjang yaitu agar tenaga administrasi, manajemen maupun mengembangkan ilmu yang telah dipelajari dan dipraktekkan di sekolah.
Kata “administrasi” berasal dari bahasa latin yang terdiri atas kata ad dan ministrare. Kata ad mempunyai arti yang sama dengan kata todalam bahasa inggris, yang berarti “ke” atau “kepada”. Dan ministraresama artinya dengan kata to serve atau to conduct yang berarti “melayani”, “membantu”, atau mengarahkan”. Dalam bahasa inggris to administer berarti pula “mengatur”, “memelihara” (to look after), dan “mengarahkan”.
Jadi, kata “administrasi” dapat diartikan sebagai suatu kegiatan atau usaha untuk membantu, melayani, mengarahkan, atau mengatur semua kegiatan di dalam mencapai suatu tujuan.
Pertama, administrasi pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kedua, administrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk mencapai tujuan pendidikan.
Ketiga, administrasi pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berpikir sistem.
Keempat, administrasi pendidikan juga dilihat dari segi manajemen.
Kelima, administrasi pendidikan juga dilihat dari segi kepemimpinan.
Keenam, administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari proses pengambilan keputusan.
Ketujuh, administrasi pendidikan juga dilihat dari segi komunikasi.
Kedelapan, administrasi seringkali diartikan dalam pengertian yang sempit yaitu kegiatan ketatausahaan yang intinya adalah kegiatan rutin catat-mencatat dan sebagainya. Pengertian demikian tidak terlalu salah, hanya yang perlu diingat, kegiatan tata usaha itu tidak seluruhnya mencerminkan pengertian administrasi. Namun secara singkatnya, administrasi pendidikan itu ialah pembinaan, pengawasan, dan pelaksanaan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan unsur-unsur sekolah.
Pengertian Administrasi Pendidikan atau Definisi Administrasi Pendidikan ataupun Arti Administrasi Pendidikan Menurut beberapa ahli yaitu :
Administrasi Pendidikan Menurut Robert E. Wilson (1966), ia mengemukakan dalam bukunya yang berjudul Educational Administration : “Educational administration is the coordination of forces necessary for the good instruction of all children within a school organization into an orderly plan for accomplishing the unit`s objectives, and the assuring of their proper accomplishment”.
Adminstrasi Pendidikan Menurut Carter, Stephen G. Knezevich (1962), dalam bukunya yang berjudul Administration of Public Education : Administrasi pendidikan adalah suatu proses yang berurusan dengan penciptaan, pemeliharaan, stimulasi dan penyatuan tenaga-tenaga dalam suatu lembaga pendidikan dalam usaha merealisasikan tujuan-tujuan yang telah ditentukan sebelumnya”.

Administrasi Pendidikan dalam Dictionary of Education Edisi Kedua (1959) yang dikarang oleh Good Carter V : Administrasi pendidikan adalah segenap teknik dan prosedur yang dipergunakan dalam penyelenggaraan lembaga pendidikan sesuai dengan kebijakan yang telah ditentukan.
Administrasi Pendidikan dalam buku Kurikulum, Usaha-Usaha Perbaikan dalam Bidang Pendidikan dan Administrasi Pendidikan : Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, materiil, maupun spirituil, untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien

2. Konsep Administrasi Pendidikan
a. Sistem Pendidikan Nasional
Sistem pendidikan nasional memiliki definisi seperti yang tercantum dalam UU Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989. Tetapi supaya lebih otentik dikutip langsung pada Bab I Pasal I Ayat 3 Undang-Undang tersebut sebagai berikut : “Sistem Pendidikan Nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan nasional”.
Beberapa hal lain yang kita temukan mengenai sistem pendidikan nasional dalam undang-undang itu adalah :
a) Sistem pendidikan nasional merupakan alat dan sekaligus tujuan yang sangat penting dalam mencapai cita-cita
b) Pendidikan nasional dilakukan secara semesta, menyeluruh dan terpadu.
c) Pengelolaan sistem pendidikan nasional tanggung jawab menteri P dan K (UUSPN No. 2/89 pasal 49)

Dari pengertian itu dapat dikemukakan unsure-unsur penting dalam pendidikan, yaitu :
a) Sistem pendidikan mempunyai satuan dan kegiatan.
b) Sistem pendidikan nasional merupakan alat dan sekaligus tujuan yang sangat penting dalam mencapai cita-cita
c) Sebagai suatu sistem, pendidikan nasional harus dilihat sebagai keseluruhan unsure atau komponen dan kegiatan pendidikan.

b. Sekolah Sebagai Bagian Sistem Pendidikan Nasional
Telah disebutkan bahwa jenjang pendidikan adalah unsur / komponen sistem pendidikan nasional yaitu termasuk dalam komponen organisasi.

B. Fungsi Administrasi Pendidikan
Pada dasarnya fungsi administrasi merupakan proses pencapaian tujuan melalui serangkaian usaha tersebut. Oleh karena itu fungsi administrasi pendidikan dibicarakan sebagai serangkaian proses kerjasama untuk mencapai tujuan pendidikan itu.
1. Tujuan pendidikan menengah
Tujuan pendidikan menengah perlu dibicarakan, dengan alasan:
a) Tujuan pendidikan menengah merupakan jabaran dari tujuan pendidikan nasional
b) Tujuan pendidikan menengah merupakan titik berangkat administrasi pendidikan pada jenjang sejkolah menengah
c) Tujuan pendidikan menengah itu juga merupakan tolak ukur keberhasilan kegiatan administrasi pendidikan di jenjang pendidikan itu.
Tujuan khusus SMA mencakup bidang pengetahuan, keterampilan, serta nilai dan sikap.
a) Di bidang pengetahuan
1) Memiliki pengetahuan tentang agama dan atau kepercayaan kepada tuhan yang maha esa
2) Memiliki pengetahuan yang fungsional tentang fakta dan kejadian penting actual, baik local, regional, nasional maupun internasional
3) Mengetahui pengetahuan dasar dalam bidang matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan social, dan bahasa.
b) Di bidang keterampilan
1) Menguasai cara belajar yang baik
2) Memiliki keterampilan memecahkan masalah dengan sistematik
3) Memiliki keterampilanmengadakan komunikasi social dengan orang lain, baik lisan maupun tulisan, dan keterampilan mengekspresikan diri sendiri
c) Di bidang nilai dan sikap
1) Memiliki sikap demokratis dan tenggang rasa
2) Memiiki rasa tanggung jawab dalam pekerjaan dan masyarakat
3) Memiliki minat dan sikap positif terhadap ilmu pengetahuan

2. Proses sebagai fungsi administrasi pendidikan menengah
Agar kegiatan dalam komponen administrasi pendidikan dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan, kegiatan tersebut harus dikelola melalui sesuatu tahapan proses yang merupakan daur (siklus), mulai dari perencanaan, pengorganisassi, pengarahan, pengkoordinasian, pembiayaan, pemantauan, dan penilaian seperti telah disinggung secara garis besar pada bagian terdahulu. Di bawah ini akan diuraikan proses tersebut lebih rinci. Adapun proses administrasi pendidikan itu meliputi fungsi-fungsi sebagai berikut :

a) Perencanaan
Perencanaan adalah suatu proses mempersiapkan serangkaian pengambilan keputusan untuk dilakukannya tindakan dalam mencapai tujuan organisasi.
Perencanaan adalah pemilihan dari sejumlah alternatif tentang penetapan prosedur pencapaian, serta perkiraan sumber yang dapat disediakan untuk mencapai tujuan tersebut. Yang dimaksud dengan sumber meliputi sumber manusia, material, uang, dan waktu. Dalam perencanaan, kita mengenal beberapa tahap, yaitu tahap,
a. Identifikasi masalah,
b. Perumusan masalah,
c. Penetapan tujuan,
d. Identifikasi alternatif,
e. Pemilihan alternatif, dan
f. Elaborasi alternatif.

Perencanaan pendidikan di pendidikan menengah dapat dibedakan atas beberapa kategori yaitu.:
a) Menurut jangkauan waktunya, perencanaan pendidikan di pendidikan menengah dapat dibagi menjadi perencanaan jangka pendek, perencanaan jangka menengah, dan perencanaan jangka panjang.
b) Menurut timbulnya, perencanaan dapat dibedakan atas perencanaan yang berasal dari bawah, berasal dari atas,
c) Menurut sudut besarannya, perencanaan dapat dibedakan atas perencanaan makro, perencanaan meso, dan perencanaan mikro.
d) Menurut pendekatannya, perencanaan dapat dibedakan atas perencanaan terpadu, perencanaan berdasarkan program,
e) Menurut pelakunya, perencanaan dapat dibedakan atas perencanaan individual, perencanaan kelompok, dan perencanaan lembaga.

Menurut Sergiovanni (1987: 300) berpendapat bahwa: “plans are guides, approximations, goal post, and compass setting not irrevocable commitments or decision commandments”. Jadi rencana adalah sebuah penuntun yang disusun sedemikian rupa yang sulit untuk dirubah” (Sergiovanni, 1987: 300).
Sedangkan Enoch (1992:3) berpendapat bahwa definisin perencanaan pendidikan adalah sebagai : “suatu proses mempersiapkan alternatif keputusan bagi kegiatan masa depan yang di arahkan kepada pencapaian tujuan dengan usaha yang optimal mempertimbangkan kenyataan-kenyataan yang ada di bidang ekonomi, sosial budaya secara menyeluruh dari suatu negara” (Enoch, 1992:3).

b) Pengorganisasian
Pengorganisasian di sekolah dapat didefinisikan sebagai keseluruhan proses untuk memilih dan memilah orang-orang (guru dan personal sekolah lainya) serta mengalokasikan prasarana dan saran untuk menunjang tugas orang-orang itu dalam rangka mencapai tujuan sekolah.
Berikut ini beberapa pendapat para ahli mengenai apa itu pengorganisasian:
 Koontz dkk. mengemukakan bahwa pengorganisasian adalah penetapan sturuktur peranan internal dalam suatu lembaga yang terorganisasian secara formal. Pengorganisasian yang efektif dapat membagi habis (merata) dan menstrukturkan tugas-tugas ke dalam sub-sub komponen organisasi.
 Terry mengemukakan bahwa pengorganisasian adalah pembagian pekerjaan yang direncanakan untuk diselesaikan oleh anggota kelompok, penentuan hubungan-hubungan pekerjaan di antara mereka dan pemberian lingkungan pekerjaan yang sepatutnya.

c) Pengarahan
Suharsimi Arikunto (1988) memberikan definisi pengarahan sebagai penjelasan, petunjuk, serta pertimbangan dan bimbingan terhadap pra petugas yang terlibat, baik secara struktural maupun fungsional agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan lancar. Kegiatan pengarahan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :
a. Melaksanakan orientasi tentang pekerjaan yang akan dilakukan individu atau kelompok
b. Memberikan petunjuk umum dan petunjuk khusus, baik secara lisan atau tertulis, secara langsung atau tidak langsung.
d) Pengkoordinasian
Pengkoordinasian di sekolah diartikan sebagai usaha untuk menyatupadukan kegiatan dari berbagai individu atau unit di sekolah agar kegiatan mereka berjalan selaras dengan anggota atau unit lainnya dalam usaha mencapai tujuan sekolah. Pengkoordinasian dapat dilakukan melalui berbagai cara:
a. Melaksanakanpenjelasan singkat (briefing)
b. Mengadakan rapat kerjaMemberikan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis,
c. Member umpan balik tentang hasil suatu kegiatan

System koordinasi pada umumnya tidak efektif karena muncul system birokrasi, dan krisis ini akan terjadi jika organisasi menjadi terlalu besar dan rumit untuk dikelola. Akan tetapi, pada pokoknya penggoordinasian menurut para ahli, sebagai berikut:
 The Liang Gie (1983: 216) merupakan rangkaian aktifitas yang menghubungkan, menyatu padukan dan menyalaraskan orang-orang dan pekerjaan.
 Sedangkan Oteng Sutisna (1983: 199) merumuskan koordinasi ialah mempersatukan sumbangan-sumbangan dari orang-orang, bahan, dan sumber-sumber lain ke arah tercapainya maksud yang telah ditetapkan.

e) Pembiayaan
Pembiayaan sekolah adalah kegiatan mendapatkan biaya serta mengelola anggaran pendapatan dan belanja pendidikan menengah. Kegiatan ini dimulai dari perencanaan biaya, usaha untuk mendapatkan dana yang mendukung rencana itu, penggunaan, serta pengawasan penggunaan anggaran tersebut.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam fungsi pembiayaan itu antara lain:
o Perencanaan tentang berapa biaya yang akan diperlukan,
o mana dan bagaiamana itu dapat diperoleh/diusahakan,
o Bagaimana penggunaannya,
o Siapa yang akan melaksanakannya, pembukuan dan pertanggung jawabannya, dan
o Bagaimana pengawasannya, dll.

f) Penilaian
Secara lebih rinci maksud penilaian adalah untuk:
a. Memperoleh dasar bagi pertimbangan apakah pada akhir suatu periode kerja pekerjaan tersebut berhasil,
b. Menjamin cara bekerja yang efektif dan efisien,
c. Memperoleh fakta-fakta tentang kesurakan-kesukaran dan untuk menghidarkan situasi yang dapat merusak, serta
d. Memajukan kesanggupan para guru dan orang tua murid dalam mengembangkan organisasi sekolah.

C. Lingkup Bidang Garapa Administrasi Pendidikan Menengah

Untuk memahami apa yang telah diuraikan secara lebih baik, secara ringkas perlu ditegaskan hal-hal berikut :
a) Administrasi pendidikan menengah merupakan bentuk kerja sama personal pendidikan menengah untuk mencapai tujuan pendidikan menengah.
b) Administrasi pendidikan menengah merupakan suatu proses yang merupakan daur (siklus) penyelenggaraan pendidikan menengah, dimulai dari perencanaan, diikuti oleh pengorganisasian, pengarahan, pelaksanaan, pemantauan dan penilaian tentang usaha sekolah untuk mencapai tujuannya.
c) Administrasi pendidikan menengah merupakan usaha untuk memalukan manajemen system pendidikan menengah
d) Administrasi pendidikan menengah merupakan kegiatan memimpin, mwngambil keputusan, seerta komunikasi dalam organisasi sekolah sebagai usaha sekolah untuk mencapai tujuannya.

Bila diamati lebih lanjut ada beberapa hal penting yang menjadi ciri organisasi sekolah, termasuk pendidikan menengah :
a. Adanya interaksi (saling pengaruh) antara berbagai unsur sekolah. Interaksi itu sendiri meliputi : interaksi yang ada di sekolah itu sendiri, interaksi antara sekolah dengan lembaga pendidikan lainnya, interaksi antara sekolah dengan lembaga nonkependidikan dan interaksi antara sekolah dengan masyarakat.
b. Adanya kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan sekolah sangat banyak. Untuk mudahnya kegiatan ini dapat ditinjau dari dua dimensi, yaitu pengajaran dan pengelolaan. Jika dimensi itu digabungkan kita dapat membedakan kegiatan itu menjadi empat kategori pokok dan satu kategori pendukung yang merupakan titik temu dari keempat kategori pokok tadi, yaitu:
1) Yang berhubungan langsung dengan pengajaran sekaligus langsung dengan pengolahan, meliputi : kurikulum, supervisi.
2) Yang berhubungan langsung dengan pengelolaan tetapi tidak langsung dengan pengajaran meliputi : kemuridan, keuangan, prasarana dan sarana, kepegawaian dan layanan khusus.
3) Yang tidak berhubungan langsung baik dengan pengajaran maupun dengan pengelolaan : hubungan sekolah-masyarakat (Husemas) dan BP3.
4) Yang tidak berhubungan langsung dengan pengelolaan tetapi langsung dengan pengajaran.
5) Kegiatan pendukung, yaitu pengelolaan ketatausahaan yang diperlukan oleh semua kegiatan butir 1- 4.

D. Peranan Guru dalam Administrasi Pendidikan
Tugas utama guru yaitu mengelola proses belajar-mengajar dalam suatu lingkungan tertentu, yaitu sekolah. Sekolah merupakan subsistem pendidikan nasional dan di samping sekolah, sistem pendidikan nasional itu juga mempunyai komponen-komponen lainnya. Guru harus memahami apa yang terjadi dilingkungan kerjanya.
Di sekolah guru berada dalam kegiatan administrasi sekolah, sekolah melaksanakan kegiatannya untuk menghasilkan lulusan yang jumlah serta mutunya telah ditetapkan. Dalam lingkup administrasi sekolah itu peranan guru amat penting.

BAB III
SUPERVISI PENDIDIKAN

Secara khusus setelah mempelajari bab ini mahasiswa dapat memahami:
1) Pengertian, fungsi, dan peran supervisi pendidikan
2) Pelaksanaan supervisi pendidikaan
3) Teknik-teknik supervisi pendidikan
4) Peranan guru dalam supervisi pendidikan

A. Pengertian, Fungsi, dan Peran
1. Pengertian Supervisi
Inspeksi berasal dari istilah bahasa Belanda Inspectie. Di dalam bahasa Inggris dikenal Inspection. Kedua kata tersebut berarti pengawasan yang terbatas kepada pengertian mengawasi apakah bawahan (dalam hal ini guru) menjalankan apa yang telah diinstruksikan oleh atasannya, dan bukan berusaha membantu guru itu (Ngalim Purwanto, 1990).
Dalam perkembangan supervisi selanjutnya dikenal istilah penilikan dan pengawasan. Berbeda dengan inspeksi, penilikan dan pengawasan mempunyai pengertian suatu kegiatan yang bukan hanya mencari kesalahan objek pengawasan itu semata-mata, tetapi juga mencari hal-hal yang sudah baik, untuk dikembangkan lebih lanjut.
Monitoring seringkali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan pemantauan. Monitoring berti kegiatan pengumpulan data tentang suatu kegiatan sebagai bahan untuk melaksanakan penilaian. Dengan kalimata ini, monitoring merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mengetahui apa adanya tentang sesuatu kegiatan. Di dalam monitoring seseorang hanya mengumpulkan data tanpa membandingkan data tersebut dengan kriteria tertentu.
Kegiatan penilaian, yang juga disebut evaluasi merupakan suatu proses membandingkan keadaan kuantitatif atau kualitatif suatu objek dengan kriteria tertentu yang sudah ditetapkan sebelumnya.
Pengertian supervisi mencakup arti yang terkandung dalam istilah-istilah yang sudah ada diterangkan itu. Di samping itu, supervisi memepunyai arti yang lebih luas, yaitu pengertian, bantuan dan perbaikan.
Berbagai buku mendefinisikan supervisi berbeda satu sama lain. Daresh (1989), misalnya mendefinisikan supervisi sebagai suatu proses mengawasi kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan organisasi. Wiles (1955) mendefinisikannya sebagai bantuan dalam pengembangan situasi belajar-mengajar Lucio dan McNeil (1978) mendefinisikan tugas supervisi, yang meliputi:
(a) Tugas perencanaan, yaitu untuk menetapkan kebijaksanaan dan program.
(b) Tugas administrasi, yaitu pengambilan keputusan serta pengkoordinasian melalui konferensi dan konsultasi yang dilakukan dalam usaha mencari perbaikan kualitas pengajaran.
(c) Partisipasi secara langsung dalam pengembangan kurikulum, yaitu dalam kegiatan merumuskan tujuan, membuat penuntun mengajar bagi guru, dan memilih isi pengalaman belajar.
(d) Melaksanakan demonstrasi mengajar untuk guru-guru, serta
(e) Melaksanakan penelitian.
Sergiovanni dan Starratt (1979) berpendapat bahwa tugas utama supervisi adalah perbaikan situasi pengajaran.
Dari berbagai definisi tersebut, kelihatannya ada kesepakatan umum, bahwa kegiatan supervisi pengajaran ditujukan untuk perbaikan pengajaran.
Perbaikan itu dilakukan melalui peningkatan kemampuan profesional guru dalam melaksanakan tugasnya.
Untuk memudahkan kita dalam memahami supervisi pengajaran, dalam buku ini pengertian supervisi dirumuskan secara sederhana, yaitu semua usaha yang dilakukan oleh supervisor untuk memberikan bantuan kepada guru dalam memperbaiki pengajaran.
Kegiatan supervisi bertujun untuk memperbaiki proses dan hasil belajar-mengajar. Kegiatan utamanya adalah membantu guru, tetapi dalm konteksnya yang luas menyangkut komponen sekolah yang lain karena guru juga terkait dengan kompinen tata usaha, saran, lingkungan sekolah, dan lain-lain. Sasaran supervisi dapat kita bedakan menjadi dua, yaitu yang berhubungan langsung dengan pengajaran dan yang berhubungan dengan pendukung pengajaran. Himpunan Sarjana Administrasi Pendidikan Indonesia (HISAPIN) pada tahun 1992, menyarankan agar dibedakan antara supervisi satuan pendidikan dengan supervisi bidang studi atau, jika di sekolah dasar, dengan supervisi kelas.
Menurut beberapa ahli tentang pengertian suvervisi pendidikan, sebagai berikut:
o Menurut P. Adams dan Frank G. Dickey: Supervisi adalah suatu program yang memperbaiki pengajaran (Supervision is a planned program for the improvement of instruction ) .
o Dalam dictionary of education, Good Carter memberikan definisi sebagai berikut: “Supervisi adalah segala usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-guru dan petugas pendidikan lainnya dalam memperbaiki pengajaran, termasuk memperkembangkan pertumbuhan guru-guru, menyelesaikan dan merevisi tujuan pendidikan, bahan-bahan pengajaran dan metode mengajar dan penilaian pengajaran.
o Menurut Alexander dan Saylor: “Supervisi adalah suatu program inserviceeducation dan usaha memperkembangkan kelompok (group) secara bersama.
o Menurut Boardman: “Supervisi adalah suatu usaha menstimulir,mengkoordinir dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru sekolah, baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti, dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pegnajarna, sehingga dengan demikian mereka mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern.

2. Fungsi dan Peran Supervisi
Tugas seorang supervisor bukanlah untuk mengadili tetapi untuk membantu, mendorong, dan memberikan keyakinan kepada guru, bhawa proses belajar0mengajra dapat dan harus diperbaiki. Pengembangan berbagai pengalaman, pengetahuan, sikap, dan keterampilan guru harus dibantu secara profesional sehingga guru tersebut dapat berkembang dalam pekerjaannya.
Program-program supervisi hendaknya memberikan rangsangan terhadap terjadinya perubahan dalam kegiatan pengajaran. Perubahan-perubahan ini dapat dilakukan antara lain melalui berbagai usaha inovasi dalam pengembangan kurikulum serta kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam jabatan untuk guru.
Ada dua jenis supervisi dilihat dari peranannya dalam perubahan itu, yaitu:
1. Supervisi traktif, artinya supervisi yang hanya berusaha melakukan perubahan kecil karena menjaga kontinuitas.
2. Supervisi dinamik, yaitu supervisi yang diarahkan untuk mengubah secara lebih intensif praktek-praktek pengajaran tertentu.

B. Pelaksanaan Supervisi
Supervisor mempunyai wewenang tertentu sesuai dengan tugas yang dilaksanakan. Wewenang yang dimaksud adalah melaksakan koreksi memperbaiki, dan membina proses belajar mengajar bersama guru, sehingga proses itu mencapai hasil maksimal.
Pelaksanaan supervise pendidikan dengan menggunakan teknik-teknik di atas, perlu mempertimbangkan hal-hal praktis yang ada hubungannya dengan pelaksanaan program supervise pendidikan di sekolah secara menyeluruh, hal-hal yang menyangkut adalah sebagai berikut:
1. Lingkungan kegiatan (teknik edukatif dan administrasi)
Supervise merupakan bantuan yang diberikan kepada deluruh sekolah untuk meningkatkan kemampuan dalam menjalankan tugas dan bertujuan untuk mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik, sehingga dapat meningkatkan mutu pendidikan. Bantuan tersebut dapat diterapkan dalam bidang edukatif dan administrative.
2. Asas pelaksanaan
Pelaksanaan supervise dalam bidang teknis edukatif maupun teknis administrative hendaknya memperhatikan asas-asa berikut:
a. Terencana
b. Demokratis
c. Kooperatif
d. Konstruktif
e. Terpadu

3. Pelaksanaan Supervisi
Berdasarkan maslah yang dihadapi, pelaksanaan supervise dapat dibedakan dala dua macam, yakni:
a. Supervise biasa, yang dilaksanakan secara continue berdasarkan program supervise tahunan atau semester.
b. Supervise darurat, yang dilaksanakan jika ada suatu kasus yang timbul di sekolah dan menghendaki penyelenggaraan segera.

Sedangkan berdasarkan pelaksanaannya, supervise dapat dibedakan dalam dua bentuk, yakni:
a. Supervise intern, yang dilakukan oleh tugas pembinaan dalam unit organisasi sendiri oleh pimpinan di suatu organisasi.
b. Supervise ekstern, yang dilaksanakan oleh petugas dari Kantor Wilayah atau Departemen yang diberi wewenang untuk melakukan pembinaan terhadap sekolah.
4. Proses kegiatan supervise (pelaporan dan monitoring)
Secara sistematis, kegiatan-kegiatan supervise dapat dilaksanakan melalui tahapan:
a. Penyusunan Program,
b. Pelaksanaan Supervisi, dan
c. Tindak Lanjut.
Hal demikian tak luput dengan adanya:
a) Pelaporan b) Monitoring

C. Teknik Supervisi
Mempelajari berbagai pendekatan dalam supervisi memungkinkan guru untuk mempunyai wawasan yang kebih luas tentang kegiatan supervisi. Pendekatan itu antara lain adalah (1) pendekatan humanistik, (2)pendekatan kompetensi, (3) pendekatan klinis, dan (4) pendekatan profesional.
1. Pendekatan Humanistik
Pendekatan humanistik tidak mempunyai format yang sandar tetapi tergantung kepada kebutuhan guru.

Supervisi dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Pembicaraan awal
2. Observasi
3. Analisis dan interpretasi
4. Pembicaraan akhir
5. Laporan

2. Pendekatan Kompetensi
Pendekatan ini mempunyai makna bahwa guru harus mempunyai kompetensi tertentu untuk melaksakan tugasnya.
Pendekatan kompetensi didasarkan atas asumsi, bahwa tujuan supervisi adalah membentuk kompetensi minimal yang harus dikuasai guru.
Teknik supervisi yang menggunakan pendekatan kompetensi adalah sebagai berikut:
1) Menetapkan kriteria untuk kerja yang dikehendaki.
2) Menetapkan target untuk kerja.
3) Menentukan aktivitas untuk kerja.
4) Memonitor kegiatan untuk mengetahui bentuk kerja.
5) Melakukan penelitian terhadap hasil monitoring.
6) Pembicaraan akhir.

3. Pendekatan Klinis
a. Pengertian Supervisi Klinis
Supervisi klinis adalah suatu proses tatap muka antara supervisor dengan guru yang membicarakan hal mengajar dan yang ada hubungannya dengan itu. Goldhammer Anderson dan Krajewski (1980) mengemukakan sembilan karakteristik supervisi klinis, yaitu:
a) Merupakan teknologi dalam memperbaiki pengajaran.
b) Merupakan intervensi secara sengaja dalam proses pengajaran.
c) Berorientasi kepada tujuan, mengombinasikan tujuan sekolah, dan mengembangkan kebutuhan pribadi.
d) Mengandung pengertian hubungan kerja antara guru dan supervisor.
e) Memerlukan saling kepercayaan yang dicerminkan dalam pengertian, dukungan, dan komitmen untuk berkembang.
f) Suatu usaha yang sistematik, namun memerlukan keluwesan dan perubahan metodologi yang terus-menerus.
g) Menciptakan ketegangan yang kreatif untuk menjembatani kesenjangan antara keadaan real dan ideal.
h) Mengasumsikan bahwa supervisor mengetahui lebih banyak dibandingkan dengan guru.
i) Memerlukan latihan untuk supervisor.

Sasaran supervisi klinis adalah perbaikan pengajaran dan bukan perbaikan kepribadian guru. Untuk itu supervisor dharapkan untuk mengajarkan berbagai keterampilan kepada guru yang meliputi antara lain: a) keterampilan mengamati dan memahami (mempersepsi) proses pengajaran secara analitis, b) Keterampilan menganalisis proses pengajaran secara rasional berdasarkan bukti-bukti pengamatan yang jelas dan tepat, c) keterampilan dalam pembaruan kurikulum, pelaksanaan, serta pencobaannya, dan d) keterampilan dalam mengajar.
Sasaran supervisi klinis sering dipusatkan pada: (a) kesadaran dan kepercayaan diri dalam melaksanakan tugas mengajar (b) keterampilan-keterampilan dasar yang diperlukan dalam mengajar (generic skills), yang meliputi: (a) keterampilan dalam menggunakan variasi dalam mengajar dan menggunakan stimulasi, (b) keterampilan melibatkan siswa dalam proses belajar, serta (c) keterampilan dalam mengelola kelas dan disiplin kelas.
Terdapat 5 langkah dalam melaksakan supervisi klinis, yaitu: (a) pembicaraan pra-observasi, (b) melaksanakan observasi, (c) melakukan analisis dan menentukan strategi, (d) melakukan pembicaraan tentang hasil supervisi serta (e) melakukan analisis setelah pembicaraan.

4. Pendekatan Profesional
Asumsi dasar pendekatan ini adalah bahwa karena tugas utama profesi itu adalah mengajar maka sasaran supervisi juga harus mengarahkan pada hal-hal yang menyangkut tugas mengajar itu, dan bukan tugas guru yang sifatnya administratif.
Melalui penggugusan, KKG dan PKG maka langkah-langkah kegiatan pembinaan sebagai berikut:
1) Tahap Prapertemuan.
2) Tahap Pengajuan Masalah.
3) Tahap Pembahasan.
4) Tahap Implementasi.
5) Tahap Pengumpulan Balikan.

5. Peranan Guru dalam Supervisi
Seperti telah dikemukakan, supervisi pendidikan bertujuan untuk membantu guru dalam memperbaiki proses belajar-mengajar melalui peningkatan kompetensi guru itu sendiri dalam melaksanakan tugas profesional mengajarnya. Guru hendaknya secara aktif memberikan masukan kepada supervisor tentang masalah yang dihadapi dalam mengajar. Fokus utama dalam pelaksaan supervisi adalah guru. Fase evaluasi program supervisi merupakan kesempatan yang baik bagi guru untuk mengetahui kemajuan yang telah dicapai dan kekurangan apa yang masih harus diperbaiki.
Pada hakikatnya, terdapat banyak teknik dalam menyelenggarakan program supervise pendidikan. Dari sejumlah teknik yang dapat diterapkan dalam pembelajaran, ditinjau dari banyaknya guru dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian besar, yakni teknik individual dan teknik kelompok. Berikut uraiannya:
1. Teknik Individual
Teknik Individual adalah supervisi yang dilakukan secra perseorangan, teknik ini digunakan apabila masalah yang dihadapi bersifat pribadi apa lagi khusus atau “secret”. Beberapa kegiatan yang dilakukan antara lain:
a. Kunjungan kelas
b. Observasi kelas
c. Pertemuan individu
d. Kunjungan natar kelas
e. Menilai diri sendiri.

2. Teknik Kelompok
Teknik kelompok adalah teknik yang digunakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam suatu kelompok. Beberapa orang yang diduga memiliki masalah dikelompokkan secara bersama kemudian diberi pelayanan supervise sesuai dengan permaslahan yang mereka hadapi. Banyak bentuk-bentuk dalam teknik yang bersifat kelompok ini, namun di antaranya yang lebih umum adalah sebagai berikut:
– Pertemuan Orientasi bagi Guru Baru – Demonstrasi Mengajar
– Rapat Guru – Perpustakaan Jabatan
– Kepanitiaan – Bulletin Supervisi
– Diskusi – Membaca Langsung
– Seminar – Mengikuti Kursus
– Tukar Menukar Pengalaman – Laboratorium Kurikulum
– Lokakarya (Workshop) – Organisasi Jabatan
– Diskusi Panel – Simposium
– Perjalanan Sekolah untuk staff

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Administrasi pendidikan bertujuan untuk mencapai tujuan pendidikan. Pengertian administrasi pendidikan dapat dirumuskan dari berbagai sudut pandang, seperti kerjasama, proses kerjasama, sistem dan mekanismenya manajemen, kepemimpinan proses pengambilan keputusan, komunikasi dan ketatausahaan. Lingkup pembicaraan tentang administrasi pendidikan itu juga tergantung pada level tujuan pendidikan yang ingin dicapai, yaitu pada tingkat kelas dampai pada tingkat sistem pendidikan nasional. Makin luas cakupannya makin banyak yang terlibat dan makin komplek permasalahannya.
Supervisi pendidikan adalah Suatu aktivitas pembinaan terencana yang berorientasi kepada Guru dan Pegawai sekolah Secara efektif . Pada hakekatnya tujuan supervise adalah memperbaiki atau meningkatkan proses belajar mengajar. Fungsi supervise dapat disimpulkan sebagi alat untuk menungkatkan kulaitas dan kuantitas kepada semua pihak yang berhubungan dengannya dan melestarikannya

B. SARAN

Adapun saran yang akan kami tulis mengenai hal-hal yang dibahas dalam makalah ini, yakni bahwa sudah jelas administrasi pendidikan sangatlah penting dan menunjang sekali terutama bagi para pengajar yaitu guru, dan kita sebagai mahasiswa yang identiknya menjurus pada keguruan, harus benar-benar memahami bagaimana administrasi pendidikan tersebut.
Agar nantinya terlahir guru-guru yang profesional atau seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin sejati. Dan Supervisi memiliki tujuan yang sangat penting untuk dicapai, oleh karena itu supervisi tentunya memiliki manfaat yang sangat penting. Diantara manfaat supervisi adalah Mengkoordinasi semua usaha sekolah, Memperlengkapi kepemimpinan sekolah, Memperluas pengalaman guru, Menstimukasi usaha-usaha sekolah yang kreatif, Memberi fasilitas dan penilaian yang terus menerus dan masih banyak lagi manfaat atau fungsi supervisi pendidikan tersebut. Selain memiliki tujuan dan fungsi, supervisi juga memiliki prinsip dasar dalam proses pelaksanaannya.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 1988. Organisasi dan Administrasi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Jakarta : Ditjen Dikti.
Culbertson, J.. 1982. Educational Administration and Planning at a Crossroads in Knowledge Development. Nigeria: University of Ibadan. 1982.
Departemen Dalam Negeri, Dep. Pendidikan dan Kebudayaan, dan Dep. Keuangan. 1983. Petunjuk Administrasi Program Pengajaran. Jakarta: Depdikbud.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. 1990. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Menengah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
_______. 1990. Undang – undang Republik Indonesia No 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta : Ditjen Dikti.
Harris, Ben M.. 1975. Supervisory Behavior in Education. New Jersey: Prentice Hall.
Milstein, M.M. and Belasco, J.A. (Ed). 1973. Educational Administration and Behavioral Sciences; A system Perspective. Boston; Allyn and Bacon, Inc.
Sondang P. Siagian. 1985. Filsafat Administrasi. Jakarta : Gunung Agung.
Bolla, John I.. 1984. Supervisi Klinis. Jakarta: Depdikbud.
Depdikbud RI. 1976. Kurikulum Sekolah 1975, Garis-Garis Besar Program Pengajaran. Buku III D, Pedoman Administrasi dan Supervisi. Jakarta: Balai Pustaka.
_______. 1984. Pedoman Pembinaan Guru Mata Pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa. Jakarta: Balitbang Dikbud.
Goldhammer, Robert; Anderson, Roberth H.; Krajewski Robert J.. 1980. Clinical Supervision: Special Methods for the Supervision of Teachers. New York: Holt, Rinehart and Winston.
Harris, Ben M.. 1975. Supervisory Behavior in Education. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Himpunan Sarjana Administrasi Pendidikan Indonesia (HISAPIN). 1992. “Hasil Sarasehan Nasional di Lembang, tanggal 22 s.d. 25 November 1992”. Bandung.
Sutjipto, dkk. 1988 Supervisi, Materi Pemantapan Kerja Pengawas, Kepala SMTP/SMTA, Pengawas TK/Sekolah dan Tenaga Potensial Lainnya. Padang: Kanwil Depdikbud Sumatra Barat.
Udai Pareek. 1981. Beyond Management. New Delhi: Mohan Primlani, Oxford & IBH Publishing Co.
Departemen P dan K, Kurikulum, Usaha-Usaha Perbaikan dalam Bidang Pendidikan dan Administrasi Pendidikan, Proyek Penyediaan Buku-Buku Pelajaran Sekolah Guru Tahun III, Pelita 1971 / 1972.
Good Carter, V., 1959, Dictionary of Education, Second Edition.
Robert E. Wilson, 1966, Educational Administration, Charles E., Merril Books, Inc, Colombus, Ohio.
Burhanudin, Yusak, Administrasi Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia, 2005.
Daryanto, Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2001.
Daryanto, Administrasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 1998.
Nawawi, Hadari, Administrasi Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung, 1997.
Ngalim purwanto, M, Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2010.
Sagala, Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta, 2005.
Siagian Sondang, P, Kerangka Dasar Ilmu Administrasi. Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992.
Sutisna, Oteng, Administrasi Pendidikan Dasar Teoritis dan Praktis Profesional. Bandung: Angkasa, 1993.
Supandi, Administrasi dan Supervisi Pendidikan,Universitas Terbuka dan Dirjen Pembinaan dan Kelembagaan Agama Islam. Jakarta. 1990.
Ametembun, Supervisi Pendidikan. Bandung: IKIP Bandung, 1975.
Gunawan, Ary H. Administrasi Sekolah (Administrasi Pendidikan Mikro). Jakarta: PT Rineka Cipta, 1996.
Burhanuddin, Analisi Administrasi Manajmen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Drs. Hendiyat Soemanto, Kepemimpinan dan Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara, 1988.
Prof. Drs. Piet A. Sahertian, Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2000.
Purwanto, Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1998.

http://zona-prasko.blogspot.com/2012/09/pengertian-administrasi-pendidikan.html
http://gudangmaterikuliah.blogspot.com/2012/02/fungsi-fungsi-administrasi-pendidikan.htm

http://rifaty.blogspot.com/2012/10/teknik-teknik-supervisi-pendidikan.html

Add a comment Mei 29, 2013

BIMBINGAN DAN KONSELING

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan segala puji syukur kepada atas Khadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memmberikan rahmat, taufik serta hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyusun makalah ini yang membahas tentang BIMBINGAN DAN KONSELING dan PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH DAN PERANAN GURU DALAM PELAKSANAANYA.
Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada pihak yang telah berjasa dalam penyusunan makalah ini.Pertama, kepada Drs. Aris Djinal selaku dosen pembimbing mata kuliah Profesi Kependidikan, kedua kepada pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat kekurangan dan tidak kesempurnaan , karena itu, demi perbaikan makalah ini segala kritik, saran, tegur dan masukan yang membangun akan senantiasa kami terima dengan lapang hati. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi para mahasiswa.

Banjarmasin, 28 April 2013

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Manfaat dan Tujuuan 3
BAB II BIMBINGAN DAN KONSELING
A. Pengertian Bimbingan dan Konseling 4
B. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam
Pendidikan di Sekolah 11
C. Tujuan Bimbingan di Sekolah 12
D. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam
Pembelajaran Siswa 15
E. Landasan Bimbingan dan Konseling 17
F. Prinsip-Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling
di Sekolah 17
G. Asas-asas Bimbingan dan Konseling 20
H. Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling 20
I. Kode Etik Bimbingan dan Konseling 21
BAB III PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH DAN PERANAN
GURU DALAM PELAKSANAANNYA
A. Pengertian Program Bimbingan di Sekolah 24
B. Peranan Guru dalam Pelaksanaan 30
C. Kerja Sama Guru dengan Konselor
dalam Layanan Bimbingan 34
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 35
B. Saran-saran 36
DAFTAR PUSTAKA 37

BAB I
PEDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bimbingan Konseling merupakan suatu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya, dan siswa pada khususnya di sekolah. Menurut Sertzer dan Stone, bimbingan merupakan proses membantu orang perorangan untuk memahami dirinya sendiri dan lingkungan hidupnya. Sedangkan konseling sendiri berasal dari kata latin “Consilum” yang berarti “dengan” atau “bersama” dan “mengambil atau “memegang”. Maka dapat dirumuskan sebagai memegang atau mengambil bersama.’
Pada bimbingan dan konseling di Indonesia, pelayanan konseling dalam sistem pendidikan Indonesia mengalami beberapa perubahan nama. Pada kurikulum 1984 semula disebut Bimbingan dan Penyuluhan (BP), kemudian pada Kurikulum 1994 berganti nama menjadi Bimbingan dan Konseling (BK) sampai dengan sekarang. Layanan BK sudah mulai dibicarakan di Indonesia sejak tahun 1962. Namun BK baru diresmikan di sekolah di Indonesia sejak diberlakukan kurikulum 1975. Kemudian disempurnakan ke dalam kurikulum 1984 dengan memasukkan bimbingan karir didalamnya. Perkembangan BK semakin mantap pada tahun 2001 dan sampai saat ini terus berkembang
Pada bimbingan dan konseling di Dunia Internasional Sampai awal abad ke-20 belum ada konselor disekolah. Pada saat itu pekerjaan-pekerjaan konselor masih ditangani oleh para guru. Gerakan bimbingan disekolah mulai berkembang sebagai dampak dari revolusi industri dan keragaman latar belakang para siswa yang masuk kesekolah-sekolah negeri. Tahun 1898 Jesse B. Davis, seorang konselor di Detroit mulai memberikan layanan konseling pendidikan dan pekerjaan di SMA. Pada tahun 1907 dia memasukkan program bimbingan di sekolah tersebut. Pada waktu yang sama para ahli yang juga mengembangkan program bimbingan ini diantaranya; Eli Weaper, Frank Parson, E.G Will Amson, Carlr. Rogers.

Terlepas dari predikat guru bimbingan dan konseling, pada dasarnya guru adalah jabatan profesional yang harus dipertanggungjawabkan secara profesional pula. Guru adalah jabatan yang memerlukan keahlian khusus. Sikap, perilaku dan pemikiran seorang guru harus tercermin dalam idealismenya. Oleh karena itu, pemahaman atas jabatan guru penting artinya dalam rangka mengabdikan dirinya terhadap nusa, bangsa dan negara. Jenis pekerjaan ini seharusnya tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar lingkup pendidikan. Demikian pula halnya dengan jabatan fungsional guru bimbingan dan konseling yang sesungguhnya hanya dapat dilaksanakan secara optimal oleh mereka yang memang memiliki latar belakang kependidikan seperti itu. Jika suatu jabatan fungsional dilakukan oleh orang yang tidak memiliki latar belakang pendidikan dan keprofesian yang benar, maka sangat besar kemungkinannya terjadi penyimpangan peri-laku, penyimpangan kegiatan, dan penyimpangan penafsiran di luar batas kewajaran yang seharusnya. Itulah yang terjadi dalam ruang lingkup bimbingan dan konseling di tingkat sekolah dasar pada dewasa ini.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka permasalahan yang hendak dikaji adalah:
1. Apa pengertian Bimbingan dan Konseling?
2. Bagaimana peranan guru dalam Bimbingan Konseling?
3. Apa tujuan Bimbingan Konseling di Sekolah?
4. Apa Fungsi dan Bimbingan Konseling?
5. Apa saja Langkah –langkah penyusunan program bimbingan
C. Manfaat dan Tujuan
1. Tujuan penyusunan makalah
a. Menjelaskan pengertian Bimbingan dan Konseling .
b. Menjelaskan bagaimana peranan guru dalam bimbingan konseling di sekolah
2. Manfaat penyusunan makalah
a. Untuk mengetahui pengertian bimbingan dan konseling.
b. Untuk mengetahui bagaimana peranan guru dalam bimbingan konseling di sekolah.

BAB II
BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Pengertian Bimbingan dan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan dua istilah yang sering dirangkaikan bagaikan kata majemuk. Hal ini mengisyaratkan bahwa kegiatan bimbingan kadang-kadang dilanjutkan dengan kegiatan konseling. Beberapa ahli mennyatakan bahwa konseling merupakan inti atau jantung hati dari kegiatan bimbingan. Ada pula yang menyatakan bahwa konseling merupakan salah satu jenis layanan bimbingan. Dengan demikian dalam sitilah bimbingan sudah termasuk di dalamnya kegiatan konseling. Kelompok yang sesuai dengan pandangan di atas menyatakan bahwa terminologi layanan bimbingan dan konseling dapat diganti dengan layanan bimbingan saja.
Untuk memperjelas pengertian kedua istilah tersebut, berikut ini dikemukakan pengertian bimbingan dan pengertian konseling.
1. Pengertian Bimbingan
Menurut Jones (1963), Guidance is the help given by one person to another in making choice and adjustments and in solving problems. Dalam pengertian tersebut terkandung maksud bahwa tugas pembimbing hanyalah membantu agar individu yang dibimbingmampu membantu dirinya sendiri , sedangkan keputusan terakhir tergantung kepada individu yang dibimbing (klien) (Jones 1963).
Ini senada dengan pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Rochman Natawidjaja (1978):

Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat. Definisi bimbingan dikemukakan dalam Year’s Book of Education, 1955, Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usahanya sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.
Menurut Frank Miller (1961), Bimbingan adalah proses membantu individu untuk mencapai pemahaman diri dan arah diri terutama untuk membuat penyesuaian terhadap sekolah, keluarga dan masyarakat umum.
Crow and Crow (1960) merumuskan bahwa, Bimbingan adalah bantuan yang diberikan oleh seseorang yang memiliki pribadi terpercaya dan pendidikan yang memadai, baik ia pria atau wanita kepada seseorang individu berbagai tingkat usia agar mereka dapat mengendalikan kegiatan-kegiatan hidupnya sendiri, mengembangkan arah titik pandangnya sendiri, membuat keputusan sendirindan memikul bebannya sendiri.
Sedangkan Rachman Natawijaya (1972) berpendapat bahwa, Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut memahami dirinya, sehingga ia sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serta masyarakat.
Stoops dan Walquist mendefinisikan bimbingan adalah proses yang terus-menerus dalam membantu perkembangan individu untuk mencapai kemampuannya secara maksimum dalam mengarahkan manfaat yang sebesar-besarnya baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat. (Depdikbud, 1981).
Menurut Andi Mapiare (1984), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan secara metodis dan demokratis dari seseorang yang memiliki kompetensi memadai dalam menerapkan pendekatan, metode dan teknik layanan kepada individu (murid) agar si terbantu ini lebih memahami diri, menerima diri, mengarahkan diri dan memiliki kemampuan nyata dalam mencapai penyesuaian, membuat pilihan dan memecahkan persoalan-persoalan secara lebih memedai sesuai dengan tingkat perkembangan yang dicapainya. Kesemuanya itu ditujukan untuk mencapai kesejahteraan mental dan kebahagiaan yang bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.
Depdikbud dalam Kurikulum SMU 1994, Bimbingan merupakan suatu bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan.
Pangaribuan (2005) mengintroduksi pendapat beberapa ahli yang menyatakan bahwa bimbingan ialah pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain dalam membuat pilihan, mengadakan penyesuaian, dan dalam memecahkan masalah. Bimbingan biasanya dipakai dalam dunia pendidikan untuk pertolongan yang diberikan kepada pelajar dalam menyelesaikan masalah-masalah yang berada di luar situasi mengajar di kelas.
Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, agar individu itu dapat memahami diri, mengarahkan diri, membuat keputusan sendiri, memikul tanggung jawab sendiri dan bertindak wajar

Selanjutnya Bimo Walgito (1982: 11) menyarikan beberapa rumusan bimbingan yang dikemukakan para ahli, sehingga mendapatkan rumusan sebagai berikut:
Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada idividu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya, agar individu ata sekumpulan individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya.

Dari beberapa pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh banyak ahli itu, dapat dikemukakan bahwa bimbingan merupakan: (a) suatu proses yang berkesinambungan,(b) suatu proses membantu individu, (c) bantuan yang diberikan itu dimaksudkan agar individu yang bersangkutan dapat mengarhkan dan mengembangkan dirinya secara optimal sesuai dengan kemampuan/potensinya, dan (d) kegiatan yang bertujuan utama memberikan bantuan agar individu dapat memahami keadaan dirinya dan mampu menyesuaikan dengan lingkungannya.
Menurut Abu Ahmadi (1991: 1), bahwa bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu mengembangkan diri secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik. Hal senada juga dikemukakan oleh Prayitno dan Erman Amti (2004: 99), Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa; agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.

2. Pengertian Konseling
Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang. (Tolbert, dalam Prayitno 2004 : 101).
Istilah konseling berasal dari bahasa Inggris “to counsel” yang secara etimologis berarti “to give advice” (Homby: 1958:246) atau memberi saran dan nasihat.
Istilah konseling (counseling) diartikan sebagai penyuluhan. Pelayanan konseling menuntut keahlian khusus, sehingga tidak semua orang yang dapat memberikan bimbingan mampu memberikan jenis layanan konseling ini (Winkel, 1978)
Konseling merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dan tatap muka antara guru/konselor dengan klien itu mampu memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah yang dihadapinya dan mampu mengarahakn dirinya untuk mengembangkan potensi yang dimiliki ke arah perkembangan yang optimal, sehingga ia dapat mencapai kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial.

Banyak ahli yang memberikan makna tentang konseling. Menurut James P. Adam yang dikutip oleh Depdikbud (1976: 19a):
Konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu di mana yang seorang (konselor) supaya dia dapat lebih baik memahami dirinya dalam hubungannya dengan masalah hidup yang dihadapinya oada waktu itu dan pada waktu yang akan datang.

Bimo Walgito (1982:11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecahkan masalah kehidupannya dengan wawancara, dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya (Bimo Walgito 1982:11).
Mc. Daniel,1956 menjelaskan bahwa Konseling adalah suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan kapadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinyasendiri dan lingkungan.
Smith,dalam Shertzer & Stone,1974 menjabarkan bahwa Konseling merupakan suatu proses dimana konselor membantu konseli membuat interprestasi-interprestasi tentang fakta-fakta yang berhubungan dengn pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
Konseling, menurut Division of Conseling Psychologi merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu.
Berdnard & Fullmer ,1969 menjelaskan Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan,motivasi,dan potensi-potensi yang yang unik dariindividu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut.
Jones ,1951, mengartikan konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia dapat bantuan pribadi da langsung dalam pemecahan masalah itu.
Winkell (2005 : 34), mengemukakan bahwa Konseling merupakan serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli / klien secara tatap muka langsung dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap bebagai persoalan atau masalah khusus maka masalah yang dihadapi oleh klien dapat teratasi semuanya.
Hal senada juga dikemukakan oleh Blocher dalam Shertzer & Stone (1969), Konseling adalah membantu individu agar dapat menyadari dirinya sendiri dan memberikan reaksi terhadap pengaruh-pengrauh lingkungan yang diterimanya, selanjutnya, membantu yang bersangkutan menentukan beberapa makna pribadi bagi tingkah laku tersebut dan mengembangkan serta memperjelas tujuan-tujuan dan nilai-nilai untuk perilaku dimasa yang akan datang.
Talbert (1959) mengungkapkan Pengertian Konselingsebagai hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang dalam mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konseli dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.
Prayitno dan Erman Amti (2004:105) menjelaskan Definisi Konseling sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.

Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa kegiatan konseling itu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Pada umumnya dilaksanakan secara individual.
b) Pada umumnya dilakukan dalam suatu perjumpaan tatap muka.
c) Untuk pelaksaan konseling dibutuhkan orang yang ahl.
d) Tujuan pembicaraan dalam proses konseling ini diarahakan untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien.
e) Individu yang menerima layanan (klien) akhirnya mampu memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri.

B. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan di Sekolah
Kehadiran konselor di sekolah dapat meringankan tugas guru (Lundquist dan Chamely yang dikutip oleh Belkin, 1981). Mereka menyatakan bahwa konselor ternyata sangat membantu guru, dalam hal:
1. Mengembangkan dan memperluas pandangan guru tentang masalah afektif yang mempunyai kaitan erat dengan profesinya sebagai guru.
2. Mengembangakan wawasan guru bahwa keadaan emosionalnya akan mempengaruhi proses belajar-mengajar.
3. Mengembangkan sikap yang lebih positif agar proses belajar siswa lebih afektif,
4. Mengatasi masalah-masalah yang ditemui guru dalam melaksanakan tugasnya.

C. Tujuan Bimbingan di Sekolah
Dalam kurikulum SMA tahun 1975 Buku III C dinyatakan bahwa tujuan bimbingan di sekolah adalah membantu siswa:
1) Mengatasi kesulitan dalam belajranya, sehingga memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
2) Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar-mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
3) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
4) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan kelanjutan study.

5) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka tamat.
6) Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial-emosional di sekolah yang bersumber dari sikapa murid yang bersangkutan terhadap dirnya sendiri, terhadap lingkungan sekolah, keluarga, an lingkungan yang lebih luas.
Downing (1968) juga mengemukakan bahwa tujuan layanan bimbingan di sekolah sebenarnya sama dengan pendididkan terhadap diri sendiri, yaitu membantu siswa agar dapat memenuhi kebutuhan-kebutukan sosial psikologis mereka, merealisasikan keinginannya, serta mengembangkan kemampuan atau potensinya.

• Tujuan Program Bimbingan dan Konseling
Menurut Dewa Ketut Sukardi Dan Desak Made Sumiati (2005:3) tujuan program bimbingan dan konseling disekolah terdiri dari : (1) Tujuan umum, dan (2) Tujuan Khusus. Tujuan dimaksud adalah sebagai berikut :
a. Tujuan Umum Program Bimbingan
1) agar siswa dapar memperkembangkan pengertian dan pemahaman diri dalam kemajuannya disekolah
2) agar siswa dapat memperkembangkan pengatahuan tetang dunia kerja, kesempatan kerja serta rasa tanggung jawab dalam memilih suatu kesempatan kerja tertentu.
3) agar siswa dapat memperkembangkan kemampuan untuk memilih dan mempertemukan pengetahuan tentang dirinya dengan informasi tentang kesempatan yang secara tepat dan bertanggung jawab.
4) agar siswa dapat mewujudkan penghargaan terhadap kepentingan dan harga diri orang lain.

b. Tujuan Khusus Program Bimbingan
1) agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri.
2) agar siswa memiliki kemampuan untuk mengatasi kesulotan dalam memahami lingkungannya.
3) agar siswa memiliki kemampuan dalam mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang dihadapinya.
4) agar para siswa memiliki kemampuan untuk mengastasi dan menyalurkan potensi-potensi yang dimilikinya dalam pendidikan dan lapangan kerja secara tepat.

• Fungsi Bimbingan dan Konseling
Pelayanan bimbingan dan konseling yang akan diberikan kepada peserta didik berdasarkan fungsinya masing-masing. Sejalan dengan itu, Uman Suherman (dalam Achmad Juntika Nurihsan 2008) menyatakan bahwa secara umum, fungsi bimbingan dan konseling dapat diu raikan sebagai berikut :
a. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan dan konseling membantu konseli (klien) agar memiliki pemahaman terhadap dirinya (potensinya) dan lingkungannya ( pendidikan, pekerjaan, dan norma-norma).
b. Fungsi preventif, yaitu fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya agar tidak dialami oleh konseli (klien)
c. Fungsi pengembangan, yaitu fungsi bimbingan yang lebih proaktif dari pada fungsi-fungsi lainnya.
d. Fungsi penyembuhan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya kuratif, membantu konseli yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar dan karir.
e. Fungsi penyaluran, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, dan memantapkan penguasaan karir atyau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan cirri kepribadiaan lainnya.
f. Fungsi adaptasi, yaitu fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepala sekolah, staf, konselor, dan menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan dan kebutuhan konseli.
g. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi bimbingan dan konseling dalam lingkungannya yang dinamis dan konstruktif.

h. Fungsi perbaikan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan dan bertindak(berkehendak).
i. Fungsi fasilatasi, memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras dan seimbang dalam seluruh aspek dalam diri konseli.
j. Fungsi pemiliharaan, yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.

Fungsi-fungsi diatas diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis layanan dan kegiatan untuk mencapai hasil sebagaimana terkandung didalam masing-masing fungsi itu. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan harus secara lansung kepada satu atau lebih tugas-tugas tesebut agar hasil-hasil yang hendak dicapainya secara jelas dapat diidentifikasi.

D. Peranan Bimbingan dan Konseling dalam Pembelajaran Siswa
Bimbingan dan Konseling dapat memberikan layanan dalam: (1) bimbingan belajar,(2) bimbingan sosial, dan (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.
1. Bimbingan Belajar
Bimbingan ini antara lain:
a) Cara belajar, baik belajar secara kelompok ataupun individual.
b) Cara bagaimana merencanakan waktu dan kegiatan belajar.
c) Efisiensi dalam menggunakan buku-buku pelajaran.
d) Cara mengatasi kesulitan-kesulitan yang berkaitan dengan mata pelajaran tertentu.
e) Cara, proses, dan prosedur tentang mengikuti pelajaran.

Di samping itu, Winkel (1978) mengatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling mempunyai peranan penting untuk membantu siswa, antara lain dalam hal:
a) Mengenal diri sendiri dan mengerti kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, baik sekarang maupun yang akan datang.
b) Mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajarnya.

2. Bimbingan sosial
Menurut Abu Ahmadi (1977) bimbingan sosial ini dimaksudkan untuk:
a) Memperoleh kelompok belajar dan bermain yang sesuai.
b) Membantu memperoleh persahabatan yang sesuai.
c) Membantu mendapatkan kelompok sosial untuk memecahkan masalah tersebut.

Di samping itu, bimbingan sosial juga dimaksudkan agar siswa dapat melakukan penyesuaian diri terhadap teman sebayanya baik di sekolah maupun di luar sekolah (Downing, 1978).

3. Bimbingan dalam Mengatasi Masalah-Masalah Pribadi
Masalah-masalah pribadi ini juga sering ditimbulkan oleh hubungan muda-mudi. Selanjutnya juga dikemukakan oleh Downing (1986) bahwa layanan bimbingan di sekolah sangat bermanfaat, terutama dalam membantu:
a) Menciptakan suasana hubungan sosial yang menyenangkan.
b) Menstimulasi siswa agar mereka meningkatkan partisipasinya dalam kegiatan belajar-mengajar.
c) Menciptakan atau mewujudkan pengalaman belajar yang lebih bermakna.
d) Meningkatkan motivasi belajar siswa.
e) Menciptakan dan menstimulasi tumbuhnya minat belajar.
E. Landasan Bimbingan dan Konseling
Menurut Winkel (1991) landasan-landasan itu adalah sebagai berikut:
1) Bimbingan selalu memperhatikan perkembangan siswa sebagai individu yang mandiri dan mempunyai potensi untuk berkembang.
2) Bimbingan berkisar pada dunia subjektif masing-masing individu.
3) Kegiatan dilaksanakan atas dasar kesepakatan antara pembimbing dengan yang dibimbing.
4) Bimbingan berlandaskan pengakuan akan martabat dan keluhuran individu yang dibimbing sebagai manusia yang mempunyai hak-hak asasi (human rights).
5) Bimbingan adalah suatu kegiatan yang bersifat ilmiah yang mengintergrasikan bidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan pemberian bantuan psikologis.
6) Pelayanan ditujukan kepada semua siswa, tidak hanya untuk individu yang bermasalah saja.
7) Bimbingan merupakan suatu proses, yaitu berlangsung secara terus menerus, berkesinambungan, berurutan, dan mengikuti tahap-tahap perkembangan anak.
F. Prinsip-Prinsip Operasional Bimbingan dan Konseling di Sekolah
1. Prinsip-Prinsip Umum
Prinsip-prinsip umum ini antara lain:
a) Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikapa dan tingkah laku individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku individu itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh pengalam-pengalamannya. Oleh karena itu, dalam pemberian layanan perlu dikaji kehidupan masa lalu klien, yang diperkirakan mempengaruhi timbulnya masalah tersebut.

b) Perlu dikenal dan dipahami karakteristik individual dari individu yang dibimbing.
c) Bimbingan diarahkan kepada bantuan yang diberikan supaya individu yang bersangkutan mampu membantu atau menolong dirinya sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya.
d) Program bimbingan harus sesuai dengan program pendidikan di sekolah yang bersangkutan.
e) Pelaksaan program bimbingan harus dipimpin oleh seorang petugas yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan sanggup bekerja sama dengan para pembantunya serta dapat dan bersedia mempergunakan sumber-sumber yang berguna di luar sekolah.
f) Terhadap program bimbingan harus senantiasa diadakan penilaian secara teratur untuk mengetahui sampai di mana hasil dan manfaat yang diperoleh serta penyesuaian antara pelaksaan dan rencana yang dirumuskan terdahulu.
2. Prinsip-Prinsip yang Berhubungan dengan Individu yang Dibimbing
a) Layanan bimbingan harus diberikan kepada semua siswa.
b) Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas layanan kepada siswa tertentu.
c) Program bimbingan harus berpusat pada siswa.
d) Layanan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang yang bersangkutan secara serba ragam dan serba luas.
e) Keputusan terakhir dalam proses bimbingan ditentukan oleh individu yang dibimbing,
f) Individu yang mendapat bimbingan harus berangsur-angsur dapat membimbing dirinya sendiri.

3. Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Individu yang Memberikan Bimbingan
a) Konselor di sekolah dipilih atas dasar kualifikasi kepribadian, pendidikan, pengalaman, dan kemampuannya.
b) Konselor harus mendapat kesempatan untuk mengembangkan dirinya serta keahliannya melalui berbagai latihan penataran.
c) Konselor hendaknua selalu mempergunakan informasi yang tersedia mengenai individu yang dibimbing beserta lingkungannya, sebagai bahan untuk membantu individu yang bersangkutan ke arah penyesuaian diri yang lebih baik.
d) Koselor harus menghormati dan menjaga kerahasiaan informasi tentang individu yang dibimbinganya.
e) Konselor hendaknya mempergunakan berbagai jeis metode dan teknik yang tepat dalam melakukan tugasnya.
f) Konselor hendaknya memperhatikan dan mempergunakan hasil penelitian dalam bidang: minat, kemampuan, dan hasil belajar individu untuk kepentingan perkembangan kurikulum sekolah yang bersangkutan.
4. Prinsip-Prinsip Khusus yang Berhubungan dengan Organisasi dan Administrasi Bimbingan
a) Bimbingan harus dilaksanakan secara berkesinambungan.
b) Dalam pelaksaannya bimbingan harus tersedia kartu pribadi (cumulative record) bagi setiap individu (siswa)
c) Program bimbingan harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah yang bersangkutan.
d) Pembagian waktu harus diatur untuk setiap petugas secara baik.
e) Bimbingan harus dilaksanakan dalam situasi individual dan dalam situasi, kelompok sesuai dengan masalah dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah itu.
f) Sekolah harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga di luar sekolah yang menyelenggarakan layanan yang berhubungan dengan bimbingan dan penyuluhan pada umumnya.
g) Kepala sekolah memegang tanggung jawab tertinggi dalam pelaksaan bimbingan.
G. Asas-asas Bimbingan dan Konseling
Dalam kegiatan/layanan bimbingan dan konseling menurut Prayitno (1982) ada beberapa asas yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Asas Kerahasiaan
2. Asas Keterbukaan
3. Asas Kesukarelaan
4. Asas Kekinian
5. Asas Kegiatan
6. Asas Kedinamisan
7. Asas Keterpaduan
8. Asas Kenormatifan
9. Asas Keahlian
10. Asas Alih Tangan
11. Asas Tut Wuri Handayani
H. Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling
Layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada:
1. Orientasi Individual
2. Orientasi Perkembangan
3. Orientasi Masalah

I. Kode Etik Bimbingan dan Konseling
Sehubungan dengan itu, Bimo Walgito (1980) mengemukakan beberapa butir rumusan kode etik bimbingan dan konseling sebagai berikut:
1. Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang pembimbing dan penyuluhan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
2. Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannyaatau wewenangnya.
3. Oleh karena pekerjaan pembimbing langsung berkaitan dengan kehidupan pribadi orang seperti telah dikemukakan maka seorang pembimbing harus:
a) Dapat memegang atau menyimpan rahasia klien dengan sebaik-baiknya.
b) Menunjukkan sikap hormat kepada klien.
c) Menunjukkan penghargaan yang sama kepada bermacam-macam klien.
d) Pembimbing tidak diperkenankan:
(1) Menggunakan tenaga-tenaga pembantu yang tidak ahli atau tidak terlatih.
(2) Menggunakan alat-alat yang kurang dapat dipertanggung jawabkan.
(3) Mengambil tindakan-tindakan yang mungkin menimbulkan hal-hal yang tidak baik bagi klien.
(4) Mengalihkan klien kepada konselor lain tanpa persetujuan klien tersebut.
e) Meminta bantuan ahli dalam bidang lain di luar kemampuan atau di luar keahliannya ataupun di luar keahlian stafnya yang diperlukan dalam melaksanakan bimbingan dan konseling.

f) Pembimbing harus selalu menyadari akan tanggung jawabnya yang berat yang memerlukan pengabdian penuh.
Di samping rumusan tersebut, pada kesempatan ini dikemukakan rumusan kode etik bimbingan dan konseling yang dirumuskan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia, yang dikutip oleh Syahril dan Riska Ahmad (1986), yaitu:
a) Pembimbing/konselor menghormati harkat pribadi, integritas, dan keyakinan klien.
b) Pembimbing/konselor menempatkan kepentingan klien di atas kepentingan pribadi pembimbing/konselor sendiri.
c) Pembimbing/konselor tidak membedakan klien atas dasar suku bangsa, warna kulit, kepercayaan atau status sosial ekonominya.
d) Pembimbing/konselor dapat menguasai dirinya dalam arti kata berusaha untuk mengerti kekurangan-kekurangannya dan prasangka-prasangka yang ada pada dirinya yang dapat mengakibatkan rendahnya mutu layanan yang akan diberikan serta merugikan klien.
e) Pembimbing/konselor mempunyai serta memperlihatkansifat-sifat rendah hati, sederhana, sabar,tertib, dan percaya pada paham hidup sehat.
f) Pembimbing/konselor terbuka terhadap saran atau pandangan yang diberikan padanya, dalam hubungannya dengan ketentuan-ketentuan tingkah laku profesional sebagaimana dikemukakan dalam kode etik bimbingan dan konseling.
g) Pembibingan/konselor memiliki sifat tanggung jawab, baik terhadap lembaga dan orang-orang yang dilayani maupun terhadap profesinya.
h) Pembimbing/konselor mengusahakan mutu kerjanya setinggi mungkin.
i) Pembimbing/konselor menguasai pengetahuan dasar yang memadai tentang hakikat dantingkah laku orang, serta tentang teknik dan prosedur layanan bimbingan guna memberikan layanan dengan sebaik-baiknya.
j) Seluruh catatan tentang diri klien merupakan informasi yang bersifat rahasia, dan pembimbing menjaga kerahasiaan ini.
k) Sesuatu tes hanya boleh diberikan oleh petugas yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya.
l) Testing psikologi baru diberikan dalam penanganan kasus dan keperluan lain yang membutuhkan data tentang sifat atau diri kepribadian seperti taraf inteligensi, minat, bakat, dan kecenderungan-kecenderungan dalam diri pribadi seseorang.
m) Data hasil tes psikologis harus diintegrasikan dengan informasi lainnya yang diperoleh dari sumber lain, serta harus diperlakukan setaraf dengan informasi lainnya itu.
n) Konselor memberikan orientasi yang tepat kepada klien mengenai alasan digunakannya tes psikologi dan hubungannya dengan masalah yang dihadapi klien.
o) Hasil tes psikologi harus di beritahukan kepada klien dengan disertai dengan alasan-alasan tentang kegiatannya dan hasil tersebut dapat diberitahukan pada pihak lain, sejauh pihak yang diberitahu itu ada hubungannya dengan usaha bantuan pada klien dan tidak merugikan klien sendiri.

BAB III
PROGRAM BIMBINGAN DI SEKOLAH
DAN PERANAN GURU DALAM PELAKSANAANNYA
A. Program Bimbingan di Sekolah
Winkel(1991) menjelaskan bahwa program bimbingan merupakan suatu rangkai kegiatan terencana, terorganisasi, dan terkoordinasi selama periode waktu tertentu.

1. Pengertian Program Bimbingan
Menurut pendapat Hotch dan Costor yang dikutip oleh Gipson dan Mitchell(1981) program bimbingan dan konseling adalah suatu program yang memberikan layanan khusus yang dimaskudkan untuk membantu individu dalam mengadakan penyesuaian diri. Program bimbingan itu menyangkut dua faktor, yaitu : (1) faktor pelaksanaan atau orang yang akan memberikan bimbingan dan (2) faktor-faktor yang berkaitan dengan perlengkapan,metode, bentuk layanan siswa-siswi,dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan (Abu Ahmadi,1977).
Pelayanan bimbingan di Sekolah/Madrasah merupakan usaha mambantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencaaan pengembangan karir. Pelayanan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik, secara individual atau kelompok, sesuai kebutuhan potensi, bakat, minat, serta perkembangan peluang-peluang yang dimiliki.

Pelayanan ini juga mambantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang dihadapi peserta didik. Tohorin (2007:259) mengemukakan bahwa “Program bimbingan dan konseling merupakan suatu rancangan atau rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.” Rancangan atau terancang kegiatan tersebut disusun secara sistematis, terorganisasi, dan terkoordinasi dalam jangka waktu tertentu.
Suatu program layanan bimbingan dan konseling tidak akan berjalan efisien sesuai kebutuhan keadaan siswa jika dalam pelaksanaannya tanpa suatu sistem pengelolaan (manajemen) yang bermutu, artinya dilakukan secara sistematis jelas dan terarah.
Penyusunan program bimbingan dan konseling sangat memegang peranan penting dalam keberhasilan pelaksanaan layanan bimbingan di sekolah. Dewa Ketut Sukardi dan Desak Made Sumiati (1995:2) mengemukakan bahwa: “Penyusunan program bimbingan dan konseling disekolah hendaknya berdasarkan masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa serta kebutuhan-kebutuhan siswa dalam mereka mencapai tujuan pendidikan yaitu kedewasaan siswa itu sendiri.”
Berdasarkan hal tesebut di atas, maka perlulah disusun program bimbingan di sekolah agar usaha layanan bimbingan di sekolah betul berdaya guna dan berhasil guna serta tepat sasaran.

Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa program bimbingan yang disusun dengan baik dan rinci akan memberikan banyak keuntungan, seperti diantaranya : memungkinkan para petugas menghemat waktu, usaha,biaya dengan menghindari kesalahan-kesalahan,dan usaha coba-coba yang tidak menguntungkan.

2. Langkah –langkah penyusunan program bimbingan
Ada beberapa langkah-langkah yang dikemukan oleh Miller yang dikutip oleh Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) :
a. Tahap persiapan
b. Pertemuan-pertemuan permulaan dengan para konselor
c. Pembentukan panitia sementara untuk merumuskan program bimbingan.
d. Pembentukan panitia penyelenggara program.

3. Variasi Program Bimbingan menurut Jenjang Pendidikan
Winkel (1991) memberikan rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam menyusun program bimbingan di tingkat pendidikan tertentu, yaitu diantaranya:
a. menyusun tujuan jenjang pendidikan tertentu.
b. menyusun tugas-tugas perkembangan dan kebutuhan-kebutuhan peserta didik.
c. Menyusun pola dasar

a. Pendidikan Taman Kanak-kanak
Layanan bimbingan dan konseling di taman kanak-kanak hendaknya ditekankan pada :
a) Bimbingan yang berkaitan dengan kemandirian dan keharmonisan
b) Bimbingan pribadi

b. Program Bimbingan di Sekolah Dasar
Berkenaan dengan penyusunan program bimbingan di sekolah dasa, Gibson dan Mitchell(1981) mengemukakan beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, seperti :
a) Kegiatan bimningan di SD
b) Adanya kecenderungan seorang anak bergantung kepada teman sebayanya
c) Minat orang tua yang dominan

c. Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Dalam hal ini, Winkel(1991) mengemukakan tugas-tugas perkembangan untuk siswa/anak pada tingakat SLTP antara lain; menerima peranannya sebagai pria atau wanita,memperjuangkan taraf kebebasan yang wajar dari orang tua serta orang dewasa.
Orientasi pada tingkat SLTP diantaranya; Bimbingan belajar, bimbingan tentang hubungan muda-mudi, bimbingan karier baru.

d. Program Bimbingan di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Cole (1959) mengemukakan beberapa tugas-tugas perkembangan pada usia remaj(siswa SLTA),yaitu bertujuan untuk mencapai(1) kematangan emosional, (2) kemantapan minat terhadap lawan jenis,(3) kematangan sosial.
Pada tingkat SLTA hendaknya berorientasi sebagai berikut; hubungan muda-mudi/hubungan sosial, pemberian informasi pendidikan dan jabatan.
e. Program Bimbingan di Perguruan Tinggi
Tugas-tugas perkembangan pada usia dewasa menuntut seseorang untuk lebih mandiri, dan bersikap disiplin. Mereka dituntut untuk mampu mengembangkan sikap membina ilmu demi kemajuan bangsanya(Winkel, 1991).
Oleh karena itu, pada tingkat ini hendaknya berorientasi kepada , bimbingan belajar yang bersikap akademik, dan hubungan sosial.
• Pengembangan Program Bimbingan di Sekolah
1. Komponen program bimbingan di sekolah
Dengan mengacu kepada tugas-tugas dan masalah perkembangan siswa di sekolah dapat di golongka didalam :
a. Masalah perkembangan umum yang menjadi kebutuhan semua siswa.
b. Masalah yang muncul saat ini dan perlu segera dipecahkan.
c. Masalah perkembangan yang bersifat perorangan atau individual.
Atas dasar itu komponen program bimbingan di sekolah terdiri atas empat komponen (Muno dan Kottman,1955),yaitu:
1. Layanan Dasar Bimbingan
2. Layanan Responsif
3. Layanan Perencanaan Individual
4. Pendukung Sistem
2. Pengembangan Program Pendidikan
Tugas pokok guru BK dalam melaksanakan bimbingan adalah menyusun program bimbingan analisi hasil melaksanakan program bimbingan, evaluasi pelaksnaan bimbingan, analisis hasil pelaksanaan bimbingan dan tidak lanjut dalam program bimbingan terhadap peserta didik (Keputusan Menpan No.1995)
4. Tenaga Bimbingan di Sekolah Beserta Fungsi dan Peranannya
Layanan bimbingan konseling merupakan bagian yang integral dari proses pendidikan, oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab personel sekolah(Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya, 1985). Pekerjaan konselor merupakan salah satu dari pekerjaan profesional di sekolah(Gibson dan Mitchell,1981).

Koestoer, P.(1982) mengemukakan sejumlah personalia/konselor di sekolah terdiri dari :
a) Konselor sekolah ,
b) guru konselor/guru pembimbing
c) tenaga khusus/psikolog sekolah.

Dalam kurikulum SMA 1975 Buku III C tentang pedoman Bimbingan dan Penyuluhan dikemukakan bahwa konselor di sekolah terdiri dari: (a) kepala sekolah; membuat renaca/program sekolah,mendelegasikan tanggung jawab, dll. (b) Penyuluhan Pendidikan(konselor Sekolah); menyusun program bimbingan dan konseling di sekolah, menberikan garis-garis kebijaksanaan umum, dan sebagainya. (c) guru Pembimbing/wali kelas ; mengumpulkan data siswa, menyelenggarakan bimbingan kelompok. (d) guru/pengajar; turut aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program bimbingan tersebut. (e) petugas administrasi; mengisi kartu pribadi siswa, menyimpan catatan-catatan.

5. Struktur Organisasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah
Dalam kurikulum SMA tahun 1975 buku III C dinyatakan bahwa kepala sekolah berperan langsung dalam koordinator bimbingan dan berwenang untuk menentukan garis kebijaksanaan, konselor merupakan membantu kepala sekolah yang bertanggung jawab kepada kepala sekolah.

6. Mekanisme Implementasi Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah
a. Komponen Pemprosesan Data
b. Komponen Kegiatan Pemberian Informasi
c. Komponen Kegiatan Konseling
d. Komponen pelaksana
e. Komponen Metode/ Alat
f. Komponen Waktu Kegiatan
g. Koomponen Sumber Data

B. Peranan Guru dalam Pelaksanaan Bimbingan di Sekolah
1. Tugas Guru dalam Layanan Bimbingan di Kelas
Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) menyatakan bahwa fungsi bimbingan dalam proses belajar-mengajar itu merupakan salah satu kompetensi guru yang terpadu dalam keseluruhan pribadinya. Dan ada beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam proses belajar-mengajar sesuai dengan fungsinya sebagai guru dan pembimbing, yaitu ; a. Perlakuan terhadap siswa didasarkan keyakinan, b. Sikap yang positif, c. Perlakuan siswa secara empatik.
Abu Ahmadi (1977) mengemukakan peran guru sebagai pembimbing dalam melaksanakan proses belajar-mengajar, sebagai berikut; a. Menyediaka kondisi-kondisi yang memungkinkan setiap siswa merasa aman, b. Mengusahakan agar siswa –siswa dapat memahami dirinya, dll.
Guru juga dapat melakukan tugas-tugas bimbingan dalam proses pembelajaran nseperti berikut; a. Melaksanakan kegiatab diagnostik kesulitan belajar, b. Guru dapat memberikan bantuan sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya kepada murid.
2. Tugas Guru dalam Operasional Bimbingan di Luar Kelas
Tugas-tugas bimbingan tersebut diantaranya ; memberikan pengajaran perbaikan(remedial Teaching), menberikan pengayaan dan pengembangan bakat. Menyelanggarakan kelompok belajar.

• Aspek-aspek yang perlu dipertimbangkan dalam belajar di sekolah
Layanan bimbingan menjadi tugas dari Bimbingan Konseling (BK). Pelaksanaan bimbingan di sekolah tetap menghendaki dukungan manajerial yang memadai. Maka dalam upaya penyelenggaraan pelayanan bimbingan di sekolah perlu dipertimbangkan aspek-aspek sebagai berikut:
a. Aspek Program
b. Aspek Ketenagaan
c. Aspek Prosedur/ Teknik
d. Daya Dukung Lingkungan
• Organisasi dan administrasi bimbingan di sekolah
a. Organisasi
Pelaksanaan bimbingan di sekolah saat ini dilaksanakan oleh guru guru BK. Pemerintah telah memiliki rencana untuk mengangkat guru pembimbing sesuai dengan PP 38 tentang Tenaga Kependidikan, paling tidak untuk satu kecamatan seorang guru pembimbing. Mekanisme organisasi dan administrasi bimbingan di SD telah digariskan dalam Buku Petunjuk Bimbingan dan Konseling di sekolah (Depdikbud,1994).
b. Uraian Tugas Personil
Tugas dan tanggung jawab setiap personel dalam kegiatan layanan bimbingan sehingga dapat memahami tugas-tugasnya dan melaksanakan tugasnya masing-masing.
c. Pengawasan
Untuk menjamin layanan bimbingan secra tepat diperlukan kegiatan pengawasan bimbingan baik secara teknis maupun administratif. Fungsi pengawasan layanan bimbingan adalah memantau, menilai, memperbaiki, meningkatkan dan mengembangkan kegiatan layanan bimbingan di sekolah.

d. Sarana dan prasarana
Sarana untuk menunjang layanan bimbingan adalah:
1. Alat pengumpul data
2. Alat penyimpan data
3. Perlengkapan teknis
4. Perlengkapan administratif
Prasarana penunjang layanan bimbingan antara lain:
1. Ruang bimbingan
2. Guru pembimbingan konseling
e. Anggaran biaya
Anggota biaya diperlukan untuk menunjang layanan bimbingan seperti biaya surat menyurat, transportasi, penataran, pembelian alat dan sebagainya.
f. Kerjasama
1. Kerjasama dengan pihak didalam sekolah
2. Kerjasama dengan baik diluar sekolah

• Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling di Sekolah
Prinsip merupakan paduan hasil kegiatan teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan (Prayitno, 1997:219). Berikut ini prinsip-prinsip bimbingan konseling yang diramu dari sejumlah sumber, sebagai berikut:
a. Sikap dan tingkah laku seseorang sebagai pencerminan dari segala kejiwaannya adakah unik dan khas. Keunikan ini memberikan ciri atau merupakan aspek kepribadian seseorang. Prinsip bimbingan adalah memperhatikan keunikan, sikap dan tingkah laku seseorang, dalam memberikan layanan perlu menggunakan cara-cara yang sesuai atau tepat.

b. Tiap individu mempunyai perbedaan serta mempunyai berbagai kebutuhan. Oleh karenanya dalam memberikan bimbingan agar dapat efektif perlu memilih teknik-teknik yang sesuai dengan perbedaan dan berbagai kebutuhan individu.
c. Bimbingan pada prinsipnya diarahkan pada suatu bantuan yang pada akhirnya orang yang dibantu mampu menghadapi dan mengatasi kesulitannya sendiri.
d. Dalam suatu proses bimbingan orang yang dibimbing harus aktif , mempunyai bayak inisiatif. Sehingga proses bimbingan pada prinsipnya berpusat pada orang yang dibimbing.
e. Prinsip referal atau pelimpahan dalam bimbingan perlu dilakukan. Ini terjadi apabila ternyata masalah yang timbul tidak dapat diselesaikan oleh sekolah (petugas bimbingan). Untuk menangani masalah tersebut perlu diserahkan kepada petugas atau lembaga lain yang lebih ahli.
f. Pada tahap awal dalam bimbingan pada prinsipnya dimulai dengan kegiatan identifikasi kebutuhan dan kesulitan-kesulitan yang dialami individu yang dibimbing.
g. Proses bimbingan pada prinsipnya dilaksanakan secara fleksibel sesuai dengan kebutuhan yang dibimbing serta kondisi lingkungan masyarakatnya.
h. Program bimbingan dan konseling di sekolah harus sejalan dengan program pendidikan pada sekolah yang bersangkutan. Hal ini merupakan keharusan karena usaha bimbingan mempunyai peran untuk memperlancar jalannya proses pendidikan dalam mencapai tujuan pendidikan.
i. Dalam pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah hendaklah dipimpin oleh seorang petugas yang benar-benar memiliki keahlian dalam bidang bimbingan. Di samping itu ia mempunyai kesanggupan bekerja sama dengan petugas-petugas lain yang terlibat.

j. Program bimbingan dan konseling di sekolah hendaknya senantiasa diadakan penilaian secara teratur. Maksud penilaian ini untuk mengetahui tingkat keberhasilan dan manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan program bimbingan. Prinsip ini sebagai tahap evaluasi dalam layanan bimbingan konseling nampaknya masih sering dilupakan. Padahal sebenarnya tahap evaluasi sangat penting artinya, di samping untuk menilai tingkat keberhasilan juga untuk menyempurnakan program dan pelaksanaan bimbingan dan konseling (Prayitno, 1997:219).

C. Kerja Sama Guru dengan Konselor dalam Layanan Bimbingan
Dalam hal ini, Rochman Natawidjaja dan Moh. Surya (1985) mengutip pendapat Miller yang menyatakan bahwa:
a. Proses belajar menjadi sangat efektif.
b. Guru yang memahami siswa dan masalah-masalah yang dihadapinya.
c. Guru dapat memperhatikan perkembangan masalah atau kesulitan siswa secara lebih nyata.
Di lain pihak guru mempunyai keterbatasan, menurut Koestoer Partowisastro(1982) yaitu; a. Guru tidak mungkin lagi menangani masalah-masalah siswa bermacam-macam, b. Guru sendiri sudah berat tugas mengajarnya, sehingga tidak mungkin memecahkan masalah yang banyak.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah kami adalah, bahwa Program Bimbingan Konseling di Sekolah merupakan suatu program yang sangat penting dan dibutuhka untuk memajukan sekolah. Dengan adanya Program Bimbingan Konseling Di sekolah dapat membantu sekolah dalam menangani masalah-masalah yang dialami oleh siswa. Program Bimbingan Konseling di sekolah sangat membantu pengembangan potensi siswa siswa, jika siswa dapat mengetahui potensi nya maka siswa dapat lebih mengasah dan mengembangkan potensinya tersebut.
Menjadi seorang konselor merupakan suatu hal yang berat, dikarenakan seorang konselor harus mempunyai program-program dan tanggung jawab yang sangat besar. Maka seorang konselor harus mempunyai kemauan yang keras untuk memajukan sekolah dan memajukan pendidikan. Dengan adanya Program Bimbingan Konseling di Sekolah dapat membantu pihak sekolah menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik.
Program bimbingan menyangkut dua faktor, yaitu: (1) faktor pelaksanaan atau orang yang akan memberikan bimbingan dan (2) faktor yang berkaitan dengan perlengkapan, metode, bentuk layanan siswa-siswa, dan sebagainya, yang mempunyai kaitan dengan kegiatan bimbingan.
Peranan guru dalam pelaksanaan bimbingan di sekolah dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) tugas dalam layanan bimbingan dalam kelas dan (2) di luar kelas. Begitu penting peran seorang guru tersebut.

B. SARAN
Saran kami adalah perlunya peningkatan kualitas seorang konselor, dengan adanya peningkatan kualitas konselor maka akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan dunia pendidikan.
Dan juga perlunya peningkatan jumlah konselor, seorang konselor menghadai 125 siswa asuh. Maka dalam satu sekolah tidak cukup hanya mengandalkan satu orang konselor saja.
Untuk program bimbingan di sekolah peranan guru sangat diutamakan, karena guru adalah seorang pendidik, pengajar dan membimbing siswa,untuk menjadi orang yang berilmu dan orang yang memiliki tingkah yang baik,guru juga menjadi panutan para siswa untuk mendapatkan ilmu di sekolah. Guru harus memberikan ilmu dan mengajar dengan sabar, ikhlas dan mengutamakan kepentingan para siswa di atas kepentingan pribadinya.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Semarang: Toha Putra.
Belkin, S. Gary. 1981. Practical Counseling in The Schools. Dubuque: Wm. C. Browm Company Publishers.
Cole, Luella. 1959. Psychology of Adolescence. New York: Rinehart & Company, Inc.
Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Menengah Atas 1975, Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Balai Pustaka.
Downing, Lester N. 1986. Guidance and Counseling Services An Introduction. New York: Mc Graw – Hill Book Company.
Humphreys, J.A. and Traxler, A.E.. 1954. Guidance Services. Chicago: Science Research Associates, Inc.
Hurlock, E.B.. 1980 Developmental Psychology: .A Life-Span Approach. New York: McGrew – Hill Book Company.
Koestoer,partowisastro. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-Sekolah. Jakarta: Erlangga.
Mortensen, D.G. & Schmuller, A.M.. 1969. Guidance in today’s School. New York: John Willy & Son.
Pane, Ratna Asmara. 1988. Masa Remaja (Suatu Periode Transisi). Padang: Diperbanyan oleh FIP IKIP Padang.
Prayitno. 1987. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Jakarta: P2LPTK.
Syahril dan Ahmad, riska. 1986. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Padang: Angkasa Raya,
Tylor, Leonar. 1956. Individual Differences. New York: McGraw Hill BOOK, Company.
Depdikbud. :Undang-Undang Nomor 2/1989 Tentang Sistem pendidikan Nasional.” Jakarta: Depdikbud.
Walgito, Bimo. 1980. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM.
Willerman, Lee. 1970. Group and Individual Differences. New York: McGraw – Hill Company.
Winkel, W.S.. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institut Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Winkel, W.S.. 1978. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta: Gramedia.
Ahmadi,Abu. 1977. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Semarang: Toha Putra.
Blocher, Donald H.. 1974. Development Counseling. New York: John Wiley & Sons.
Burck, Harman D; Cattinghom, Harold F; Reardon, Robert C.1973. Counseling and Accountability: method and Critique. New York: Pargamon Press Inc.
Cole, Leulla. 1959. Psychology pf Adolescence. New York: Rinerhart & Company, Inc.
Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Menengah Atas 1975, Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta: Balai Pustaka.
Gibson, Robert L. And Mitchell, Marianne H.. 1981. Introduction to Guidance. New York: Macmillan Publishing C., Inc.
Koestoer, Partowisastro. 1982. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah-sekolah. Jakarta : Erlangga.
Miller, Frank W; Fruchling, Jones A.; Lewis, Gloria J.. 1978. Guidance Principles and Service. Third Edition. London sydney: Charles E. Merrill Publishing Company.
Natawidjaja, Rochman. 1989. Peranan Guru dalam Bimbingan. Bandung : Arbadin.
Nelson, Richard C.. 1972 Guidance and Counseling in the Elementary School. New York: Halt Rinehart and Wiston. Inc
Peters, Herman J.. 1958. Guidance: A Developmental Approach. Chicago: Rand McNally & Company.
Peters, Herman J. And Farwell, Gail F. 1958. Guidance: A Developmental Approach. Chicago: Rand McNally & company.
Soeitoe, S. 1972. Bimbingan dan Penyuluhan. Jakarta : Gajah Tunggal.
Surya, Moh,. Dan Natawidjaja, Rochman. 1985. Materi Pokok Bimbingan dan Penyuluhan. Modul 1-3. Jakarta . Depdikbud . UT.
Usman, Moh. Uzer . 1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Walgito, Bimo. 1980. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah. Yogjakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikilogi UGM.
Winkel, W.S.. 1991 Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.
Ahman (1998). Bimbingan Perkembangan : Model dan Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar, Bandung: Disertasi PPsS IKIP Bandung
Bush, Wilman Jo& Waugh, Kenneth W (1976). Diagnoding Learning Disability, Ohio: Charles E.merril Pub. Co.
Cartwright, Philip G. Et.all (1984). Educating Special Learnes Wadsworth, California Inc. Belmont.
Chapman, Sara et. Al (1993). Elementary Guidance and Conseling. Alief Independent School District.
Departmen pendidikan Dan Kebudayaan (1994/1995). Petunjuk Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah dasar, Jakarta: Diirjen Dikdasmen
Muro, J. James N. Kottmen, Terry (1995). Guidance and Conseling in Elementary school and Middle School. Iowa: Brown N. Benchmar publisher.
Rosner, Jerome, (1993). Helping Children Overcome Learning Difficulties, New York: Worker and Company.
Sunaryo Kartadinata, (1990). Kebutuhan Akan Layanan Bimbingan di Sekolah Dasar, Hasil Penelitian IKIP Bandung.
Sunaryo Kartadinata (1996). Landasan-landasan pendidikan Sekolah Dasar. Jakarta: Dirjen Dikti.
Laksmiwati, Hermin, dkk. 2002. Pengantar Bimbingan dan Konseling. Surabaya : Unesa University Press.

Ma’mur A., Jamal. 2010. Panduan Efektif Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Jogjakarta : Diva Press
http://rengenanda.blogspot.com
http://datafilecom.blogspot.com/2011/09/tujuan-bimbingan-di-sekolah.html
http://wawan-junaidi.blogspot.com/2011/12/pengertian-konseling.html
http://catatanbk.blogspot.com/2012/04/pengertian-bimbingan-menurut-ahli.html
http://baehaqi.blogspot.com/2010/12/bimbingan-konseling-dan-peran-guru.html

Add a comment Mei 29, 2013

MAKALAH PROFESI KEGURUAN

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT Karena berkat dan rahmat-Nya jualah sehingga kami dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh bapak Dosen Pembimbing Drs. Aris Djinal dengan mata kuliah Profesi Kependidikan di STKIP-PGRI Banjarmasin.
Dalam isi makalah ini kami membahas tentang “Konsep Profesi Keguruan dan Sikap Profesional Keguruan”. Kami menyadari bahwa dalam penyelesaian makalah ini banyak sekali mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan yang diberikan, semoga mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT.
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka pada kesempatan ini penulis mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan dari segenap pembaca.
Akhir kata penulis do’akan semoga semua amal yang diberikan mendapat imbalan Allah SWT, dan semoga makalah ini bermanfaat bagi semua kalangan khususnya mahasiswa mahasiswi STKIP PGRI. Amin ya Rabbal Alamin.

Banjarmasin, 10 April 2013

Penulis

DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Manfaat dan Tujuan 3
BAB II Konsep Profesi Keguruan
A. Pengertian dan Syarat-Syarat Profesi 3
B. Kode Etik Profesi Keguruan 13
C. Organisasi Profesional Keguruan 14
BAB III Sikap Profesional Keguruan
A. Pengertian 15
B. Sasaran Sikap Profesional 22
C. Pengembangan Sikap Profesional 24
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan 30
B. Saran-saran 31
DAFTAR PUSTAKA 32

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Dunia pendidikan tidak lepas dari peran seorang guru. Peran guru sangat dibutuhkan dalam program pendidikan kita, karena tanpa guru siapa yang akan mengajar anak-anak di sekolah. Menjadi seorang guru adalah profesi yang tidak mudah. Banyak yang belum kita ketahui tentang bagaimana menjadi seorang guru. Sebagai calon guru kita harus tahu bagaimana menjadi guru yang profesional dan juga syarat-syarat menjadi seorang guru profesional. Namun terlebih dahulu kita harus tahu tentang pengertian profesi keguruan tersebut. Selain itu kita harus tahu tentang kode etik profesi keguruan seperti apa dan organisasi apa saja yang menjadi wadah perkumpulan guru-guru di Indonesia. Jika kita ingin menjadi seorang guru yang benar-benar ingin profesional kita harus memiliki sikap yang profesinal untuk menjadi seorang guru serta saran-saran untuk menjadi guru yang profesional tersebut sampai dengan pengembangan menjadi guru yang profesional agar nantinya kita menjadi guru yang benar-benar menggunakan profesi tersebut secara baik sesuai dengan aturan yang berlaku.
Untuk itulah kami membuat makalah ini agar menjadi bahan kajian kita semua sebagai calon guru dimasa depan yang memiliki sikap dan perilaku yang benar-benar mencerminkan seorang tenaga pengajar.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang diatas maka permasalahan yang hendak dikaji adalah:
1. Apa pengertian dan syarat-syarat profesi keguruan?
2. Bagaimana kode etik profesi keguruan?
3. Apa saja organisasi profesional keguruan?
4. Apa pengertian sikap profesional keguruan?
5. Apa saja saran sikap profesional?
6. Bagaimana pengembangan sikap profesional?
C. Manfaat dan Tujuan
1. Tujuan penyusunan makalah
a. Menjelaskan pengertian dan syarat-syarat profesi keguruan.
b. Menjelaskan bagaimana kode etik profesi keguruan.
c. Menyebutkan apa saja organisasi profesional keguruan.
d. Menjelaskan pengertian sikap profesional keguruan.
e. Menyebutkan apa saja saran sikap profesional.
f. Menjelaskan bagaimana pengembangan sikap profesional.
2. Manfaat penyusunan makalah
a. Untuk mengetahui pengertian dan syarat-syarat profesi keguruan.
b. Untuk mengetahui bagaimana kode etik profesi keguruan.
c. Agar mengetahui apasaja organisasi profesional keguruan.
d. Untuk mengetahui pengertian sikap profesional keguruan.
e. Agar mengetahui apa saja saran sikap profesional.
f. Untuk mengetahui bagaimana pengembangan sikap profesional.

BAB II
KONSEP PROFESI KEGURUAN

A. PENGERTIAN dan SYARAT-SYARAT PROFESI
1. Pengertian Profesi
Menurut Ornstein dan Levine (1984) menyatakan profesi itu adalah jabatan yang sesuai dengan pengertian profesi dibawah ini:
a. Melayani masyarakat merupakan karier yang akan dilaksanakan sepanjang hayat ( tidak berganti-ganti pekerjaan).
b. Memerlukan bidang ilmu dan keterampilan tertentu di luar jangkauan khalayak ramai (tidak setiap orang dapat melakukannya).
c. Menggunakan hsil penelitian dan aplikasi dari teori ke praktek.
d. Memerlukan pelatihan khusus.
e. Mempunyai persyaratan masuk.
f. Otonomi dalam membuat keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu.
g. Menerima tanggung jawab terhadap keputusan yang diambil, tidak dipindahkan ke atasan atau instansi yang lebih tinggi dan mempunyai sekumpulan unjuk kerja yang baku.
h. Mempunyai komitmen terhadap jabatan dank klien.
i. Menggunakan administrator untuk memudahkan profesinya.
j. Mempunyai organisasi yang diatur oleh anggota profesi sendiri.
k. Mempunyai asosiasi profesi.
l. Mempunyai kode etik.
m. Mempuyai kadar kepercayaan yang tinggi dari publik dan anggotanya.
n. Mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi. (Ornstein dan Levine,1984).

Menurut Sanusi et al (1991) mengutarakan ciri-ciri utama suatu profesi itu sebagai berikut :
a. Suatu jabatan yang memiliki fungdi dan signifikansi sosial yang menentukan (crusial).
b. Jabatan yang menuntut keahlian dan keterampilan tertentu.
c. Keterampilan/keahlian yang di tuntut jabatan itu, didapat melalui pemecahan masalah dengan menggunakan teori dan metode ilmiah.
d. Jabatan itu berdasarkan pada disiplin ilmu yang jelas, sistematik, ekspilisit, yang bukan sekedar pendapat umum.
e. Jabatan itu memerlukan pendidikan perguruan tinggi yang waktunya cukup lama.
f. Proses pendidikan untuk jabatan juga merupakan aplikasi dan sosialisasi nilai-nilai profesional.
g. Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, anggota profesi berpegang teguh pada kode etik yang di control oleh organisasi profesi.
h. Mempunyai kebebasan dalam memberikan judgement terhadap permasalahn profesi yang dihadapinya.
i. Dalam praktek melayani masyarakat anggota profesi otonom dan bebas dari campur tangan orang luar.
j. Jabatan ini mempunyai pretise yang tinggi dalam masyarakat. ( Sanusi et al, 1991)

• “Profesi itu pada hakikatnya adalah suatu peryataan atau janji terbuka, bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, karena orang tersebut merasa untuk menjabat pekerjaan itu”.(buku MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, PGSM3904/2 SKS/MODUL 1-6, Jakarta 1997/1998).

• Jika ditelaah, pengertian tersebut mengandung beberapa hal yakni, bahwa profesi itu merupakan pernyataan atau janji terbuka; profesi itu mengandung unsur pengabdian; dan profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan. (buku MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, PGSM3904/2 SKS/MODUL 1-6, Jakarta 1997/1998).

• Profesi merupakan pernyataan atau janji terbuka, maksudnya, bahwa pernyataan atau janji yang dinyatakannya (oleh seorang profesional) tidak sama dengan suatu janji atau pernyataan yang dikemukakan oleh seorang yang bukan profesional. (buku MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, PGSM3904/2 SKS/MODUL 1-6, Jakarta 1997/1998).

• Profesi adalah suatu pekerjaanyang memerlukan pengetahuan dan keterampilan yang berkualifikasi tinggi dalam melayani atau mengabdi kepentingan umum untuk mencapai kesejahteraan insani. (BUKU MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, PGSM3904/2 SKS/MODUL 1-6, Jakarta 1997/1998).

• Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) dari para anggotanya.(BUKU MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, MKDK4304/2 SKS/MODUL 1-6, 2003).

• Profesi adalah wewenang praktek suatu kejuruan yang bersifat pelayanan pada kemanusiaan secara intelektual spesifik yang sangat tinggi, yang didukung oleh penguasaan pengetahuan keahlian serta seperangkat sikap dan keterampilan teknik, yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusuh, yang penyelenggaraannya dilimpahkan kepada lembaga pendididkan tinggi, yang bersama memberikan izin praktek atau penolakan praktek dan kelayakan praktek dilindungi oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku, baik yang diawasi langsung oleh Pemerintah maupun asosiasi profesi yang bersangkutan. (Encyclopedia of Social Sciences) (BUKU MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, MKDK4304/2 SKS/MODUL 1-6, 2003)..

• Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalam melaksanakan tugasnya memerlukan/menuntut keahlian (expertise), menggunakan teknik-teknik ilmiah, serta dedikasi yang tinggi. (BUKU MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, MKDK4304/2 SKS/MODUL 1-6, 2003)
2. Pengertian dan Syarat-Syarat Profesi Keguruan
National Education Association (NEA) (1948) menyarankan kriteria khusus jabatan guru sebagai berikut:
a. Jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual.
Mengajar melibatkan upaya-upaya yang sifatnya sangat didominasi kegiatan intelektual. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan anggota profesi ini adalah dasar bagi persiapan dari semua kegiatan profesional lainnya. Oleh sebab itumengajar seringkali disebut sebagai ibu dari segala profesi (Stinnet dan Huggett,1963).
b. Jabatan yang menggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus
Anggota-anggota suatu profesi menguasai bidang ilmu yang membangun keahlian mereka dengan melindungi masyarakat dari penyalahgunaan, amatiran yang tidak terdidik, dan kelompok tertentu yang ingin mencari keuntungan. Namun, belum ada kesepakatan tentang bidang ilmu khusus yang melatari pendidikan (education) atau keguruan (teaching) (Ornstein and Levine,1984).
Menurut Stinnett and Huggett (1963) menurut kelompok pertama mengajar adalah suatu sains (science), sementara kelompok kedua mengatakan bahwa mengajar adalah suatu kiat (art) (Stinnett and Huggett,1963). Namun, dalam karangan-karangan yang ditulis dalam Encyclopedia of Educational Researches, misalnya terdapat bukti-bukti bahwa pekerjaan mengajar telah secara intensif mengembangkan batang tubuh ilmu khususnya. Sebaliknya Sanusi et al berpendapat bahwa ilmu pendidikan sedang dalam krisis identitas, batang tubuhnya tidak jelas, batas-batasnya kabur, strukturnya sebagai a body of knowledge samar-samar ( sanusi et al ., 1991).
Ilmu penegetahuan tingkah laku (behavioral sciences), ilmu pengetahuan alam, dan bidang kesehatan dpat dibimbing langsung dengan peraturan dan prosedur yang ekstensif dan menggunakan metodologi yang jelas. Ilmu yang terpakai dalam dunia nyata pengajaran masih banyak yang banyak belum teruji validasinya dan yang disetujui sebagaian besar ahlinya (Gideonse,1982 dan Woodring 1983).
c. Jabatan yang memerlukan persiapan profesional yang lama.
Yang membedakan jabatan profesional dengan non-profesional antara lain adalah dalam penyelesaian pendidikan melalui kurikulum, yaitu ada yang diatur universitas/institut atau melalui pengalaman praktek dan pemagangan atau campur pemagangan dan kuliah. Yang pertama, yakni pendidikan melalui perguruan tinggi disediakan untuk jabatan profesional, sedangkan yang kedua, yakni pendidikan melalui pengalaman praktek dan pemagangan atau campuran pemagangan dan kuliah di peruntukkan bagi jabatan yang non-profesional (Ornstein dan Levine,1984).
d. Jabatan yang memerlukan ‘latihan dalam jabatan’ yang bersinambungan.
Jabatan guru cenderung menunjukan bukti yang kuat sebagai jabatan profesional, karena melakukan berbagai kegiatan latihan profesional, baik yang mendapatkan penghargaan kredit maupun tanpa kredit.
e. Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanen.
Syarat jabatan guru sebagai karier permanen merupakan titik yang paling lemah dalam menuntut bahwa mengajar adalah jabatan profesional
f. Jabatan yang menentukan baku ( standarnya ) sendiri
Menurut Ornstein dan Levine (1984) mengungkapkan pengawasan luar adalah musuh alam dari profesi, karena membatasi kekuasaan profesi dan membuka pintu terhadap pengaruh luar (Ornstein dan Levine,1984).
Peter Blau dan W. Richard Scott (1965: 51-52) menulis :“ Profesional service … requires that the [professional] maintain independence of judgement and not permit the clients’ wishes as distinguished from their interests to influence his decisions.”
Para profesional harus mempunyai pengetahuan dan kecakapan dalam membuat penilaian, sebaliknya tidak demikian denganklien, sebagaimana yang di ungkapkan Blau dan Scott,“ and the clients not qualified to evaluate the services he needs.” Profesional yang membolehkan langganannya untuk mengatakan apa yang harus dia kerjakan akan gagal dalam memberikan layanan yang optimal (Peter Blau dan W. Richard Scott, 1965)
g. Jabatan yang lebih mementingkan layanan di atas keuntungan pribadi.
Jabatan guru telah terkenal secara universal sebagai suatu jabatan yang anggotanya termotivasi oleh keinginan untuk membantu orang lain bukan disebabkan oleh keuntungan ekonomi atau keuangan. Mereka yakni mendapatkan kepuasan rohaniah ketimbang kepuasan ekonomi atau lahiriah.
h. Jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin erat.
Berdasarkan analisis ini tampaknya jabatan guru belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai suatu profesi yang utuh, dan bahkan banyak orang sependapat bahwa guru hanya jabatan semiprofesional atau profesi yang baru muncul (emerging profession) karena semua belum cirri-ciri di atas yang dapat dipenuhi.
Menurut Amitai Etzioni (1969: p.v. ) guru adalah jabatan semiprofesional disebabkan oleh:
” … the training [of teachers] is shotters, their status less legitimated [low or moderate], their right to privileged communication less established.; theirs is less of a specialized knowledge, and they have less autonomy from supervision or societal control than ‘the professions’…” (Amitai Etzioni, 1969).
Robert B. Howsam et al (1976) menulis bahwa guru harus dilihat sebagai profesi yang harus baru muncul, dan karena itu mempunyai status yang lebih tinggi dari jabatan semiprofesional, malahan mendekati status jawaban profesi penuh (Robert B. Howsam, 1976).
Dengan adanya peraturan dari Manteri Pendidikan daan Kebudayaan bahwa yang boleh menjadi guru yang hanya mempunyai akta mengajar yang dikeluarkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Selain itu, guru diberi penghargaan oleh pemerintah melalui Keputusan Menpan No.26 Tahun 1989, dengan memberikan tunjangan fungsional sebagai pengajar, dan dengan kemungkinan kenaikan pangkat yang terbuka.
Jabatan profesional sangat memperhatikan layanan yang diberikan kepada masyarakat. Oleh karena itu, dalam rangka menjga dan meningkatkan layanan ini secara optimal serta menjaga agar masyarakat tidak dirugikan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab, tuntutan jabatan profesional harus sangat tinggi.
Profesi keguruan mempunyai tugas utama melayani masyarakat dalam dunia pendidikan dan profesionalisasi dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang akan diberikan kepada masyarakat.
Saniusi et al (1991) mengajukan enam asumsi yang melandasi perlunya profesionalisasi dalam pendidikan, yakni sebagai berikut:
1) Subjek pendidikan adalah manusia yang memiliki kemauan, pengetahuan, emosi, perasaan dan dapat dikembangkan segala potensinya;dan pendidikan dilandasi oleh nilai-nilai kemanusian yang menghargai martabat manusia.
2) Pendidikan dilakukan secara intensional, yakni secara sadar dan bertujuan, maka pendidikan menjadi normatif yang diikat olah norma-norma dan nilai-nilai baik yang secara universal, nasional maupun local, yang merupakan acuan para pendididk, pserta didik, dan pengelol pendidikan.
3) Teori-teori pendidikan merupakan kerangka hipotesis dalam menjawab permaslahan pendidikan.
4) Pendidikan bertolak dari asumsi pokok tentang manusia, yakni manusia mempunyai potensi yang baik untung berkembang. Oleh sebab itu, pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan potensi unggul tersebut.
5) Inti pendidikan terjadi dalam prosesnya, situasi yang terjadi dalam dialog antara peserta dididk dengan pendidik, yang memungkinka peserta didik tumbuh kearah yang dikehendaki oleh pendidik dan selaras dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi masyarakat.
6) Sering terjadinya dilema antara tujuan utama pendidikan, yakni menjadikan manusia sebagai manusia yang baik( dimensi intristik), dengan misi instrumental yakni merupakan alat untuk perubahan atau mencapai sesuatu (Sanusi at al,1991).

Syarat – Syarat profesi (BUKU MATERI POKOK PROFESI KEGURUAN I, MKDK4304/2 SKS/MODUL 1-6, 2003)
1. Kompetensi Profesional, artinya ia memiliki pengetahuan yang luas serta dalam subjek matter (bidang study) yang akan diajarkan serta penguasaan metodologis dalam arti memiliki pengetahuan konsep teoritik, mampu memilih metode yang tepat serta mampu menggunakan berbagai metode dalam proses belajar mengajar. Guru pun harus memiliki pengetahuan luas tentang landasan kependidikan dan pemahaman terhadap subjek didik (murid).
2. Kompetensi Personal, artinya memiliki sikap kepribadian yang mantab, sehingga mampu menjadi sumber identifikasi bagi subjek.
3. Kompetensi Sosial, artinya ia menujukkan kemampuan berkomunikasi sosial, baik dengan murid-muridnya maupun dengan sesama teman guru, dengan kepala sekolah bahkan dengan masyarakat luas.
4. Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya yang berarti mengutamakan nilai kemanusiaan dari pada nilai benda material.
3. Perkembangan Profesi Keguruan

Nasution (1987) menjelaskan dalam bukunya Sejarah Pendidikan Indonesia dengan secara jelas melukiskan sejarah pendidikan di indonsia terutama dalam zaman kolonial Belanda, termasuk juga sejarah profesi keguruan. Awal mulanya guru-guru diangkat dari orang-orang yang tidak dididik secara khusus menjadi guru , secara beangsur-asur dilengkapi dengan guru-guru yang lulus dari sekolah guru (kweekschool) yang pertama kali didirikan di Solo tahun 1852. Dikarenakan kebutuhan guru mendesak maka Pemerintah Hindia Belanda mengangkat lima macam guru, yaitu:
1) Guru lulusan sekolah guru yang dianggap sebagai guru yang berwenang penuh,
2) Guru yang bukan lulusan sekolah guru, tetapi lulus ujian yang diadakan untuk menjadi guru,
3) Guu bantu, yakni yang lulus ujian guru bantu,
4) Guru yang dimagangkan kepada seorang guru senior, yang merupakan calon guru, dan
5) Guru yang diangkat karena keadaan yang amat mendesak yang berasal dari warga yang pernah mengecap pendidikan.
Sejalan dengan pendirian sekoalah-sekolah yang lebih tinggi tingkatnya dari sekolah umum seperti Hollands Inlandwsews School (HIS), Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs (MULO), Hogere Burgeschool (HBS), dan Algemene Middelbare School (AMS) maka secara berangsur-angsur dan didirikan pula lembaga pendidikan guru atau kursus-kursus untuk mempersiapkan guru-gurunya, seperti Hogere Kweekschool (HKS) untuk guru HIS dan guru kursus Hoofdacte (HA) untuk kepala sekolah (Nasution,1987).
Selangkah demi selangkah pendidikan guru meningkatkan jenjang kualifikasi dan mutunya, sehingga saat kita hanya mempunyai Lembaga Pendidikan Guru yang tunggal, yaitu Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Di Indonesia telah ada Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang mewadahi persatuan guru, dan juga mempunyai perwakilan di DPR/MPR.
Dalam sejarah pendidikan Guru Indonesia, guru mempunyai status dan wibawa yang sangat tinggi dalam masyarakat, dan dianggap sebagai orang serba tahu, karena peranan guru tidak hanya mendidik anak di depan kelas tetapi tetapi mendidik masyarakat ,tempat mendidik masyarakat dan untuk tempat masyarakat bertanya. Namun, kewibawaan guru mulai memudar seiring kemajuan zaman , perkembangan ilmu dan teknologi, dan kepedulian guru yang meningkat tentang imbalan atau jasa (Sanusi et al,1991).
B. KODE ETIK PROFESI KEGURUAN
1. Pengertian Kode Etik
a) Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian
Pasal 28 Undang-Undang ini dengan jela menyatakan bahwa “Pegawai Negeri Sipil mempunyai Kode Etik sebagai pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan di dalam dan di luar kedinasan”. Bahwa, Kode Etik merupakan pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan di dalam melaksanakan tugas dan dalam hidup sehari-hari.
b) Dalam pidato pembukaan Kongres PGRI XIII, Basuni sebagai Ketua Umum PGRI menyatakan bahwa Kode Etik Guru Indonesia merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdiannya bekerja sebagai guru (PGRI,1973). Kode Etik Guru Indonesia terdapat dua unsur pokok, yaitu : (1) sebagai landasan moral, (2) sebagai pedoman tingkah laku.
Kode Etik suatu profesi adalah norma-norma yang harus diindahkan oleh setiap anggota profesi didalam melaksanakan tugasnya dan di dalam hidupnya di masyarakat.
2. Tujuan Kode Etik
Tujuan merumuskan kode etik dalam suatu profesi adalah untuk kepentingan anggota dan kepentinagn organisasinya. Secara umum tujuan mengadakan kode etik adalah sebagai berikut (R. Hermawan S,1979):

a) Untuk menjunjung tinggi martabat profesi
b) Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan anggotanya
c) Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
d) Untuk meningkatkan mutu profesi
e) Untuk meningkatkan mutu organisasi profesi

3. Penetapan Kode Etik
Kode etik tidak boleh dilakukan oleh orang secara perorangan, melaikan harus dilakukan oleh orang-orang yang diutus untuk dan atan nama anggota-anggota profesi dari organisasi tersebut.
4. Sanksi Pelanggaran Kode Etik
Pada umumnya, kode etik adalah landasan moral dan merupakan pedoman sikap, tingkah laku, dan pebuatan maka sanksi terhadap pelanggaran kode etik adalah sanksi rekannya, dan sanksi yang terberat adalah sipelanggar dikeluarkan dari organisasi profesi.
5. Kode Etik Guru Indonesia
Fungsi Kode Etik Guru Indonesia adalah sebagai landasan moral dan pedoman tingkah laku setiap guru warga PGRI dalam menunaikan tugas pengabdiannya sebagai guru, baik di dalam maupun di luar sekolah serta dalam kehidupan sehari-hari. Maka Kode Etik Guru Indonesia merupakan alat yang sangat penting untuk pembentukan sikap profesional para amggota profesi keguruan.

Kode Etik Guru Indonesia ditetapkan didalam suatu kongres yang dihadiri oleh utusan Cabang dan Pengurus Daerah PGRI dari seluruh penjuru tanah air, pertama dalam Kongres XIII di Jakarta tahun 1973, dan kemudian di sempurnakan dalam kongres PGRI XVI tahun 1989 dan juga di Jakarta.

C. ORGANISASI PROFESIONAL KEGURUAN
1. Fungsi Organisasi Profesional Keguruan
Jabatan profesi harus mempunyai wadah untuk menyatukan gerak langkah dan mengendalikan keseluruhan profesi , yakni organisasi profesi. Di Negara kita telah mempunyai satu wadahh yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia yang lebih dikenal dengan singkatan PGRI. PGRI didirikan di Surakarta Pada tanggal 25 November 1945, sebagai perwujudan aspirasi guru Indonesia dalam mewujudkan cita-cita perjuangan bangsa (Hermawan S.,1989).
Salah satu tujuan PGRI adalah mempertinggi kesadaran, sikap, mutu, dan kegiatan profesi guru serta meningkatkan kesejahteraan mereka (Basuni,1986) dan Basuni meguraikan empat misi utama PGRI, yaitu : (1) Misi politis/ideologi, (2) Misi persatuan organisators, (3) Misi profesi, dan (4) Misi Kesejateraan.
Kebanyakan kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan mutu profesi biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan peringatan ulang tahun atau kongres, baik di pusat maupun di daerah (Sanusi et al, 1991).

2. Jenis-Jenis Organisasi Keguruan
Selain PGRI yang satu-satunya organisasi guru-guru sekolah yang diakui pemerintah sampai saat ini, ada organisasi guru yang disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sejenis yang didirikan atas anjuran pejabat-pejabat Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Organisasi ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan profesionalisasi dari guru dalam kelompoknya masing-masing. Ada juga Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) yang saat ini telah mempunyyai divisi-divisi antara lain, Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI), Himpunan Sarjana Administrasi Pendidikan Indonesia (HISAPIN), Himpunan Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia (HSPBI) dan masih banyak lagi.

BAB III
SIKAP PROFESIONAL KEGURUAN

A. Pengertian
Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya.
Berhubungan dengan bagaimana pola tingkah laku guru yang dalam memahami,menghayati, serta mengamalkan sikap kemampuan dan sikap profesionalnya. Dan dalam pola tingkah laku guru ini sesuai dengan sasarannya, yakni sikap profesional keguruan terhadap : (1) Peraturan perundang- undang, (2) Organisasi profesi, (3) Teman sejawat, (4) Anak didik, (5) Tempat kerja, (6) Pemimpin, dan (7) Pekerjaan.

Guru sebagai professional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.
Walaupun segala prilaku guru selalu diperhatikan masyarakat, tetapi yang akan dibicarakan dalam bagian ini adalah khusus prilaku guru yang berhubungan dengan profesinya. Hal ini berhubungan dengan bagaimana pola tingkah laku guru dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan sikap kemampuan dan sikap profesionalnya. Pola tingkah laku guru yang berhubungan dengan itu akan dibicarakan sesuai dengan sasarannya, yakni sikap professional keguruan terhadap:
1. Peraturan perundang-undangan,
2. Organisasi profesi,
3. Teman sejawat,
4. Anak didik,
5. Tempat kerja,
6. Pemimpin,
7. Pekerjaan.
1. Konsep Dasar Sikap dan Perilaku
Thursthoen dalam Walgito (1990: 108) menjelaskan bahwa, sikap adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek. Berkowitz, dalam Azwar (2000:5) menerangkan sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menjauhi/menghindari sesuatu.Dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa sikap adalah kecenderungan, pandangan, pendapat atau pendirian seseorang untuk menilai suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek.
Struktur sikap siswa terhadap konselor terdiri dari tiga komponen yang terdiri atas: 1). Komponen kognitif, Komponen ini berkaitan dengan pengetahuan, pandangan, dan keyakinan tentang objek. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang mempersepsi objek sikap. 2). Komponen afektif, Komponen afektif terdiri dari seluruh perasaan atau emosi seseorang terhadap sikap. Perasaan tersebut dapat berupa rasa senang atau tidak senang terhadap objek, rasa tidak senang merupakan hal yang negatif.. komponen ini menunjukkan ke arah sikap yaitu positif dan negatif. Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap (Azwar, 2000:26), secara umum komponen afektif disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Namun pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap.3. Komponen konatif, Komponen ini merupakan kecenderungan seseorang untuk bereaksi, bertindak terhadap objek sikap. Komponen ini menunjukkan intensitas sikap, yaitu besar kecilnya kecenderungan bertindak atau berperilaku seseorang terhadap objek sikap. Komponen-komponen tersebut di atas merupakan komponen yang membentuk struktur sikap. Ketiga komponen tersebut saling berhubungan dan tergantung satu sama lain. Saling ketergantungan tersebut apabila seseorang menghadapi suatu objek tertentu, maka melalui komponen kognitifnya akan terjadi persepsi pemahaman terhadap objek sikap.
Katz (dalam Walgito, 1990:110) menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi instrumental atau fungsi penyesuaian, atau fungsi manfaat.Fungsi ini berkaitan dengan sarana tujuan. Di sini sikap merupakan sarana untuk mencapai tujuan. Orang memandang sampai sejauh mana objek sikap dapat digunakan sebagai sarana dalam mencapai tujuan. Bila objek sikap dapat membantu seseorang dalam mencapai tujuannya, maka orang akan bersikap positif terhadap objek sikap tersebut. Demikian sebaliknya bila objek sikap menghambat dalam pencapaian tujuan, maka orang akan bersikap negatif terhadap objek sikap tersebut. Fungsi ini juga disebut fungsi manfaat, yang artinya sampai sejauh mana manfaat objek sikap dalam mencapai tujuan. Fungsi ini juga disebut sebagai fungsi penyesuaian, artinya sikap yang diambil seseorang akan dapat menyesuaikan diri secara baik terhadap sekitarnya.
2. Fungsi pertahanan ego, Ini merupakan sikap yang diambil oleh seseorang demi untuk mempertahankan ego atau akunya. Sikap diambil seseorang pada waktu orang yang bersangkutan terancam dalam keadaan dirinya atau egonya, maka dalam keadaan terdesak sikapnya dapat berfungsi sebagai mekanisme pertahanan ego. 3. Fungsi ekspresi nilai. Sikap yang ada pada diri seseorang merupakan jalan bagi individu untuk mengekspresikan nilai yang ada dalam dirinya. Dengan mengekspresikan diri seseorang akan mendapatkan kepuasan dan dapat menunjukkan keadaan dirinya. Dengan mengambil nilai sikap tertentu, akan dapat menggambarkan sistem nilai yang ada pada individu yang bersangkutan. 4. Fungsi pengetahuan. Fungsi ini mempunyai arti bahwa setiap individu mempunyai dorongan untuk ingin tahu.
Bringham dalam Azwar (2000:138) menjelaskan tipe ukuran sikap yang paling sering dipakai adalah questioner self-report yang disebut skala sikap dan biasanya meliputi respon setuju atau tidak dalam beberapa kelompok-kelompok. Ukuran self-report mudah digunakan namun ukuran itu dapat memiliki sifat kemenduaan (ambiguity) atau adanya ukuran lain. Sikap dari skala sikap ini adalah isi pernyataan yang berupa pernyataan langsung yang jelas tujuan ukuran atau pernyataan tidak langsung yang kurang jelas untuk tujuan ukurannya bagi responde
2. Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional
Pemerintah sering melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.
Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan.
Kesalahan-kesalahn itu antara lain : mengambil jalan pintas daolam pembelajaran, menunggu peserta didik nerperilaku negatif, menggunakan destruktif disiplin, mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik, merasa diri paling pandai di kelasnya, tidak adil (diskriminatif), serta memaksakan hak peserta didik (Mulyasa,2005:20).
Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni: kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik, kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik, kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam, kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Sikap dikatakan sebagai suatu respons evaluatif. Respon hanya akan timbul, apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang dikehendaki adanya reaksi individual. Respon evaluatif berarti bahwa bentuk reaksi yang dinyatakan sebagai sikap itu timbul didasari oleh proses evaluasi dalam diri individu yang memberi kesimpulan terhadap stimulus dalam bentuk nilai baik buruk, positif negati, menyenangkan-tidak menyenangkan, yang kemudian mengkristal sebagai potensi reaksi terhadap objek sikap (Azwar, 2000: 15).Sedangkan perilaku merupakan bentuk tindakan nyata seseorang sebagai akibat dari adanya aksi respon dan reaksi. Menurut Mann dalam Azwar (2000) sikap merupakan predisposisi evaluatif yang banyak menentukan bagaimana individu bertindak, akan tetapi sikap dan tindakan nyata seringkali jauh berbeda. Hal ini dikarenakan tindakan nyata tidak hanya ditentukan oleh sikap semata namun juga ditentukan faktor eksternal lainnya.
Menurut penuturan R.Tantiningsih dalam Wawasan 14 Mei 2005, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar beberapa sikap dan perilaku menyimpang dalam dunia pendidikan dapat hindari, diantaranya: Pertama, menyiapakan tenaga pendidik yang benar-benar profesional yang dapat menghormati siswa secara utuh. Kedua, guru merupakan key succes factor dalam keberhasilan budi pekerti. Dari guru siswa mendapatkan action exercise dari pembelajaran yang diberikan. Guru sebagai panutan hendaknya menjaga image dalam bersikap dan berperilaku. Ketiga, Budi pekerti dijadikan mata pelajaran khusus di sekolah. Kempat, adanya kerjasama dan interaksi yang erat antara siswa, guru (sekolah), dan orang tua.Terkait dengan hal di atas, Hasil temuan dari universitas Harvard bahwa 85 % dari sebab-sebab kesuksesan, pencapaian sasaran, promosi jabatan, dan lain-lain adalah karena sikap-sikap seseorang. Hanya 15 % disebabkan oleh keahlian atau kompetensi teknis yang dimiliki (Ronnie, 2005:62).Namun sayangnya justru kemampuan yang bersifat teknis ini yang menjadi primadona dalam istisusi pendidikan yang dianggap modern sekarang ini. Bahkan kompetensi teknis ini dijadikan basis utama dari proses belajar mengajar. Jelas hal ini bukan solusi, bahkan akan membuat permasalahan semakin menjadi. Semakin menggelembung dan semakin sulit untuk diatasi.
Menurut Danni Ronnie M ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik.Jika para pendidik menyadari dan memiliki menerapkan 16 pilar pembangunan karakter tersebut jelas akan memberikan sumbangsih yang luar biasa kepada masyarakat dan negaranya.Ketiga, kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. Pelajaran budi pekerti sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap, lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. Namun realitas di lapangan pelajaran yang didapat siswa kabanyakan hanya dijejali berbagai materi. Sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan.

B. Sasaran Sikap Profesional
1. Sikap Terhadap Peraturan Perundag-Undang
Pada butir sembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan bahwa: “Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan “ (PGRI, 1973). Guru merupakan unsur aparatur negara dan abdi negara. Karena itu, guru mutlak perlu mengetahui kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan, sehingga dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan yang merupakan kebijaksanaan tersebut. Untuk menjaga agar guru Indonesia tetap melaksanakan ketentuan-ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan, Kode Etik Guru Indonesia mengatur hal tersebut, seperti yang tertentu dalam dasar kesembilan dari kode etik guru. Dengan demikian setiap guru Indonesia harus tunduk dan taat terhdap aturan-aturan pemerintah.
2. Sikap Terhadap Organisasi Profesi
Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian.
Dalam dasar keenam dari Kode Etik ini dengan gamblang juga dituliskan, bahwa Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan , dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
3. Sikap Terhadap Teman Sejawat
Dalam ayat 7 Kode Etik Guru disebutkan bahwa “Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial.”
Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni hubungan formal, dan hubungan kekeluargaan. Hubungan formal ialah hubungan yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan. Sedangkan hubungan kekeluargaan ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan,baik dalam lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menunjung tercapainya keberhasilan anggota profesi.
a. Hubungan Guru Berdasarkan Lingkungan Kerja
Sikap profesional yang perlu ditumbuhkan oleh guru adalah sikap ingin bekerja sama, saling harga menghargai, saling pengertian, dan rasa tanggung jawab.
b. Hubungan Guru Berdasarkan Lingkungan Keseluruhan
Guru harus menumbuhkan sikap profesionalnya tidak hanya di tempat kerja tetapi juga di tempat lingkungan keseluruhan.

4. Sikap Terhadap Anak Didik
Dalam Kode Etik Guru Indonesia dengan jelas dituliskan bahwa : Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila. Tujuan pendidikan nasional dengan jelas dapat dibaca dalam UU No. 2/1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yakni membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila. Prinsip yang lain adalah membimbing peserta didik, bukan mengajar, atau mendidik saja. Pengertian membimbing seperti dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, dalam sistem amongnya. Tiga kalimat padat yang terkenal dari sistem itu adalah ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani. Ketiga kalimat itu mempunyai arti bahwa pendidikan harus dapat memberi contoh, harus dapat memberikan pengaruh, dan harus dapat mengendalikan peserta didik. Dalam tut wuri terkandung maksud membiarkan peserta didik menuruti bakat dan kodratnya sementara guru memperhatikannya. Dalam handayani berarti guru mempengaruhi peserta didik, dalam arti membimbing atau mengajarnya.
5. Sikap Terhadap Tempat Kerja
Untuk menciptakan suasana kerja yang baik ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu : (a) guru sendiri, (b) hubungan guru dengan orang tua dan masyarakat sekeliling. Dan dalam Kode Etik pun berbunyi : “ Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar”
6. Sikap Terhadap Pemimpin
Kerja sama harus ada agar terciptanya kemajuan bersama dan sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif.
7. Sikap Terhadap Pekerjaan
Dalam butir keenam Kode Etik Guru Indonesia yang berbunyi : Guru secara pribadi dan bersama-sama, mengembangkan dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya.
8. Pengembangan Sikap Pofesional
1. Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan
2. Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan.
C. Pengembangan Sikap Keprofesionalan Guru
Pengembangan terhadap guru merupakan hal mendasar dalam proses pendidikan. Saat ini guru dianggap sebuah profesi yang sejajar dengan profesi yang lain, sehingga seorang guru dituntut bersikap profesional dalam melaksanakan tugasnya. Guru yang profesional adalah “guru yang mempunyai sejumlah kompetensi yang dapat menunjang tugasnya yang meliputi kompetensi pendagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial maupun kompetensi pribadi”. Dari kompetensi tersebut guru dapat menciptakan suasana.
• Profesi adalah suatu pekerjaan yang dalammelaksanakan tugasnya memerlukan/menuntutkeahlian (expertise), menggunakan teknik-teknikilmiah, serta dedikasi yang tinggi
• Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yangdilakukan oleh seseorang dan menjadi sumberpenghasilan kehidupan yang memerlukankeahlian, kemahiran, dan kecakapan yangmemenuhi standar mutu atau norma tertentuserta memerlukan pendidikan profesi.
• Sikap Profesional Keguruan adalah sikap seorang guru dalammenjalankan pekerjaannya yangmencakup keahlian, kemahiran, dankecakapan yang memenuhi standarmutu atau norma tertentu sertamemerlukan pendidikan profesikeguruan.
Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya. Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.

Kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang guru
1. Kompetensi pedagogik
Kompetensi ini terdiri dari lima subkompetensi, yaitu
• memahami peserta didik secara mendalam,
• merancang pembelajaran, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan pembelajaran,
• melaksanakan pembelajaran,
• merancang dan melaksanakan evaluasi pembelajaran dan,
• mengembangkan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensinya.

2. Kompetensi kepribadian.
Kompetensi ini terdiri dari lima subkompetensi, yaitu
• Kepribadian yang mantap dan stabil,
• Dewasa,
• Arif,
• Berwibawa,
• Dan berakhlak mulia.
3. Kompetensi sosial.
Kompetensi ini memiliki tiga subranah.
• Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik.
• Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan sesama pendidik dan tenaga kependidikan.
• Mampu berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan orang tua /wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
4. Kompetensi profesional.
Kompetensi ini terdiri dari dua ranah subkompetensi.
• Subkompetensi menguasai substansi keilmuan yang terkait dengan bidang studi memiliki indikator esensial : memahami materi ajar yang ada dalam kurikulum, memahami struktur, konsep dan metode keilmuan yang menaungi atau koheren dengan materi ajar, memahami hubungan konsep antarmata pelajaran terkait, dan menerapkan konsep – konsep keilmuan dalam kehidupan sehari – hari.
• Subkompetensi menguasai struktur dan metode keilmuan memiliki indikator esensial menguasai langkah – langkah penelitian dan kajian kritis untuk memperdalam pengetahuan/materi bidang studi.

Sebagai guru yang berkompeten harus memiliki :
1. Pemahaman terhadap karakteristik peserta didik,
2. Penguasaan bidang studi, baik dari sisi keilmuan maupun kependidikan,
3. Kemampuan penyelenggaraan pembelajaran yang mendidik,
4. Kemauan dan kemampuan mengembangkan profesionalitas dan kepribadian secara berkelajuan.

Ada beberapa Sikap Profesiaonal Guru yaitu :
• Sikap terhadap peratuan perundang-undangan
• Sikap terhadap organisasi profesi :
• Sikap terhadap teman sejawat
• Sikap terhadap anak didik
• Sikap terhadap tempat kerja
• Sikap terhadap pemimpin
• Sikap terhadap pekerjaan

Terdapat Pengembangan Sikap Profesional Guru yaitu :
1. Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di Pengembangan sikap selama pendidikan prajabatan. Calon guru dididik dalam berbagaipengetahuan, sikap danketerampilan yang diperlukan dalampekerjaannya nanti. Merupakanpendidikan persiapan mahasiswantuk meniti karir dalam bidangpendiikan dan pengajaran.
2. Pengembangan sikap selama dalam jabatan
Pengembangan sikap professional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya.

Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru, perlu adanya paradigma baru untuk melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21 yaitu; (1) memiliki kepribadian yang matang dan berkembang; (2) penguasaan ilmu yang kuat; (3) keterampilan untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi; dan (4) pengembangan profesi secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan profesi guru yang profesional.
Akadum (1999) juga mengemukakan bahwa ada lima penyebab rendahnya profesionalisme guru; (1) masih banyak guru yang tidak menekuni profesinya secara total, (2) rentan dan rendahnya kepatuhan guru terhadap norma dan etika profesi keguruan, (3) pengakuan terhadap ilmu pendidikan dan keguruan masih setengah hati dari pengambilan kebijakan dan pihak-pihak terlibat. Hal ini terbukti dari masih belum mantapnya kelembagaan pencetak tenaga keguruan dan kependidikan, (4) masih belum smooth-nya perbedaan pendapat tentang proporsi materi ajar yang diberikan kepada calon guru, (5) masih belum berfungsi PGRI sebagai organisasi profesi yang berupaya secara makssimal meningkatkan profesionalisme anggotanya. Kecenderungan PGRI bersifat politis memang tidak bisa disalahkan, terutama untuk menjadi pressure group agar dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Namun demikian di masa mendatang PGRI sepantasnya mulai mengupayakan profesionalisme para anggotanya.
Dengan melihat adanya faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru, pemerintah berupaya untuk mencari alternative untuk meningkatkan profesi guru. Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru, Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diantaranya meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi.
Selain diadakannya penyetaraan guru-guru, upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah program sertifikasi. Program sertifikasi telah dilakukan oleh Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Agama Islam (Dit Binrua) melalui proyek Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar (ADB Loan 1442-INO) yang telah melatih 805 guru MI dan 2.646 guru MTs dari 15 Kabupaten dalam 6 wilayah propinsi yaitu Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Kalimantan Selatan (Pantiwati, 2001).
Selain sertifikasi upaya lain yang telah dilakukan di Indonesia untuk meningkatkan profesionalisme guru, misalnya PKG (Pusat Kegiatan Guru, dan KKG (Kelompok Kerja Guru) yang memungkinkan para guru untuk berbagi pengalaman dalam memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi dalam kegiatan mengajarnya (Supriadi, 1998).
Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yang terus menerus. Dalam proses ini, pendidikan prajabatan, pendidikan dalam jabatan termasuk penataran, pembinaan dari organisasi profesi dan tempat kerja, penghargaan masyarakat terhadap profesi keguruan, penegakan kode etik profesi, sertifikasi, peningkatan kualitas calon guru, imbalan, dll secara bersama-sama menentukan pengembangan profesionalisme seseorang termasuk guru.
Dari beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah di atas, faktor yang paling penting agar guru-guru dapat meningkatkan kualifikasi dirinya yaitu dengan menyetarakan banyaknya jam kerja dengan gaji guru. Program apapun yang akan diterapkan pemerintah tetapi jika gaji guru rendah, jelaslah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya guru akan mencari pekerjaan tambahan untuk mencukupi kebutuhannya

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan bahwa: Seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission).Guru juga harus bersikap profesional dan bertanggung jawab atas jabatan yang telah ia miliki. Dan dalam menjalankan tugasnya guru pun harus mengetahui Kode etik guru yang merupakan pedoman mengatur hubungan guru dengan teman kerja, murid dan wali murid, pimpinan dan masyarakat serta dengan misi tugasnya.
Dengan penjelasan-penjelasan yang ada tersebut maka menjadi seorang guru itu harus mengetahui terlebih dahulu apa itu arti sebuah profesi keguruan beserta syarat-syaratnya dan bagaimana untuk menjadi seorang guru yang profesional yang memiliki jiwa pengajar yang berlandaskan dengan aturan-aturan yang telah ada dalam Undang-Undang Kependidikan. Selain itu untuk menjadi seorang guru harus memiliki etika yang baik serta sikap profesional keguruan.

B. SARAN
Guru dan calon guru perlu mengetahui apa arti sebuah profesi keguruan, syarat-syarat untuk menjadi seorang guru yang profesional karena mereka adalah calon tenaga pengajar yang akan memberikan ilmu mereka kepada anak-anak bangsa. Seorang guru adalah contoh bagi semua murid-muridnya,karena itu mereka harus benar-benar mengerti bagaimana arti dari sebuah profesi keguruan yang mereka lakukan sekarang atau nanti agar mereka tidak salah mengartikan profesi untuk mengajar tersebut dan agar mereka bisa menyadari pentingnya menjadi guru yang profesional.
Menjadi seorang guru juga harus memiliki sikap yang profesional di bidangnya tersebut yakni mengajar. Karena seorang guru akan berdiri sendiri di depan kelas untuk memberikan ilmu kepada murid-muridnya tanpa bantuan seorang asisten atau sejenisnya. Jadi segala sikap yang baik dan buruk akan dilihat oleh para murid, karena seorang guru adalah panutan dari semua murid.

DAFTAR PUSTAKA

Dwi Siswoyo, Drs., Buku Materi Pokok 3. Peserta didik dan pendidik, Pengantar Ilmu Pendidikan.
Redja Mudyahardjo, Drs. & Waini Rasyidin, Drs., M.Ed., Buku Materi Pokok 1-3 Dasar-dasar Kependidikan,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Terbuka 1986.
Wakitri,Dra. Dkk., Buku Materi Pokok 1-12., Landasan Kependidikan, Karunika Universitas Terbua, 1990.
Ny. Reostiyah N. K; Masalah-masalah Ilmu Keguruan Pendidikan, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1986.
Soedijarto dan T. Raka Jono., Pendidikan Prajabatan Guru Sekolah Dasar, Siknah Pemikiran dalam rangka menyongsong pendidikan tahun, Makalah, Jakarta, 1991.
Dr. Phil. Eka Darmaputera., Etika Sederhana untuk Semua, PT.BPK Gunung Mulia, Cetakan III, Jakarta,1898.
T. Raka Joni., Wawasan Kependidikan Guru Proyek Pengembangan Pendidikan Guru (P3G), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, 1982.
Landasan Kependidikan (Modul UT)
Drs. Soekarto Indrafachrudi, Drs. Diranwar, Drs. Lamberi., Pengantar Kepemimpian Pendidikan, Badan Penerbit Alda, 1984.
Parsono, Drs. Anton Sukarno, Drs. Djuno R., Drs. Suharno, Mpd.; Landasan Kependidikan, PMAK 8110, Universitas Terbuka, Jakarta.Basuni Suryamihardja, 1986, PGRI Sebagai Organisasi Bagi Guru Bandung: IPBI.
PGRI, 1973 Buku Kenang-kenangan Kongres PGRI ke XIII 21 s.d 25 Nopember 1973 dan HUT PGRI Ke XXIII, Jakarta: PGRI
R. Hermawan S., 1979, Etika Keguruan: Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Guru, Jakarta: PT. Margi Waluyu.
Ronnie M. Dani, 2005. Sikap Manusia Perubahan serta Pengukuran. Jakarta: Ghalia Indonesia.Mulyasa, 2005. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya
R. Tantiningsih, 2005,Seni Mengajar dengan Hati. Jakarta: Alex media Komputindo.
Guru Cengkiling dan Amoral. Koran Harian Sore Wawasan. 14 Mei 2005.
Undang-Undang nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta: BP. Media Pustaka Mandiri
Walgito, Bimo 1990. Psikologi Sosial Suatu Pengantar. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM
Amitai , Etzino. 1969. The Semiprofessions and Their Organization Teachers, Nurses, and Social Workers. New York : Frese Press.
Blau, Peter dan Scott, W. Richard. 1965. Formal Organization. San Francisco: chandler.
Departemen Penerangan Republik Indonesia. 1974. Undang-undang Republik Indonesia No. 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian. Jakarta : Dep. Penerangan R.I.
Gideonse ,Hendrick D..1982. The Necessary Revolution in Teacher Education. Bloomington, Ind : Phi Delta Kappa.
Harris, Chester (ed). 1960. Encyclopedia of Education Research, erd,ed. New York: The Macmillan Company, 1564 pp.
Hermawan, S. R .. 1979. Etika Keguruan. Suatu Pendekatan Terhadap Profesi dan Kode Etik Guru Indonesia. Jakart: PT Margi Hayu.
Howsam, Robert b., et al. 1976. Educating a profession. Washington D.C: American Association of colleges for Teacher Education.
Nasution, S..1987. Sejarah Pendidikan Indonesia. Bandung: Penerbit Jenmars.
National Education Association, Division of Field Service. 1948. The yardstick of a Profession. Dalam Institutes on Professional and publik Relation.washington D.C: The Association.
Ornstein,Allan C , dan Levine, Daniel U..1984. An Introduction to the foundations of Education.. third edition. Boston : Houghto Miffin Company.
PGRI. 1973. Kenang-kenangan Kongrres PGRI XIII 21 s/d 25 November 1973 dan HUT PGRI XXVIII. Jakarta : PGRI.
Sanusi, Achmad, et al. 1991. Studi Pengembangan Model Pendidikan Profesional Tenaga Kependidikan. Bandung : IKIP Bandung Departemen P dan K.
Stinnett,T.M., dan Huggest , Albert J.. 1963. Professional Problems of Teachers. Second Edition. New York: The Macmillan Company.
Suryamihardja, Basuni. 1986. PGRI sebagai Organisasi Profesi bagi Guru. Bandung :IPBI.
Woodring, Paul. 1983. The Persistent Problems of Education. Bloomington, Ind: Phi Delta Kappa.
Hermawan S,R. 1979. Etika Keguruan: Suatu Pendekatan Terhadap Kode Etik Guru Indonesia. Jakarta: PT. Margi Wahyu.
PGRI. 1973. Buku Kenang-Kenangan Kongres PGRI XIII 21 s.d 25 November 1973 dan Hut PGRI XXIII. Jakarta : PGRI.
http://nofri-aganta.blogspot.com/2012/03/pengembangan-sikap-keprofesionalan-guru.html
http://hasnia-profesikeguruan.blogspot.com/2012/01/sikap-profesional-keguruan.html

Add a comment Mei 29, 2013

Puisi terbaru

KESABARAN CINTA

 

Hidup serasa sepi tanpa cinta
Kesepian yang sengat mendalam
Ketika insan mengharapkan cinta
Sesuci air surgawi yang tenang

Setiap insan harus bersabar
Dan teruslah berusaha dan berdoa
Kesabaran cinta begitu berat
Seberat kau kehilangan cinta mu

Kesabaran yang penuh harapan
Kesabaran yang penuh kesedihan
Mampukah aku selalu bersabar ?
Sabar dalam mengharapkan cinta sejati

Mungkinkah ini adalah sebuah ujian
Ujian bagi sang pencinta sejati
Yang selalu mengharapkan cinta
Dengan melewati berbagai rintangan

Oh …Tuhan
Berikanlah hambamu sepercik kekuatan
Kekuatan yang sangat ku harapkan
Dalam kesabaran menunggu cintaku yg iklas nan tulus tuk hati nya dan hati qu…

 

CINTA SEJATI

Cinta sejati bukan berarti harus memiliki…
Tapi merelakan orang yang kita cintai bahagia walau pun dengan orang lain
Itu adalah cinta sejai

cinta sejati bukan dilihat dari materi…
Tapi cinta sejati datang dari kata hati
Apakah kita bisa mencintai dan menerima apa adanya walau dia hanya sebatang kara

Cinta sejati bukanlah sebuah pembodohan…
Bagi orang – orang yang bisa mengerti
Apa arti cinta yang sebenarnya
Cinta adalah sebuah kebodohan…
Bagi orang-orang yang salah mengartikan

Apa itu cinta
Cinta sejati adalah untaian kata yang bisa membuat hati kita merasa bahagia dan di hargai oleh seseorang yang mencintai kita…
Jangan pernah mengorbankan cinta demi harta….
Cinta itu akan lebih berarti bila kita menjalani nya dengan hati dan perasaan yang sempurna…

 

Sumber : http://puisicinta.web.id

Add a comment Februari 8, 2012

RUSA YANG SALAH SANGKA

Di tengah hutan ada sepasang srigala yang mempunyai anak, mereka hidup tenang dan bahagia. Selalu bercanda dengan anak laki-laki mereka, kalau malam mereka bernyanyi dengan suara yang keras sehingga penghuni hutan lainnya meras terganggu.

Harimau si raja hutan tak tahan mendengar suara bising dari keluarga srigala, harimau mengamuk kepada sepasang suami istri srigala itu. Pak srigala mengadakan perlawanan, sebelum terbunuh pak srigala menyarankan anaknya yang masih kecil itu melarikan diri agar selamat.

Dengan penuh ketakutan srigala kecil melompat dan berlari sekuat tenaganya, sementara ayah ibunya berjuang keras melawan harimau yang ganas,  walau akhirnya kedua srigala itu tidak sanggup mengalahkan harimau, mereka  berdua tewas. Sementara ,harimau menderita luka-luka yang cukup parah.

Srigala kecil terus berlari dan berlari hingga akhirnya tenaganya terkuras habis dan ia terjatuh ke tanah dan kakinya terkilir. Pada saat itu sepasang rusa lewat dihadapannya, mereka kasihan melihat srigala kecil yang kelelahan dan kakinya terkilir dan srigala itu di tolong nya.

“ibu, mari kita bawa pulang saja srigaka kecil ini.” Kata pak rusa

“iya pak, nampaknya dia tidak buas!” jawab ibu rusa.

Srigala itu di bawa pulang dan di rawat hingga sembuh. Kebetulan keluarga rusa belum mempunyai anak, keluarga rusa mengangkat srigala itu sebagai anak mereka. Hari berganti tahun berlalu, srigala kecil sekarang menjadi besar. ia juga rajin membantu kedua orang  tua angkatnya, sehingga keluarga rusa semakin menyayanginya.

“ah, tidak sia-sia kita dulu menolongnya, ternyata dia anak yang berbakti.” Kata ibu rusa kepada suaminya.

Setelah hidup  damai  selama bertahun-tahun, ibu rusa akhirnya melahirkan bayi rusa yang sangat sehat. Kelurga itu sangat senang, srigala yang menjadi anak angkat mereka pun turut bergembira mendapat seekor adik.

Beberapa bulan kemudian , ibu rusa sudah harus membantu suaminya menanam padi di sawah. Pada hari itu mereka menitipkan bayi rusa yang masih kecil kepada srigala untuk di tunggui.  Dengan penuh setia srigala itu menunggui adik angkatnya. Nyamuk dan lalat yang mendekati bayi rusa itu pasti di halaunya. Sehingga bayi rusa bisa istirahat dan tidur dengan lelap.

Menjelang tengah hari sepasang rusa pulang dari sawah. Mereka kaget melihat srigala anak angkat mereka berlari-lari dengan keringat bercucuran.

“pak…… bapaaaaak…..! cepat pulang!” teriak srigala dengan keras.

“ada apa ini….?” Tanya pak rusa dengan hati curiga ketika melihat penuh darah di sekitar mulut dan hidung srigala.

”mengapa kau berlari-lari ke sawah ? bukankah aku menyarankan kamu untuk menjaga adikmu di rumah??

Jangan… jangan….!! Apakau kau telah memakan adik kamu sendiri?? Kurang ajar….!!!!” Kata pak rusa.

“pak, lihat mulutnya penuh dengan darah, mungkin anak kita memang telah di makannya! Hajar saja dia, dasar srigala tidak ahu balas budi!!!” kata ibu rusa dengan panik.

Tanpa menunggu penjelasan dari srigala, pak rusa menghajarnya  hingga srigala itu terkapar pingsan di tanah. Lalu dengan penuh amarah yang meluap-luap srigala itu mereka lemparkan ke sungai.

“bapak, cepat tengok anak kita!!” kata bu rusa mengingatkan suaminya.

Mereka segera berlari ke dalam rumah, ternyata bayi mereka masih tertidur di atas ayunan. selamat  tanpa kurang suatu apapun.  Di bawah ayunan terlihat bangkai seekor ular besar uang putus lehernya.

“astaga….. jadi srigala tadi sebenarnya telah menyelamatkan anak kita dari terkaman ular besar ini !” kata ibu rusa.

“ kita telah bertindak gegabah..” kata pak rusa dengan penuh sesal.

Mereka segera menyusuri sungai tempat srigala dihanyutkan, namun usaha mereka sia-sia. Srigala yang malang itu tak pernah lagi di temukan, entah sudah di mati tenggelam atau di makan buaya.

                TAMAT

Add a comment Desember 28, 2011

Kuasai Kecerdasan Emosi Anda!

“Siapapun bisa marah. Marah itu mudah.
Tetapi, marah pada orang yang tepat,
dengan kadar yang sesuai, pada waktu
yang tepat, demi tujuan yang benar, dan
dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah.”

– Aristoteles, The Nicomachean Ethics.

Mampu menguasai emosi, seringkali orang
menganggap remeh pada masalah ini.
Padahal, kecerdasan otak saja tidak
cukup menghantarkan seseorang mencapai
kesuksesan.

Justru, pengendalian emosi yang baik
menjadi faktor penting penentu
kesuksesan hidup seseorang.

Kecerdasan emosi adalah sebuah gambaran
mental dari seseorang yang cerdas dalam
menganalisa, merencanakan dan
menyelesaikan masalah, mulai dari yang
ringan hingga kompleks.

Dengan kecerdasan ini, seseorang bisa
memahami, mengenal, dan memilih
kualitas mereka sebagai insan manusia.
Orang yang memiliki kecerdasan emosi
bisa memahami orang lain dengan baik
dan membuat keputusan dengan bijak.

Lebih dari itu, kecerdasan ini terkait
erat dengan bagaimana seseorang dapat
mengaplikasikan apa yang ia pelajari
tentang kebahagiaan, mencintai dan
berinteraksi dengan sesamanya.

Ia pun tahu tujuan hidupnya, dan akan
bertanggung jawab dalam segala hal yang
terjadi dalam hidupnya sebagai bukti
tingginya kecerdasan emosi yang
dimilikinya.

Kecerdasan emosi lebih terfokus pada
pencapaian kesuksesan hidup yang
*tidak tampak*.

Kesuksesan bisa tercapai ketika
seseorang bisa membuat kesepakatan
dengan melibatkan emosi, perasaan dan
interaksi dengan sesamanya.

Terbukti, pencapaian kesuksesan secara
materi tidak menjamin kepuasan hati
seseorang.

Di tahun 1990, Kecerdasan Emosi (yang
juga dikenal dengan sebutan “EQ”),
dikenalkan melalui pasar dunia.

Dinyatakan bahwa kemampuan seseorang
untuk mengatasi dan menggunakan emosi
secara tepat dalam setiap bentuk
interaksi lebih dibutuhkan daripada
kecerdasan otak (IQ) seseorang.

Sekarang, mari kita lihat, bagaimana
emosi bisa mengubah segala keterbatasan
menjadi hal yang luar biasa….

Seorang miliuner kaya di Amerika
Serikat, Donald Trump, adalah contoh
apik dalam hal ini. Di tahun 1980
hingga 1990, Trump dikenal sebagai
pengusaha real estate yang cukup
sukses, dengan kekayaan pribadi yang
diperkirakan sebesar satu miliar US
dollar.

Dua buku berhasil ditulis pada puncak
karirnya, yaitu “The Art of The Deal
dan Surviving at the Top”
. Namun jalan
yang dilalui Trump tidak selalu
mulus…

Nuzuliani ingat depresi yang melanda dunia
di akhir tahun 1990? Pada saat itu
harga saham properti pun ikut anjlok
dengan drastis. Hingga dalam waktu
semalam, kehidupan Trump menjadi sangat
berkebalikan.

Trump yang sangat tergantung pada
bisnis propertinya ini harus menanggung
hutang sebesar 900 juta US Dollar!
Bahkan Bank Dunia sudah memprediksi
kebangkrutannya.

Beberapa temannya yang mengalami nasib
serupa berpikir bahwa inilah akhir
kehidupan mereka, hingga benar-benar
mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh
diri.

Di sini kecerdasan emosi Trump
benar-benar diuji. Bagaimana tidak,
ketika ia mengharap simpati dari mantan
istrinya, ia justru diminta memberikan
semua harta yang tersisa sebagai ganti
rugi perceraian mereka.

Orang-orang yang dianggap sebagai teman
dekatnya pun pergi meninggalkannya
begitu saja. Alasan yang sangat
mendukung bagi Trump untuk putus asa
dan menyerah pada hidup. Namun itu
tidak dilakukannya.

Trump justru memandang bahwa ini
kesempatan untuk bekerja dan mengubah
keadaan. Meski secara finansial ia
telah kehilangan segalanya, namun ada
“intangible asset” yang tetap
dimilikinya.

Ya, Trump memiliki pengalaman dan
pemahaman
bisnis yang kuat, yang jauh
lebih berharga dari semua hartanya yang
pernah ada!

Apa yang terjadi selanjutnya?

Fantastis, enam bulan kemudian Trump
sudah berhasil membuat kesepakatan
terbesar dalam sejarah bisnisnya.

Tiga tahun berikutnya, Trump mampu
mendapat keuntungan sebesar US$3
Milliar. Ia pun berhasil menulis
kembali buku terbarunya yang diberi
judul “The Art of The Comeback”.

Dalam bukunya ini Trump bercerita
bagaimana kebangkrutan yang menimpanya
justru menjadikannya lebih bijaksana,
kuat dan fokus daripada sebelumnya.

Bahkan ia berpikir, jika saja musibah
itu tidak terjadi, maka ia tidak akan
pernah tahu teman sejatinya dan tidak
akan menjadikannya lebih kaya dari yang
sebelumnya. Luar biasa bukan? :-)

Kecerdasan Emosi memberikan seseorang
keteguhan untuk bangkit dari kegagalan,
juga mendatangkan kekuatan pada
seseorang untuk berani menghadapi
ketakutan.

Tidak sama halnya seperti kecerdasan
otak atau IQ, kecerdasan emosi hadir
pada setiap org & bisa dikembangkan.

Berikut beberapa tips bagaimana cara
mengasah kecerdasan emosi:

1. Selalu hidup dengan keberanian.

Latihan dan berani mencoba hal-hal baru
akan memberikan beragam pengalaman dan
membuka pikiran dengan berbagai
kemungkinan lain dalam hidup.

2. Selalu bertanggung jawab dalam
segala hal.

Ini akan menjadi jalan untuk bisa
mendapatkan kepercayaan orang lain dan
mengendalikan kita untuk tidak mudah
menyerah. “being accountable is being
dependable”

3. Berani keluar dari zona nyaman.

Mencoba keluar dari zona nyaman akan
membuat kita bisa mengeksplorasi banyak
hal.

4. Mengenali rasa takut dan mencoba
untuk menghadapinya.

Melakukan hal ini akan membangun rasa
percaya diri dan dapat menjadi jaminan
bahwa segala sesuatu pasti ada
solusinya.

5. Bersikap rendah hati.

Mau mengakui kesalahan dalam hidup
justru dapat meningkatkan harga diri
kita.

So, kuasailah kecerdasan emosi Nuzuliani!

Karena mengendalikan emosi merupakan
salah satu faktor penting yang bisa
mengendalikan Nuzuliani menuju sukses dan
juga menikmati warna-warni kehidupan. :-)

 

Sumber : Anne Ahira

Add a comment Desember 23, 2011

NIKMATILAH PERBEDAAN

Perbedaan adalah anugrah dari

Yang Maha Kuasa!

 

Lihatlah sekeliling kita, indahnya

warna-warni bunga, warna-warni satwa,

dan segala keragaman lain yang

menghiasi dunia.

 

Bayangkan kalau kita hanya mengenal

warna hitam saja! Alangkah gelapnya

dunia ini!🙂

 

Tanpa adanya perbedaan dan warna-warni,

kita tidak akan merasakan hidup

semeriah dan seindah sekarang ini,

betul?!🙂

 

Begitu pun dengan kehidupan, setiap

insan selalu berhadapan dengan segala

macam perbedaan dan warna-warni

kehidupan.

 

Tapi sayang, tidak semua orang mampu

melihat perbedaan sebagai kekayaan.

Banyak orang merasa tersiksa karena

perbedaan alias mereka tidak mampu

menikmatinya.

 

Berbagai bentuk kejahatan dimulai hanya

karena perbedaan. Entah itu perbedaan

warna kulit, agama, suku bangsa,

prinsip, atau sekadar pendapat.

 

Sebenarnya, perbedaan bukanlah sesuatu

yang bisa dihindari. Setiap orang lahir

dengan perbedaan dan keunikannya

masing-masing. Mulai dari perbedaan

fisik, pola pikir, kesenangan, dan

lain-lain.

 

Tidaklah mungkin segala sesuatu hal sama.

Bahkan kesamaan pun sebenarnya tidak

selalu menguntungkan.

 

Coba bayangkan, seandainya semua orang

memiliki kemampuan memimpin, lantas

siapa yang mau dipimpin? Kalau semua

orang menjadi orang tua, siapa yang mau

jadi anak? Siapa juga yang akan

menerima sedekah, jika semua orang

ditakdirkan kaya?

 

Perbedaan ada bukan untuk dijadikan

alat perpecahan. Banyak hal positif

yang bisa kita peroleh dengan perbedaan.

 

Namun, tentu saja semua itu harus

bersyarat. Nah, syarat apa saja yang

harus dipenuhi?

 

Berikut di antaranya… 1. Cara pandang kita terhadap perbedaan.

 

Berpikirlah positif dengan mensyukuri

adanya perbedaan. Anggaplah perbedaan

sebagai kekayaan. Cara pandang yang

benar akan melahirkan sikap yang tepat.

 

Ada baiknya kita mencari persamaan

terlebih dahulu, sebelum mencari

perbedaan.

 

2. Kelola perbedaan sebaik mungkin.

 

Musyawarah untuk mencapai kesepakatan

adalah jalan yang tepat untuk mengelola

perbedaan.

 

Berlatihlah utk menghargai, menerima,

menjalankan dan bertanggungjawab

terhadap keputusan bersama, meski

berlawanan dengan ide awal kita.

 

3. Selalu posisikan segala sesuatu

pada tempatnya.

Saat bekerja sama dengan orang lain,

salurkan potensi, karakter, minat yang

berbeda-beda pada posisi ‘yang tepat’.

 

Cara ini akan mendorong tercapainya

tujuan bersama dan mendukung

pengembangan potensi masing-masing

individu.

 

4. Jangan pernah meremehkan orang lain.

 

Apapun dan bagaimana pun kondisi atau

pendapat orang lain, perlakukan mereka

selayaknya diri kita ingin diperlakukan.

 

Anggaplah semua orang penting. Mereka

memiliki peran tersendiri, yg bisa jadi

tdk bisa digantikan oleh orang lain.

 

5. Jangan menonjolkan diri atau sombong.

 

Merasa diri paling penting dan lebih

baik daripada orang lain *tidak akan*

menambah nilai lebih bagi kita. Toh

kita tidak bisa hidup tanpa orang lain.

 

Jadilah beton dalam bangunan. Meski

tidak nampak, namun sesungguhnya ialah

yang menjadi penyangga kokohnya sebuah

bangunan.🙂

 

6. Cari sumber informasi yang terjamin

    kebenarannya.

 

Perbedaan bisa muncul karena informasi

yang salah. Oleh sebab itu, pastikan

sumber informasi kita bisa terjamin dan

dapat dipercaya kebenarannya. Lebih

bagus lagi jika disertai bukti yang

mendukung.

 

7. Koreksi diri sendiri sebelum

    menyalahkan orang lain.

 

Menyalahkan orang lain terus menerus

tidak akan banyak membantu kita. Bisa

jadi kesalahan sebenarnya terletak pada

diri kita. Karenanya, koreksi diri

sendiri terlebih dahulu merupakan

langkah yang paling bijaksana.

 

So, berhentilah menyesalkan perbedaan.

Karena jika tidak, anda akan

kehilangan sumber kebahagiaan!🙂

 

SUMBER : ANNA AHIRA

2 komentar Desember 23, 2011

KISAH NABI MUHAMAD SAW

Semasa umat manusia dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka’abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang belum pernah wujud sebelumnya.

Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa’ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga wanita dari Banu Sa’ad yang bernama Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu menerima baginda kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan sesudah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah dan membawa pulang semula ke pedalaman.

Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad

Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyedari akan kejadian tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut lalu mengkhabarkan kepada Halimah. Halimah lantas memeriksa keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang aneh ditemui.

Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu baginda mendapat kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik daripada Halimah dan keluarganya. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya Abdul Mutallib di Makkah.

Datuk baginda, Abdul Mutallib amat menyayangi baginda. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan saudara-maranya, mereka ditemani oleh Umm Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh bapa baginda. Baginda ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah serta tempat dia dikuburkan.

Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Makkah. Dia dan rombongannya kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka datang dahulu. Namun begitu, ketika mereka sampai di Abwa, ibunya pula jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan di situ juga.
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Umm Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu. Tinggallah baginda dengan datuk yang dicintainya dan bapa-bapa saudaranya.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk” (Surah Ad-Dhuha, 93: 6-7)

Abdul Mutallib Wafat

Kegembiraannya bersama datuk baginda tidak bertahan lama. Ketika baginda berusia lapan tahun, datuk baginda pula meninggal dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar buat Bani Hashim. Dia mempunyai keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang bernas, terhormat dan berpengaruh dikalangan orang Arab. Dia selalu menyediakan makanan dan minuman kepada para tetamu yang berziarah dan membantu penduduk Makkah yang dalam kesusahan.
Muhammad diasuh oleh Abu Talib

Selepas kewafatan datuk baginda, Abu Talib mengambil alih tugas bapanya untuk menjaga anak saudaranya Muhammad. Walaupun Abu Talib kurang mampu berbanding saudaranya yang lain, namun dia mempunyai perasaan yang paling halus dan terhormat di kalangan orang-orang Quraisy.Abu Talib menyayangi Muhammad seperti dia menyayangi anak-anaknya sendiri. Dia juga tertarik dengan budi pekerti Muhammad yang mulia.

Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung ke Syam untuk berdagang sewaktu Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan seorang rahib Kristian yang telah dapat melihat tanda-tanda kenabian pada baginda. Lalu rahib tersebut menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke daerah Syam kerana dikhuatiri orang-orang Yahudi akan menyakiti baginda sekiranya diketahui tanda-tanda tersebut. Abu Talib mengikut nasihat rahib tersebut dan dia tidaak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia pulang segera ke Makkah dan mengasuh anak-anaknya yang ramai. Muhammad juga telah menjadi sebahagian dari keluarganya. Baginda mengikut mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak oleh penyair-penyair terkenal dan pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.

Baginda juga diberi tugas sebagai pengembala kambing. Baginda mengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Baginda selalu berfikir dan merenung tentang kejadian alam semasa menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu baginda jauh dari segala pemikiran manusia nafsu manusia duniawi. Baginda terhindar daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan iaitu “Al-Amin”.

Selepas baginda mula meningkat dewasa, baginda disuruh oleh bapa saudaranya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid, seorang peniaga yang kaya dan dihormati. Baginda melaksanakan tugasnya dengan penuh ikhlas dan jujur. Khadijah amat tertarik dengan perwatakan mulia baginda dan keupayaan baginda sebagai seorang pedagang. Lalu dia meluahkan rasa hatinya untuk berkahwin dengan Muhammad yang berusia 25 tahun ketika itu. Wanita bangsawan yang berusia 40 tahun itu sangat gembira apabila Muhammad menerima lamarannya lalu berlangsunglah perkahwinan mereka berdua. Bermulalah lembaran baru dalam hidup Muhammad dan Khadijah sebagai suami isteri.

Penurunan Wahyu Pertama

Pada usia 40 tahun, Muhammad telah menerima wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi sekelian alam. Ketika itu, baginda berada di Gua Hira’ dan sentiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat manusia pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.

“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-’Alaq, 96: 1)

Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar lalu diselimuti oleh Khadijah yang cuba menenangkan baginda. Apabila semangat baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah tentang kejadian yang telah berlaku.

Kemudian baginda mula berdakwah secara sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya untuk mengelakkan kecaman yang hebat daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala. Khadijah isterinya adalah wanita pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin Abi Talib adalah lelaki pertama yang beriman dengan ajaran baginda.Dakwah yang sedemikian berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.

Dakwah Secara Terang-terangan

Setelah turunnya wahyu memerintahkan baginda untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula menyebarkan ajaran Islam secara lebih meluas.

“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr, 15:94)

Namun begitu, penduduk Quraisy menentang keras ajaran yang dibawa oleh baginda. Mereka memusuhi baginda dan para pengikut baginda termasuk Abu Lahab, bapa saudara baginda sendiri. Tidak pula bagi Abu Talib, dia selalu melindungi anak saudaranya itu namun dia sangat risau akan keselamatan Rasulullah memandangkan tentangan yang hebat dari kaum Quraisy itu. Lalu dia bertanya tentang rancangan Rasulullah seterusnya. Lantas jawab Rasulullah yang bermaksud:

“Wahai bapa saudaraku, andai matahari diletakkan diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, agar aku menghentikan seruan ini, aku tidak akan menghentikannya sehingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau aku binasa kerananya”

Baginda menghadapi pelbagai tekanan, dugaan, penderitaan, cemuhan dan ejekan daripada penduduk-penduduk Makkah yang jahil dan keras hati untuk beriman dengan Allah. Bukan Rasulullah sahaja yang menerima tentangan yang sedemikian, malah para sahabatnya juga turut merasai penderitaan tersebut seperti Amar dan Bilal bin Rabah yang menerima siksaan yang berat.

Kewafatan Khadijah dan Abu Talib

Rasulullah amat sedih melihat tingkahlaku manusia ketika itu terutama kaum Quraisy kerana baginda tahu akan akibat yang akan diterima oleh mereka nanti. Kesedihan itu makin bertambah apabila isteri kesayangannya wafat pada tahun sepuluh kenabiaannya. Isteri bagindalah yang tidak pernah jemu membantu menyebarkan Islam dan mengorbankan jiwa serta hartanya untuk Islam. Dia juga tidak jemu menghiburkan Rasulullah di saat baginda dirundung kesedihan.

Pada tahun itu juga bapa saudara baginda Abu Talib yang mengasuhnya sejak kecil juga meninggal dunia. Maka bertambahlah kesedihan yang dirasai oleh Rasulullah kerana kehilangan orang-orang yang amat disayangi oleh baginda.

Penghijrahan Ke Madinah

Tekanan daripada orang-orang kafir terhadap perjuangan Rasulullah semakin hebat selepas pemergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan ancaman daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.

Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan Rasulullas s.a.w sendiri.

Negara Islam Madinah

Negara Islam yang baru dibina di Madinah mendapat tentangan daripada kaum Quraisy di Makkah dan gangguan dari penduduk Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya pentadbiran dan perundangan yang berlandaskan syariat Islam. Baginda dilantik sebagai ketua agama, tentera dan negara. Semua rakyat mendapat hak yang saksama. Piagam Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan hubungan antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam adalah berdasarkan wahyu dan dijadikan dasar undang-undang Madinah.

Islam adalah agama yang mementingkan kedamaian. Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi baginda ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626 M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri dengan kemenangan.

Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin Makkah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diiktiraf. Nabi Muhammad s.a.w. juga telah berjaya membuka semula kota Makkah pada 630 M/9 H bersama dengan 10 000 orang para pengikutnya.

Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ialah Perang Tabuk dan baginda dan pengikutnya berjaya mendapat kemenangan. Pada tahun berikutnya, baginda telah menunaikan haji bersama-sama dengan 100 000 orang pengikutnya. Baginda juga telah menyampaikan amanat baginda yang terakhir pada tahun itu juga. Sabda baginda yang bermaksud:

“Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kamu Maha Esa dan kamu semua adalah daripada satu keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia manusia di antara kamu di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara dan kamu tidak akan sesat selama-lamanya selagi kamu berpegang teguh dengan dua perkara itu, iaitu kitab al-Quran dan Sunnah Rasulullah.”

Kewafatan Nabi Muhammad s.a.w

Baginda telah wafat pada bulan Jun tahun 632 M/12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah. Baginda wafat setelah selesai melaksanakan tugasnya sebagai rasul dan pemimpin negara. Baginda berjaya membawa manusia ke jalan yang benar dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab, berilmu dan berkebolehan. Rasulullah adalah contoh terbaik bagi semua manusia sepanjang zaman.

Add a comment Desember 22, 2011

KELEDAI YANG JUMAWA

Dahulu ada seekor keledai dan seekor srigala yang berteman baik, mereka bersama-sama berkelana untuk mencari makan.

“hari ini aku ingin makan buah semangka” kata si keledai.

“ ayo kita pergi mencari kebun semangka,” kata srigala.

Keledai dan srigala mencari di semua tempat dan akhirnya mereka menemukan sebuah kebun yang penuh dengan buah semangka besar-besar dan matang. Keduanya menunggu malam tiba sehingga mereka dapat memasukinya tanpa terlihat orang.

“wah, lihatlah semua semangka yang matang itu.” kata si keledai.

Dengan cepat keledai memakan buah semangka sebanyak yang dapat ia lakukan. Setelah keledai dan srigala mengisi perutnya srigala mengajak pulang si keledai.

“ ayo kita kembali, nanti kita terlambat.” kata srigala.

“ mengapa kita harus kembali terburu-buru? Angin berhembus, bintang-bintang berkelip di langit, bulan bersinar dengan terang, Aku belum ingin kembali. Ternyata makan semua buah semangka yang lezat ini membuatku merasa sangat nyaman, dan aku merasa ingin bernyanyi.” Kata keledai.

Dengan lagak jumawa si keledai pun menyanyikan sebuah lagu,

“ hentikan, jangan berisik, kamu bodoh. Para petani akan mendengar dan akan datang kesini,” teriak srigala.

“Apa, berisik kata kamu. Kamu sebut nyanyianku yang merdu ini sebagai berisik??. Aku rasa kamu iri pada aku, karena kamu tak dapat menyanyi seperti aku.!!” kata keledai dengan marah.

“kalau begitu kamu menyanyilah terus. Aku lebih baik menunggu di luar kebun,” kata srigala dengan cepat-cepat keluar dari kebun.

“hii, haw, hoek, hoeek” teriak si keledai.

Keledai mengira suaranya sangat merdu. Dia bahkan menuduh temannya ,kalau srigala tak bisa menyanyi seperti dirinya. Ketika Pak Tani mendengar suara keledai yang melengking, dia merasa heran.

“ ada apa ya? Siapa yang bersuara di kebun aku….???  Sialan,…..!!!! ada seseorang atau sesuatu yang memasuki kebun semangka aku, awas ya..! tidak akan aku ampuni kau!! “ Kata pak tani sambil berlari cepat ke arah kebun.

“kamu pencuri !!! Rasakan pukulan ini, karena kamu telah mencuri semangka aku..!” teriak pati sambil memukul keledai.

Bak!! Buuk!! Baaak!! Buuuk!!! Berkali-kali pak tani memukuli si keledai. Seketika keledai pun jatuh akibat pukulan pak tani.

“ bagaimana? Mati kamu!! Hem, aku masih banyak pekerjaan, terpaksa kau aku tinggalkan saja di sini” kata pak tani.

Setelah pak tani meninggalkannya , srigala datang mendekati si keledai.

“bukankah  tadi ku telah memperingatimu????” kata srigala

“yah, karena kebodohan aku sendiri yang menyebabkan aku di pukuli,” rintih keledai menahan sakit sambil berusaha berdiri.

“Lain kali aku akan mendengarkan nasihat baik kamu yang di berikan kepadaku.” Kata keledai.

Add a comment Desember 15, 2011

CERITA ANAK

CERITA ANAK.

Add a comment Desember 5, 2011

Laman

Kategori

Tautan

Meta

Kalender

Desember 2016
S S R K J S M
« Mei    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Most Recent Posts